You're here: My Business Blogging » Entrepreneur! » Article: Industri Kreatif Butuh Dukungan Perbankan
Industri kreatif ternyata termasuk sektor yang kurang mendapat dukungan perbankan. Menurut Direktur Sistem Informasi, Perangkat Lunak, dan Konten Direktur Jenderal Aplikasi Telematika Departemen Komunikasi dan Informasi, penyebab kesulitan tersebut adalah karena tak ada jaminan.
Selain masalah modal dan pinjaman perbankan, industri kreatif juga menghadapi kendala regulasi yang belum mendukung perkembangan industri kreatif, misalnya belum ada peraturan rinci guna mendorong penjualan hasil karya industri kreatif. Hal itulah yang membuat para pengusaha kreatif lebih suka menjual karyanya ke luar negeri.
Pemerintah sendiri nampaknya cukup responsif dengan masalah industri kreatif, khususnya bidang information and communication technology (ICT), ini dengan meminta dukungan perbankan, seperti dikutip dari Koran Tempo berikut.
Pemerintah meminta dukungan perbankan untuk pengembangan industri kreatif information and communication technology (ICT). Sebab, industri kreatif sangat membutuhkan modal untuk pengembangan peranti lunak dan kreativitas. Lolly Amalia, Direktur Sistem Informasi, Perangkat Lunak, dan Konten Direktorat Jenderal Aplikasi Telematika Departemen Komunikasi dan Informatika, mengatakan pemerintah sudah membicarakan hal ini dengan perbankan, tapi belum ada respons yang cukup signifikan. Kalangan industri kreatif kesulitan mendapatkan kredit karena tak ada jaminan. “Perbankan juga harus diubah mindsetnya. Kami sudah bicara untuk memberi kemudahan atau setidaknya ada lembaga penjamin,” kata Lolly di Jakarta kemarin. Selain masalah modal dan pinjaman perbankan, kata Lolly, pelaku usaha industri kreatif masih terhambat sejumlah kendala. Lolly menyebutkan regulasi yang ada juga belum mendukung berkembangnya industri ini, seperti belum adanya peraturan yang rinci guna mendorong penjualan hasil karya industri kreatif. Hal itulah yang membuat para pengusaha kreatif lebih suka menjual karyanya ke luar negeri. Banyak karya perlombaan kreatif dijual di luar negeri, seperti content edukasi yang laris dijual di Inggris dan Malaysia. Begitu juga content game laku di Korea. Tapi, anehnya, ada orang Indonesia yang membeli kembali produk kreatif Indonesia yang sudah diekspor, seperti dari Korea itu. Menurut pengusaha industri kreatif Intellsyss, Thomas Rizal Trika, saat ini banyak individu kreatif Indonesia yang lebih suka bekerja di luar negeri atau menjual karyanya ke luar negeri. “Saya sudah mulai kesulitan merekrut teman-teman yang andal, banyak yang ke luar negeri,” ujarnya. Selain itu, banyak software buatan Indonesia dijual kembali ke Indonesia dengan harga yang jauh lebih tinggi. “Mereka menjual dengan harga yang lebih tinggi. Setelah ditelusuri, itu buatan anak-anak Indonesia juga,” kata Thomas.
Post to: delicious, Digg, ma.gnolia, Stumbleupon
Search only in this blog
Search across Asia Blogging Network
More? Go to Asia Blogging Network Column section.
Ikuti diskusi, tuliskan komentar Anda.