You're here: My Business Blogging » Entrepreneur! » Article: Jangan Anggap Enteng Kekuatan Bunga Potong
Penggusuran para pedagang dan perangkai bunga di Jalan Barito, Jakarta Selatan, pekan lalu, mengundang berbagai pertanyaan. Seberapa besarkah perhatian pemerintah terhadap usaha kecil, sungguh mengganggukah keberadaan mereka di tempat-tempat strategis yang bahkan telah menjadi trademark wilayah tersebut, apakah pemerintah sudah menghitung kontribusi keberadaan mereka bagi perekonomian masyarakat, dan apakah tidak ada win-win solution.
Setelah membaca artikel di harian Kompas berikut, pertanyaan itu jadi bertambah panjang dan menyesakkan.
Kamis, 24 januari 2008 | 02:41 WIB Tiap Jumat malam selepas magrib, Komar (47), warga Desa Sindanglaya, Cipanas, Cianjur, pergi ke Jakarta. Dengan pikap sewaan, ia mengangkut bunga krisan putih hasil kebunnya untuk dijual di Ibu Kota. Perjalanan malam ini rutin dilakukan Komar sejak lebih dari 30 tahun silam, saat ia masih jadi pembantu ayahnya yang juga petani bunga potong. ”Sekarang, tiap Jumat malam saya rata-rata mengirim 500 ikat atau 5.000 tangkai bunga krisan untuk dua perusahaan pendekor pesta perkawinan pelanggan saya. Kalau mereka enggak mau beli semua, sisanya saya lepas di Rawa Belong,” ujar Komar saat ditemui di kebun bunganya, Senin (21/1). Pasar bunga potong Jakarta tak cuma dipasok Komar yang sudah jadi haji berkat kebun bunganya yang seluas satu hektar. Di daerah Puncak terdapat lebih dari 200 petani lain yang juga memasarkan sebagian besar produknya ke Ibu Kota. Kaum petani ini tersebar di berbagai wilayah kecamatan, seperti Cipanas, Pacet, Sukaresmi, dan Cugenang. Semua di Kabupaten Cianjur. Kecuali krisan, mereka pun memasok Jakarta dengan jenis-jenis bunga potong dan produk florikultura lain. Beberapa perusahaan industri agro yang ada di kawasan Puncak juga ikut memasok kebutuhan bunga Jakarta. ”Dari seluruh bunga krisan produk kami, sekitar 20 persen dikirim ke Jakarta,” kata Tamyiz Munchtamil, administrator pemasaran industri pertanian bunga potong PT Alam Indah Bunga Nusantara. Perusahaan milik istri mantan Kepala Bulog Bustanil Arifin itu berlokasi di Kecamatan Sukaresmi, bertetangga dengan obyek wisata Taman Bunga Nusantara. Memiliki lahan produksi seluas empat hektar, PT Alam Indah tiap hari menghasilkan 1.100 ikat atau 11.000 tangkai bunga krisan yang sekitar separuhnya diekspor ke Jepang dan Timur Tengah. Menurut petani bunga lain, kebutuhan bunga potong dan bunga segar Jakarta juga dipenuhi daerah lain di Jawa. ”Melati dari Cirebon, sedap malam dari Ambarawa, dan mawar dari Malang, Jawa timur,” kata Ujang (47), petani bunga potong di Desa Sukarnagalih, Pacet. Uang yang berputar di sektor bisnis bunga potong di Jakarta jumlahnya mungkin mencapai sekitar Rp 50 miliar per tahun. ”Di Pasar Bunga Rawa Belong saja jumlah uang yang berputar mencapai sekitar Rp 40 miliar per tahun,” kata Ketua Asosiasi Bunga Indonesia (Asbindo) Karen Sjarief. Potensi besar Dilihat secara nasional maupun global, florikultura merupakan sektor bisnis yang punya potensi besar dan sangat menjanjikan. Di tingkat nasional, industri pertanian bunga ini setidaknya sudah terbukti mampu ikut menggerakkan sektor riil dan menghidupi banyak orang. Menurut data tahun 2006, petani florikultura di Indonesia berjumlah 3 juta, 40 persen di antaranya petani bunga potong. ”Ini belum termasuk mereka yang terlibat berbagai usaha pendukung, mulai penyuplai pupuk kandang, bambu untuk greenhouse, plastik UV, pot, sampai pestisida,” papar Karen. Di tingkat dunia, bisnis florikultura nilainya mencapai 80 miliar dollar AS per tahun. Dari nilai total ini Indonesia baru berkontribusi 20 juta dollar AS meski nilai ekspor cenderung terus meningkat. Dilihat dari kenyataan ini, penggusuran para pedagang dan perangkai bunga di Jalan Barito, Jakarta Selatan, pekan lalu, bisa dibilang sebagai tindakan yang kurang bijaksana. Penggusuran itu dapat membuat banyak petani bunga potong, seperti Komar dan Ujang, kehilangan captive market lokal yang potensial. ”Sementara angka pengangguran terus meningkat, kok pemerintah justru melakukan tindakan yang kontraproduktif?” keluh Karen yang bos perusahaan florikultura Floribunda di Cibodas. (mulyawan karim)
Post to: delicious, Digg, ma.gnolia, Stumbleupon
Search only in this blog
Search across Asia Blogging Network
More? Go to Asia Blogging Network Column section.
Ikuti diskusi Ada 4 komentar untuk artikel ini.
imel
ok.. juga buat penelitian tugas akhir
June 15th, 2008 at 5:35 pm
ida
artikel yang bagus, mudah mudahan ada yang tergugah ya…, sekalian saya sedang butuh informasi mengenai supplier bunga potong import, kalau boleh saya bisa minta nama perusahaan beserta alamat dan kontak numbernya, bisa hubungi di email saya i_banowati@yahoo.com.tks
June 24th, 2008 at 2:01 pm
3e5n4
Wahhh emang seru maen-maen di bunga, mau bunga hias atau bunga potong. Oya, yang mau pesen bunga, boleh via email ke tul_the@yahoo.com dengan mencantumkan alamat yang jelas n contact person yaaa. kebetulan saya supplier bunga potong, gerbera, krisan, aster, pikok, juga bunga pot
November 6th, 2008 at 8:53 pm
HERMANTO
KALAU MAU ADA BUNGA KRIAN POTONG DIDAERAH NONGKOJAJAR JAWA TIMUR, HArga murah dan terjangkau. hungungi 08125216358. saya tunggu looo……
November 17th, 2008 at 6:49 pm