You're here: My Business Blogging » Entrepreneur! » Article: Bisnis Restoran dan Hiburan di 2008
Usaha hotel dan restoran yang tidak termasuk kebutuhan primer diprediksi akan cukup terpengaruh menghadapi kondisi perekonomian 2008 yang ditandai dengan krisis pangan dan kenaikan harga bahan pokok yang membuat daya beli masyarakat menurun. Kondisi ini akan diperburuk dengan situasi politik yang akan diwarnai persiapan Pemilu 2009. Pengecualian diperkirakan untuk konsumen kelas atas yang akan tetap bertahan.
Pelaku Usaha Pesimistis Jakarta, Kompas - Memburuknya kondisi ekonomi yang ditandai dengan krisis pangan dan kenaikan harga bahan pokok makin berdampak nyata. Hal itu tak hanya dirasakan pada bisnis yang bergerak di bidang kuliner seperti restoran, namun juga di bisnis hiburan di Jakarta. Gejala merosotnya daya beli konsumen ditandai oleh tingkat kunjungan ke tempat hiburan yang merosot signifikan. Pelaku usaha di Jakarta yang bergerak di bidang kuliner dan hiburan cenderung pesimistis kondisi ini dapat membaik dalam waktu yang tak terlalu lama. Mereka menilai, tahun 2008 birokrat akan lebih disibukkan oleh agenda partai politik untuk memprioritaskan Pemilu 2009. Kebijakan pemerintah dalam stabilisasi harga kebutuhan pokok yang menitikberatkan pada paket kebijakan fiskal dinilai sebagai solusi yang bersifat situasional. Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) DKI Jakarta serta Perhimpunan Pengusaha Rekreasi dan Hiburan Umum (PPRHU) DKI Jakarta secara terpisah mengemukakan hal itu, Jumat (1/2). Ketua PHRI DKI Jakarta Krishnadi mengatakan, kenaikan bahan pokok telah memukul usaha yang berbasis makanan, yang menyebabkan food cost atau biaya memproduksi masakan naik rata-rata 10 persen. Menurut dia, jumlah itu sudah cukup mulai menggoyang jalannya usaha sebab kondisinya diikuti oleh daya beli konsumen yang merosot. ”Makan di restoran atau hotel bagaimanapun bukan kebutuhan primer. Dengan demikian, di saat segala sesuatu naik, orang akan meminggirkan dahulu hal-hal di luar kebutuhan primer. Padahal, di lain pihak, bisnis hotel dan restoran menyerap tenaga kerja yang besar,” kata Krishnadi. Krishnadi memperkirakan jumlah tenaga kerja yang terserap langsung di bisnis restoran dan hotel adalah sekitar 10 persen dari jumlah penduduk DKI Jakarta. Mereka mencakup tenaga kerja dengan rentang kualifikasi cukup luas. Hariyanto Prayitno, salah satu pelaku usaha restoran di Jakarta, misalnya, mengatakan, gejala rendahnya daya beli masyarakat saat ini di luar batas normal. Biasanya bulan Januari, Februari, dan Maret justru merupakan masa tingkat konsumsi yang cukup tinggi di bidang usaha restoran. Begitu pula ketika bulan puasa, hari raya Idul Fitri, dan Natal. Sementara menjelang masa liburan sekolah biasanya cenderung lebih sepi. ”Tetapi saat ini gejala kebiasaan itu tidak lagi. Konsumen kelas menengah ini sekarang drop, yang kelas atas masih bertahan. Sepertinya kesenjangan kaya-miskin boleh jadi mulai melebar lagi,” kata Hariyanto. Ketua Perhimpunan Pengusaha Rekreasi dan Hiburan Umum DKI Jakarta Adrian Maelite mengemukakan hal senada. Menurut dia, meski berbagai tempat hiburan malam tidak bertumpu pada kuliner, namun sudah mengalami pengaruh buruk yang nyata. Pascapergantian tahun, omzet tempat hiburan rata-rata sudah menurun 30-50 persen. Penurunan itu signifikan terjadi di wilayah Jakarta Selatan. (sf) Sumber: Kompas
Post to: delicious, Digg, ma.gnolia, Stumbleupon
Search only in this blog
Search across Asia Blogging Network
More? Go to Asia Blogging Network Column section.
Ikuti diskusi Satu komentar untuk artikel ini.
iren
tolong donk kasih tau apa aja langkah langkah dalam membuat suatu restoran. thank’s ya….
March 1st, 2008 at 11:35 am