You're here: My Business Blogging » Entrepreneur! » Article: Ecoentrepreneurial City
Satu istilah yang baru saya dengar muncul di harian Kompas, yaitu ecoentrepreneurial city. Saya mencari arti dan maksud kata ini di Wikipedia, namun tidak ada penjelasan.
Istilah ini muncul dari kerja sama Ciputra Foundation dengan Kauffman Foundation untuk mengembangkan peluang pembangunan ecoentrepreneurial city di Indonesia. Secara ideal, kota ini harus menunjukkan keramahan lingkungan yang dilengkapi dengan prasarana bersifat kewirausahaan.
”Artinya, kota ini diharapkan bisa tumbuh tanpa harus memiliki ketergantungan. Misalnya, ketergantungan tenaga listrik yang kini semakin sulit diperoleh harus bisa diganti dengan sumber-sumber tenaga lain,” kata Ir Ciputra, Presiden Komisaris PT Ciputra Development Tbk, di hadapan Wakil Presiden Kauffman Foundation (KF) Judith Cone dalam jumpa pers di Jakarta, Senin (21/1). Ciputra menjelaskan, lokasi kota ini masih dirahasiakan, karena masih menunggu proses perizinan. Namun demikian, kota ini secara idealis akan berisi para wirausahawan yang sungguh mampu menciptakan lapangan kerja. ”Setiap kali berbicara kemiskinan dan pengangguran, hati saya sungguh menangis. Generasi muda terdidik bangsa Indonesia tidak berhasil memperoleh pekerjaan yang pantas dan dianggap rendah oleh bangsa lain,” kata Ciputra. Hal itu terjadi, karena pendidikan formal terlampau sibuk membekali siswa dengan berbagai ilmu pengetahuan, tetapi melupakan aplikasinya. Jembatan antara pembekalan ilmu pengetahuan dan aplikasi inilah yang harus diisi, bukan hanya oleh pemerintah tetapi juga perusahaan swasta. Menurut Ciputra, untuk menjadi negara maju, sebuah negara paling tidak harus memiliki dua persen wirausahawan dari jumlah penduduk. Data menunjukkan, Singapura tahun 2001 sudah memiliki 2,1 persen dan Amerika Serikat pada tahun 1993 sudah mencapai 2,14 persen. Judith mengatakan, pola menciptakan lapangan kerja di dunia sudah berubah. Dulu pembukaan lapangan kerja menjadi tanggung jawab pemerintah. Sekarang semua pihak baik pemerintah, pengusaha, dan lembaga pendidikan bertanggung jawab menciptakan lapangan kerja. Menurut Judith, kota ecoentrepreneurial itu dapat dipadukan dengan permainan yang melatih keberanian untuk mengambil keputusan, khususnya dalam animasi mencapai jenjang wirausaha.
Post to: delicious, Digg, ma.gnolia, Stumbleupon
Search only in this blog
Search across Asia Blogging Network
More? Go to Asia Blogging Network Column section.
Ikuti diskusi Ada 2 komentar untuk artikel ini.
Jusak
Saya masih kurang melihat relevansinya konsep ‘ecoentrepreneurial’ dengan kegiatan bisnis saat ini. Menjadi entrepreneur saja, seseorang di negara kita masih perlu berjuang luar biasa keras, bagaimana bisa kepikiran ‘memikirkan ramah lingkungan’. Tapi mungkin saja bisa kita bersama mendidik agar entrepreneur menjadi eco-entrepreneur. Yang penting kita perlu caranya, step-stepnya, materinya. Kalau banyak institusi yang menawarkan entrepreneur course, saya cukup tertarik untuk mendidik untuk menjadi ‘eco-entrepreneur course’. Ada yang punya bahannya?
January 23rd, 2008 at 9:58 am
Irfan Tualang
Bagus untuk diterapkan khususnya pada generasi muda yang akan mendorong perubahan kultur kerja prouktif, inovatif dari yang kontra produktif sbagaimana sebagian besar PNS dan pegawai BUMN
January 28th, 2008 at 6:09 am