Shantica mengajarkan kepada kita bahwa proses berwirausaha adalah proses belajar dan bekerja sama serta tidak mengenal batas usia. Dia tidak bisa membuat pola dan menjahit, tidak mengenal seluk-beluk produksi pakaian, belum pernah berburu material baju, dan tidak mengerti pemasaran, tetapi dia nekat memasuki bisnis produksi baju anak. Ya, dia memiliki rekan kerja yang andal, perancang busana Sebastian Gunawan dan istrinya Christina Panarese, dan adik iparnya, Herman, yang pernah menjadi asisten Sebastian untuk urusan bisnis.
Shantica mengaku tidak punya ciri-ciri wirausahawan dan berlatar belakang sebagai wartawan di majalah Femina. Tetapi, dia ternyata berani mengambil risiko melakukan sesuatu yang baru, salah satu karakter kunci yang harus dimiliki wirausahawan.
Shantica pun menerima pelajaran yang “berdarah-darah” karena banyak melakukan kesalahan dalam proses produksi. Tapi, itu membuatnya semakin piawai, termasuk dalam berburu materi bahan di Jakarta, Bandung, hingga Bali, sesuatu yang tidak ia kenal sebelumnya.
Proses belajar itu, ternyata ada hasilnya. Ia kini merasa kondisi bisnisnya sudah lebih lumayan. Pasarnya sudah terbuka ke mancanegara. Tetapi, disadarinya, ia tetap masih harus belajar. Baca selengkapnya »
Topik: Ide Bisnis, Inovasi, Tips, Tokoh, Wiraswasta
Komentar Terbaru