You're here: My Business Blogging » Entrepreneur! » Article: Aditya
Nama Wahyu Aditya, pemuda 27 tahun, jadi fokus media baru-baru ini, setelah ia meraih gelar International Young Creative Entrepreneur of The Year yang diselenggarakan British Council.
Di hadapan juri London Film Festival 2007 ia paparkan cita-cita besarnya. Dari bilangan Tebet Raya, Jakarta, di Hello Motion School of Animation and Cinema, ia mendidik murid-muridnya dan juga mengorganisasi Hello Fest, sebuah festival animasi. Ia memiliki cita-cita besar untuk mengembangkan sekolah dan festivalnya. Beberapa tahun lagi ia berharap sudah memiliki institusi animasi. Dan pada 2020 ia berharap mampu menciptakan taman bermain seperti Walt Disney.
Cita-cita besar itu, ternyata berhasil mengalahkan para pesaingnya, di antaranya dari Polandia, Slovenia, Cina, Brazil, dan Lithuania. Ia menjadi anak Indonesia pertama yang memenangkan hal itu.
Prestasi Aditya di kancah internasional, sekali lagi menunjukkan bahwa anak-anak indonesia bisa bersaing dalam industri kreatif internasional. Prestasi Aditya, dan para kreator muda Indonesia lainnya, telah menunjukkan negeri ini punya modal.
Tapi, terus terang, saya agak tertegun membaca tulisan ekonom Faisal Basri di Kompas 19 November dengan judul “Masalah Ada di Internal Pemerintah”. Di antaranya dia menulis:
Pemerintah sudah berbuat banyak untuk memacu investasi baru. Namun, masalah yang menghadang ternyata masih lebih banyak ketimbang yang nyata-nyata telah diselesaikan. Kita juga kerap menyaksikan instansi-instansi pemerintah belum padu dalam memajukan investasi, bahkan saling menyalahkan satu sama lain dan berebut kewenangan yang lebih besar. Keterpaduan langkah pemerintah dalam mengatasi berbagai kendala investasi agaknya jauh lebih penting ketimbang menawarkan insentif-insentif baru. Jadi, sebagian sumber masalah investasi justru berasal dari sisi pemerintah sendiri. Aspek inilah yang bisa segera diatasi. Adapun persoalan-persoalan lain yang menghadang laju investasi kebanyakan bersifat jangka menengah dan jangka panjang. Dalam situasi demikian, agaknya masih sulit mengharapkan investasi riil di sektor produktif akan meningkat secara berarti, dan menjadi ujung tombak utama dalam jangka pendek.
Padahal, kita tahu bahwa industri kreatif memiliki turunan dan didukung oleh industri produktif yang besar. Sehingga, mau tidak mau, masalah ini pun akan saling terkait.
Post to: delicious, Digg, ma.gnolia, Stumbleupon
Search only in this blog
Search across Asia Blogging Network
More? Go to Asia Blogging Network Column section.
Ikuti diskusi, tuliskan komentar Anda.