You're here: My Business Blogging » Entrepreneur! » Article: Firman dan Waralaba
Franchising (waralaba) berasal dari bahasa Prancis (kejujuran atau kebebasan) berarti suatu metode melakukan bisnis di mana franchisor memberikan hak untuk melakukan metode-metode bisnis tertentu kepada franchisee dengan imbalan dan persentase dari penjualan atau keuntungan. Berbagai dukungan, baik nyata maupun tidak nyata, seperti iklan, pelatihan dan dukungan lainnya umumnya disediakan oleh franchisor. Franchisor umumnya membutuhkan laporan audit, dan mungkin melakukan pengecekan baik secara periodik atau tiba-tiba. Kegagalan franchisee melakukan prosedur biasanya mengakibatkan kerja sama tidak diperpanjang. (definisi dari Wikipedia)
Metode waralaba merupakan salah satu cara untuk membawa bisnis berkembang pesat dengan keterbatasan modal. Salah seorang entrepreneur muda yang berhasil menerapkan pola ini adalah Firmansyah Budi Prasetyo. Simak tulisan Kompas tentang dirinya berikut.
Firman dan Pola Waralaba “Snack” Singkong (BM Lukita Grahadyarini) Usianya baru 26 tahun, namun Firmansyah Budi Prasetyo, warga Jalan Bugisan, Kecamatan Wirobrajan, Yogyakarta, sukses menapaki usaha snack (penganan) singkong. Dalam waktu 11 bulan, usaha itu melesat melalui pola waralaba dengan jumlah gerai mencapai 250 unit. Usaha itu bermula saat Firmansyah, yang biasa disapa Firman, melihat gerobak dibiarkan teronggok di rumah selama berbulan-bulan. Gerobak itu semula dibeli ibunya untuk menjajakan gorengan. Namun, usaha itu urung dijalankan. Melihat gerobak ”menganggur”, muncul ide Firman untuk mendirikan usaha makanan dengan gerobak. Kesadaran akan potensi singkong di wilayah DI Yogyakarta menumbuhkan gagasan berkreasi dengan produk pangan sepanjang musim itu. ”Singkong mudah didapat karena ditanam hampir di seluruh wilayah di Indonesia sehingga pengolahannya dapat dilakukan siapa pun,” kata Firman yang mengembangkan usaha itu sejak Februari 2007. Berbekal modal awal Rp 3 juta, ia mengolah bahan pangan itu secara cermat, hingga terasa renyah. Makanan ringan yang diberi merek Tela Krezz itu berbentuk balok-balok seukuran jari kelingking dan hampir 90 persen komponennya terbuat dari singkong. ”Saya melakukan uji coba beberapa kali sampai menemukan resep untuk membuat singkong lunak seperti kentang. Singkong yang sudah lunak itu diberi aneka bumbu sehingga rasanya bervariasi,” ujarnya. Gerobak yang menjadi sarana untuk berjualan memanfaatkan peralatan masak sederhana, serupa dengan peralatan masak di dapur rumah. Guna memberi cita rasa, penganan itu diberi bumbu yang kini telah berkembang menjadi 14 jenis rasa. Dengan modal awal itu pula Firman berupaya memperkenalkan produknya secara massal kepada konsumen. Arena pameran menjadi media ampuh dalam berpromosi. Sejak mengikuti beberapa pameran, pesanan terus mengalir dari dalam dan luar Yogyakarta, di antaranya dari Jawa Tengah. Usaha itu berkembang, Firman lalu merekrut delapan karyawan. Modal terbatas Ketika usahanya beranjak maju, pemuda lulusan Fakultas Hukum Universitas Gadjah Mada tahun 2004 itu tertantang untuk melebarkan sayap usaha. Menyadari modal usahanya terbatas, dia mencoba mengadopsi pola bisnis waralaba. Untuk membuka sebuah gerai Tela Krezz, pembeli lisensi atau pewaralaba dikenai biaya dana Rp 3,5 juta sampai Rp 6 juta, disesuaikan dengan lokasi. Dengan dana tersebut, pewaralaba juga mendapatkan pelatihan operasional dan manajerial usaha, termasuk cara memilih singkong yang berkualitas baik. Bahan baku singkong diperoleh dari setiap lokasi waralaba demi menghemat biaya transportasi. Sementara itu, bumbu dasar untuk pelunak singkong dan bumbu rasa snack didatangkannya ke setiap gerai waralaba. Di setiap provinsi yang menjadi lokasi waralaba terdapat satu pewaralaba yang sekaligus menjadi pemasok bumbu ke pewaralaba lainnya di wilayah itu. Untuk menjadi pewaralaba sekaligus pemasok, total biaya yang dikenakan sebesar Rp 12 juta sampai Rp 15 juta, sesuai dengan lokasi. Untuk membuka gerai baru, komunikasi dengan para calon klien dilakukan Firman hanya lewat telepon seluler atau surat elektronik (e-mail). Awalnya, bisnis dengan pola komunikasi yang mengandalkan sarana elektronik itu menuai keraguan para calon mitra, khususnya di daerah luar Jawa. Namun, Firman mampu membuktikan, bisnis adalah sebuah kepercayaan. Kepercayaan itu diwujudkan tidak hanya dalam menjaga mutu produk dan kecepatan waktu pelayanan, melainkan mengedepankan manfaat bagi sesama. Ketepatan waktu dia buktikan dengan pembukaan gerai dalam waktu 14 hari sejak transaksi. Untuk memperluas kemitraan, ia memberi bonus bagi pemegang lisensi yang menambah mitra usaha dan agen. ”Dengan prinsip saling berbagi dengan mitra dan agen, niscaya usaha kita akan maju bersama-sama,” ucap Firman. Di setiap wilayah, singkong yang diolah rata-rata mencapai 300-500 kilogram per hari. Sejumlah 300-500 kilogram singkong itu menghasilkan 1.200 sampai 2.000 bungkus. Usaha kecil dan menengah (UKM) berpola waralaba Firman pun maju pesat. Usaha itu berkembang di 32 kabupaten dan kota, di antaranya Nunukan, Malang, Samarinda, Balikpapan, Medan, Jambi, Batam, dan Banjarmasin. Omzet total usaha berpola waralaba itu mencapai Rp 300 juta setiap bulan. Dari usahanya itu, ia mendapat tambahan modal. Dia lalu merambah bidang usaha lain seperti bisnis binatu, restoran steak, dan chicken chick’s. Ia pun tak ragu meminjam dana bank. Total karyawan yang dia pekerjakan bertambah menjadi 30 orang. Untuk usahanya dalam meningkatkan nilai produk pangan, Firman mendapat penghargaan UKM Award dari Kementerian Negara Urusan Koperasi dan UKM pada 2007. Lapangan kerja Sebelum menjadi pengusaha, Firman malang-melintang di berbagai organisasi dan lembaga swadaya masyarakat, pascalulus kuliah. Anak pegawai negeri itu mulai berpikir terjun ke dunia bisnis sewaktu bertemu dengan beberapa imigran gelap asal Indonesia yang terpaksa hijrah ke negeri jiran melalui Nunukan, Kalimantan Timur, demi mendapatkan pekerjaan. ”Saya bertanya-tanya, di mana peran pemerintah untuk menyerap lapangan kerja? Kalau bukan kita yang berusaha membuka lapangan kerja, sampai kapan pun pencari kerja gelap ke luar negeri akan terus ada,” ujarnya. Sejak awal ia meyakini, dalam suatu usaha itu standardisasi sangat penting. ”Apa pun bentuk usahanya, jika dilakukan dengan standardisasi jelas, usaha itu pasti jalan,” kata anak sulung dari tiga bersaudara itu. Pola waralaba diyakininya efektif untuk membuka lapangan kerja. Konsep kemitraan menjadi pilihan dia untuk mengembangkan bisnis tanpa perlu modal besar, namun tetap bisa menyerap tenaga kerja. Memasuki tahun 2008, Firman berencana mengembangkan UKM berpola waralaba itu, terutama ke daerah luar Jawa. Ia berharap potensi singkong di luar Jawa bisa berkembang seiring peningkatan nilai tambah produk itu. Ia juga berencana menciptakan variasi produk singkong lainnya dalam bentuk dan rasa yang berbeda. Di sela kesibukan berusaha, pemuda lajang itu kerap memberikan pelatihan berbisnis untuk kelompok-kelompok mahasiswa tingkat akhir perguruan tinggi negeri dan swasta. ”Saya ingin mengajak generasi muda untuk tidak menggantungkan penghasilan pada penyedia lapangan kerja, tetapi menciptakan usaha. Modal kecil bukan halangan, yang penting kreativitas,” ucapnya.
Post to: delicious, Digg, ma.gnolia, Stumbleupon
Search only in this blog
Search across Asia Blogging Network
More? Go to Asia Blogging Network Column section.
cURL error 52: Empty reply from server
Ikuti diskusi Ada 17 komentar untuk artikel ini.
muh chaerul
Assalamu Alaikum Wr.Wb
Perkenalkan Saya Muh Chaerul dari Makassar, Saya sangat tertarik dengan pemikiran kanda Firman, dengan memulai/merintis usaha sendiri, dan Alhamdulillah terus berkembang hingga ke pelosok tanah air.
kebetulan saya sudah hampir menyelesaikan kuliah saya, dan tertarik untuk memulai usaha sendiri semenjak sekarang, mengikuti jejak kanda Firman. (Insya Allah……..). tapi entah mengapa saya masih bingung memilih usaha yang cocok buat saya jalankan. saya berharap saran tips dan trik dari kanda Firman bagaimana menentukan usaha apa akan dan cocok saya jalankan……..?
Melihat kanda Firman Meralabakan usahanya, bagaimana kalau saya memulainya dengan memilih usaha yang kanda Firman geluti sekarang, tapi mohon bimbingannya bagaimana memulainya dari awal. Mohon informasinya dikirim ke Email Saya (chaerul_tahir@yahoo.com).
Kebetulan saya salah satu anggota BKM(badan keswadayaan Masyarakat) di kelurahan saya, mudah-mudahan ini bisa memjadi salah satu inspirasi buat kami di makassar.
sekian dari saya
Salam Sukses Selalu …………(Amin)
saya muh chaerul
March 13th, 2008 at 3:54 pm
nunu
Ass….kebetulan aku salah satu agen TEla Krezz u wilayah Samarinda yang ownernya pasti mas Firman. Banyak hal positif yang kudapat sejak bergabung di Tela Krezz dan kenal sosok Mas Firman. Mas Firman, orang kreatif yang selalu punya ide yang bikin aku kagum secara personal ama dia.
Awal bergabung di Tela Krezz…sampai sekarang masih bingung kenapa waktu itu nekat bergabung dan mentransfer sejumlah (syarat agen), padahal aku nggak kenal siapa itu Firmansyah dan bagaimana rasa Tela Krezz. Waktu itu aku ngerasa yakin aja, bisnis ini pasti berjalan. Padalah taste nya pun aku nggak tau, yang jadi peganganku dulu….pasti ketawa deh…. Wrapper Tela Krezz sisa yang dimakan ponakanku,cuman wrappernya doang, udah gitu dibuang ke tong sampah lagi dan tong sampahnya udah diambil bapak tukang samaph yang baik itu ha ha ha. Jadilah aku hunting malam2 jam 10, ngider balikpapan (aku asli balikpapan lho…) cuman nyari outlet Tela Krezz yang buka. Hasilnya…nggak ada yang buka. Tapi….good news. Aku dapat wrapper Tela Krezz di jalan, udah bersemut. Nggak penting….yang penting aku dapat no telp kantor Tela Krezz nya. Rasanya….. masih belum tau.Selanjutnya sms2 an deh dgn mas Firman sang owner, n then jadilah aku agem TEla Krezz u samarinda sampai sekrang.
Perkembangannya…..wow. Dalam waktu 3
bulan, aku dah balik modal sebagai agen. 6 bulan udah punya lebih dari 30 outlet u samarinda dan sekitarnya. Merekrut 6 agen u wilayah Kaltim. Dan kebetulan agen2 di bawahku adalah sahabat2 plus memberku di Sophie Paris, MLM yang udah 3 tahun ini aku jalani. Promosi ni…wanna be member Sophie Paris?? Please contact me 081350003400.
Numpang mas…
Kata mas Firman…aku yang menyebarkan virus Tela Krezz di Kalimantan, dan dia menyebarkan virus cinta di Kalimantan he he he yang itu ngaco…
Its great Bussiness…percaya deh.
August 4th, 2008 at 1:14 pm
Rahmat Miftahul Habib
Sukses buat Mas Firman.
Wah selamat ya masuk tipi :)
Tinggale neng Patang puluhan ya?
Wah deket sama SMPku no.. (SMP Muga) ngerti tha?
August 18th, 2008 at 3:14 pm
Ahmad Dzulfikar
Salam kenal Mas,
Saya minta info nih, kami menghadapi berbagai kendala mengenai singkong (untuk bahan baku). Soalnya, tidak semua singkong bisa digunakan untuk keripik singkong. Mohon petunjuk dari Mas!
August 20th, 2008 at 1:11 pm
ika
saya jadi penasaran dengan tela krezz ini. sebenarnya duluan mana sih antara tela krezz dengan tela tela. saya baca di beberapa media yang duluan katanya tela tela. yang bener yang mana ya? kalau tela tela sudah mengelola 160 kota di indonesia dengan outlet berjumlah total kurang lebih 1500. karena sama sama dari yogyakarta saya malah lebih penasaran. biasalah kalau usaha makanan gampang di duplikasi. cuman kesannya disini yang menemukan bisnis makanan dari bahan ketela ini si tela krezz. menurutku yang jadi acungan jempol sih yang menemukan bisnis ini pertama kali. dia yang bisa mengangkat image ketela yang notabene makanan rakyat kebiasaan jadi naik pamor dg banyaknya pertumbuhan outlet.nah kalau ada yang tahu sejarahnya bisa di share disini. atau dari masing masing pebisnis nih yang kasih testi ke kita. congrat buat yang menemukan pertama kali yoooo…
August 28th, 2008 at 11:56 am
cahyo
saya sangat tertarik dengan “Tela Krezz” nya mas Firman. Saya membutuhkan alamat atau email mas Firman. Mohon kiranya dibantu ato bisa memberi bantuan alamat wakil waralaba di daerah surabaya. Mohon info lewat email saya : cahyo_2802@yahoo.com / 031-78288390
September 7th, 2008 at 10:55 am
isna
ass…
mas firman…
slam knal…
saia slah seorg mhasiswa d bdg,,
mo nanya,,
kalo d bdg sndiri dah ad outlet tela krezz lum?
klo ad tpatny d jlan ap y?
saia blum prnah ktemu soalnya,,
n klo mw ikut waralaba ny mas firman prlu modal awal brapa?
makasi sblumnya,,
wass…
September 7th, 2008 at 12:51 pm
Prof. Soekartawi
Waralaba memang penting. Tetapi yg lebih penting lagi adalah ‘partnership’ yg kuat, sebab bila tidak, salah satu bisa dirugikan. Apalagi sekarang banyak orang ‘ngemplang’ (lari meninggalkan tanggung jawab). Artikel dibawah ini barangkali ada manfaatnya..mengenai pentinya partnership. Selamat membaca,
PARTNERSHIP MODELS FOR OIL PALM PLANTATION DEVELOPMENT: CONCEPT AND ITS IMPLEMENTATION
(POLA KEMITRAAN DALAM PEMBANGUNAN PERKEBUNAN KELAPA SAWIT: ANTARA KONSEP DAN IMPLEMENTASI)*
Oleh: Soekartawi**
(dr_soekartawi@diknas.go.id and/or drsoekartawi@yahoo.com)
ABSTRACT
.
Because of its economic importance as a high-yielding source of edible and technical oils, the oil palm is now grown as a plantation crop in Indonesia. The extensive development of oil palm industries in Indonesia has been motivated by its extremely high potential productivity and value added generated from the oil palm industries.
In past few years oil palm industries in Indonesia contributed over US$6 billion (2007) to the country’s economy, and its contribution is expected to grow in the coming years. The industry has also generated a huge number of jobs in rural areas throughout the country and dozens of companies operating on over 5.3 million hectares of land.
Other positive contribution of oil palm is it can be used as a vehicle for eradicating rural poverty, providing a steady supplier of affordable food, non-food, bio-composites, nutritional and pharmaceutical products. Further, oil palm mills are fast becoming generators of renewable energy from their biomass and biogas, and therefore it can be used as a vehicle for showcasing for environmental improvement.
Aside from the success story of oil palm in economic development in Indonesia there are some negative evidences which indicate numerous negative impacts of oil palm industries on the environment, socio-economic, and local cultures.
To minimize the above negative impacts, the establishment of better partnership between oil palm industries, government and society is very important. A partnership is basically a strategic alliance or relationship between two or more people or organizations. Successful partnerships are often based on trust, equality, and mutual understanding and obligations. In case of oil palm industry, partnership models are known as PIR-BUN partnership, tripartite partnership, and corporate partnership.
In order to have an effective and efficient partnership (productive partnership), there seven things that can be taken into account, namely having common interest and mutual goals, sharing resources and expertise, sharing problem solving, recognizing benefits gain from the better partnership, reciprocal relationships, putting partnership as a system approach to management, and doing intensive evaluation and monitoring.
Kata Kunci: kelapa sawit, kemitraan
September 8th, 2008 at 7:27 am
Setiawan
saya sangat tertarik dengan “Tela Krezz” nya mas Firman “THE SINGKONG MAN” yang kemarin masuk tipikan……!!! di acaranya abang Tukul “EMPAT MATA” Saya membutuhkan alamat atau email ato nomornya mas Firman. Mohon kiranya dibantu tentang penjelasan bagaimana sistemnya klo gabung dengan “TELA KREZZ” nya mas Firman, ato bisa memberi bantuan alamat wakil waralaba di daerah surabaya. Mohon info lewat email saya : keygen_bross11@yahoo.com atau telp : 031-60631144
October 29th, 2008 at 8:02 am
adi
to mbak ika n all
perkembangan usaha dengan menu semacam tela tela sungguh dahsyat perkembangannya di indonesia. nah saya dapat bocoran dari tetangga sebelah, alias ada temen yg ikut dalam manajemen tela tela.
perlu diketahui bahwa yang menjadi pioner adalah tela tela dengan alamat di tambak bayan 3 no 12 yogya o274 485356. tela tela berdiri tahun 2005 sedangkan tela krezz berdiri tahun 2006.
yang mengawali firman tela krezz memang betul seperti yang diceritakan bahwa dia melihat ada gerobak menganggur di deket rumahnya. awalnya gerobak itu dibuat jualan snack express yang pas bulan ramadhan banayak masyarakat yg membutuhkan snack utk berbuka puasa. melihat menganggur gerobak akhirnya dia ikutan juga jualan tela tela yang laris manis di yogya dengan brand pertama homy tela. melihat bahwa jualan tela tela sangat laris dan dia pemodal yang cukup kuat akhirnya dia promosi dimana mana.
sedangkan tela tela menerapkan promosi dengan viral marketing. di lapangan secara real persaingannya cukup sengit tapi masyarakat sudah bisa melihat yang asli dan enak yang mana.
November 21st, 2008 at 9:36 am
baguz
numpang tanya, outlet tela krezz didaerah bandung sendiri ada dimana saja?
mksh…
oia, ada ide nih, kl bahan dasarnya dari buah sukun, gimana jadinya ya?
December 24th, 2008 at 10:25 am
Muhammad Alif Danang
Assalamualaikum…
Saya sangat tertarik dengan bisnis yang saudara jalankan sekarang,,,
Bagaimana saya bisa membeli franchise saudara?
Kebetulan saya memiliki tempat di depan rumah saya, tolong kirimkan persyaratannya!!!
Ditunggu kabar baik secepatnya…
Terima kasih atas perhatian dan bantuannya…
Wassalam,,,
January 5th, 2009 at 8:52 pm
doddy
massssss,,,,,,minta alamat agent tela krezz jakarta timur nya donk,,,qta sangat minat ikutan frenchise tela krezz ,,,tapi ga tau caranya….??
mohon infonya,,tks
January 13th, 2009 at 4:56 am
Abdurrahman Siddiq
saya sangat tertarik dengan “Tela Krezz” nya mas Firman. Saya membutuhkan alamat atau email mas Firman. Mohon kiranya dibantu atau bisa memberi bantuan alamat wakil waralaba di daerah jakarta hususnya jakarta selatan. Mohon info lewat email saya : siddiq_bangka@yahoo.com / 081316358872
January 24th, 2009 at 11:21 am
indah
Dear Mas Firman,
Assalamu’alaikum…
Mohon bimbinganya, gmn caranya bisa berbisnis tela krezz, lokasi sy di batam, apakah perlu modal yg gede..? bisa minta contact persons agent di batam…?
Sebelumnya makasih banyak.
Wassalam…
February 13th, 2009 at 2:20 pm
dedi
Salut untuk mas firman, terobosan entrepreuneur-shipnya, patut diacungi jempol daripada janji birokrasi menanggulangi pengangguran yg lips service sj…sy pernah mencoba meramu singkong spy renyah dan kering stlh digoreng.tp tdk berhasil ..bgmn caranya ya,..kl fr.chise gmn crnya?
May 28th, 2009 at 5:50 am
Desy
Salam kenal…
Saya kagum dengan ide kreatif mas firman. Dan saya setuju dgn pendapat mas firman,bahwa kita lah yg perlu menciptakan lapangan kerja baru. Terus terang saya tertarik dgn bagaimana menciptakan sistem waralaba sendiri,seperti yg dilakukan mas firman. Yg jadi masalah,kurangnya pengetahuan saya ttg menciptakan bisnis waralaba sendiri,apa syarat dan ketentuannya. Dan saya mohon bimbingan mas firman lebih lanjut. Dapat kirim ke email saya. Terima kasih.
June 2nd, 2009 at 2:02 pm