You're here: My Business Blogging » Entrepreneur! » Article: Duet Pembidik Keramik Indonesia
Duet Noriaki Kobayashi dan Budi Purnomo Otto melakukan berbagai terobosan untuk menghasilkan produk keramik unik dan bernilai tambah tinggi. Perjumpaan mereka dengan seniman keramik Indonesia, Fransiskus Widayanto, menjadi gambaran khas pertautan antara potensi seni dan kapital.
Kobayashi-Budi, Duet Pembidik Keramik Indonesia (Stefanus Osa Triyatna) Menghadapi persaingan bisnis, berbagai terobosan industri hilir kerap didorong untuk menghasilkan produk unik dan bernilai tambah tinggi. Itulah impian pengusaha. Di tangan duet Noriaki Kobayashi dan Budi Purnomo Otto, impian itu seakan menjadi kenyataan. Di mata Kobayashi (57), ahli keramik spesialis materi porselen dari Jepang, nilai tambah produk porselen justru diperoleh dalam perjalanan panjang usaha keramiknya di Indonesia. Sejak tahun 1976, lelaki kelahiran Fukuoka, Jepang, ini telah menjadi Direktur Studio Pearl Original Ltd Jepang. Awal tahun 1979 hingga 1985, Kobayashi memulai perjalanannya menjadi Presiden Direktur Pearl Original Taiwan. Prospek usaha yang dinilai baik di Asia pada saat itu membuat Kobayashi nekat berkelana menjajaki investasi di Indonesia pada tahun 1986. Bersama rekan senegaranya, Noboru Otsudo, Kobayashi mendirikan industri pembuatan boneka porselen di Balaraja, Tangerang, Banten. Waktu itu gas sebagai bahan bakar untuk pembuatan keramik belum menjadi persoalan yang menyesakkan. Jumlah industri yang relatif sedikit belum terlalu banyak membutuhkan gas. Dengan demikian, kelancaran pasokan gas yang sangat dibutuhkan untuk membakar tanah lempung menjadi keramik sangat mencukupi. Tak heran, prospek usahanya dilirik desainer keramik mancanegara. Kobayashi pun dipercaya memproduksi patung porselen, antara lain untuk Anderson, O’Neil, dan Precious Memory. ”Kami juga dipercaya mengerjakan pesanan Walt Disney, Berry Bear, dan seniman Steiff untuk dipasarkan di Jerman,” ujar Kobayashi yang juga mewujudkan desain karya seniman Fujioka. Pesanan dalam bentuk sketsa itu kemudian diterjemahkan Kobayashi, yang kemudian mewujudkannya menjadi boneka porselen tiga dimensi. Sementara peran Budi Purnomo Otto (47) menjadi semakin kentara ketika ayahnya, Noburo Otsudo, meninggal dunia pada Desember 2000. Menurut Budi, ayahnya adalah seorang profesional Jepang lulusan Fakultas Ekonomi, Waseda University. Otsudo sempat mengikuti wajib militer pada masa Perang Dunia II. Ia kemudian dikirim ke Indonesia. Seusai perang, Otsudo memilih tetap tinggal di Indonesia dan ikut berjuang mempertahankan kemerdekaan Indonesia melawan Belanda dalam agresi militer tahun 1947 dan 1949. ”Ayah saya dianugerahi Bintang Gerilya oleh Presiden Soekarno. Karena itulah, sewaktu meninggal dunia, ayah saya dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata,” kenang Budi. Lelaki kelahiran tahun 1961 ini baru bergabung untuk meneruskan usaha ayahnya tahun 1992. Budi meraih gelar master dari The George Washington University, Washington DC, jurusan Finance dan Investment, serta Bisnis Internasional pada tahun 1986. Pada perkembangannya, duet Kobayashi dan Budi tak merasa puas atas usaha mereka mengerjakan patung-patung keramik mancanegara. Mereka merasa hanya menjadi ”tukang jahit” pesanan desainer asing meskipun volume pesanan banyak, dan bisa membuat usaha mereka memiliki tenaga kerja sekitar 2.500 orang. Jatuh Krisis moneter tahun 1998 memorakporandakan usaha tersebut. Saat itu mereka seolah harus memulai usaha dari nol lagi. Meski demikian, mesin-mesin produksi dan lahan pabrik tetap dipertahankan. ”Biar dinilai adil, semua buruh, termasuk jajaran direksi, dikenai pemutusan hubungan kerja. Kemudian, proses seleksi dimulai kembali sehingga kini terpilihlah sekitar 300 buruh terampil,” cerita Budi. Pabrik itu sekarang memang terlihat lengang. Meja-meja panjang yang sebelumnya ada yang berfungsi sebagai tempat latihan, cetakan, ukiran, hingga pengontrol, serta meja studio dan ruang kerja pemasaran, terlihat kosong. Inilah kondisi awal kebangkitan usaha mereka. Meski situasinya relatif tak mendukung, tetapi ketika itu, tahun 2006, Kobayashi dan Budi tetap merasa tak puas hanya sebagai ”tukang jahit” porselen. Apalagi keramik yang berbahan baku impor dari Jepang dan sudah diolah di Malaysia itu bisa dikerjakan oleh berbagai industri keramik. Penelusuran panjang yang dilakukan Kobayashi dan Budi menghasilkan perjumpaan mereka dengan seniman keramik Indonesia, Fransiskus Widayanto. Klop, begitulah gambaran pertautan antara potensi seni dan kapital itu. ”Inilah nilai tambah yang selama ini kami cari. Tanpa disadari, produksi massal tak selamanya menghasilkan keuntungan besar. Namun, jika kita mau menghasilkan keramik berkualitas yang punya kekhasan Indonesia seperti karya Widayanto, nilai tambah yang dihasilkan sangat menggiurkan,” ujar Budi. Hasil produksi patung keramik untuk pesanan mancanegara mencapai rata-rata 66.000 patung per bulan. Jumlah ini memang sangat jauh dari kapasitas produksi perusahaan mereka yang bisa mencapai 300.000 patung per bulan. Tetapi itu kalau dilihat dari sisi jumlah. Di sisi lain, sentuhan seni dari Widayanto membuat produk mereka memiliki nilai tambah yang tinggi. Hasil produksi keramik yang membidik karya seni Widayanto, memang hanya menghasilkan sekitar 1.500 patung per bulan. Jumlah yang jauh lebih sedikit dibandingkan patung yang selama ini diekspor. ”Biar begitu nilai jualnya fantastis. Saya melihat titik-titik krusial dalam memproduksi karya Widayanto. Dari tingkat kesulitan pembuatan keramik itu, hasilnya memang amat terbatas, tetapi nilai jualnya sangat tinggi,” ujar Kobayashi, yang mengaku desain tiga dimensi karya Widayanto sangat halus. Khas Indonesia Kekhasan Indonesia yang dia maksud tergambar dalam bentuk wajah anak-anak Indonesia yang riang dan suka melakukan aneka permainan. Misalnya, mereka bermain gatrik, kasti, congklak, kelereng, dan penggembala kerbau, bahkan ada yang berupa anak-anak tengah berlomba panjat pinang. Desain lainnya antara lain berupa punakawan bermain golf. Desain yang orisinal dan dikerjakan dengan hati-hati itulah, yang membuat nilai patung keramik produksi mereka berharga sampai jutaan rupiah per patung. ”Entah bagaimana, saya menemukan sesuatu yang berbeda dari desain Widayanto. Tiga dimensi itu menunjukkan kekhasan Indonesia. Bahkan, sampai patung-patung penghias Natal- nya pun terasa Indonesia sekali,” kata Kobayashi. Untuk memperlihatkan kekhasan Indonesia-Jepang, Kobayashi mengolaborasikan wajah- wajah patung itu serupa penari Kabuki dari Jepang. Wajah itu diberi semacam bedak putih, sehingga kekhasan Indonesia dan Jepang sangat kentara. Inilah bentuk kerja sama Indonesia-Jepang yang sudah diwujudkan Kobayashi dan Budi sejak lama. Sumber: Kompas
Post to: delicious, Digg, ma.gnolia, Stumbleupon
Search only in this blog
Search across Asia Blogging Network
More? Go to Asia Blogging Network Column section.
Ikuti diskusi Ada 12 komentar untuk artikel ini.
novi
saya sangat berminat dgn keramik hanya saja kendala yang ada keramik pun perlu modal yg cukup besar,dan saya ingin bertanya tempat kursus yg baik untuk saya belajar sebagaipemula??mohon info nya..
February 14th, 2008 at 12:32 am
Jimmy
Apakah ada alamat atau telepon kontak untuk Bapak Budi Purnomo Otto?
Terima kasih.
March 2nd, 2008 at 7:56 am
dikfa
saya dikfa, trans 7, laptop si unyil.
boleh saya minta kontak pak budi purnomo otto atau pak fransiskus widiyanto.
June 1st, 2008 at 8:56 am
Tita
alamat kursus keramik di Studio Lentera sekaligus tempat pembuatan tungku keramik dan sebagainya,
Jl. Fajar Asri 3 no.1, Bumi Fajar Indah Regency, Jaka Sampurna, Bekasi Barat. Telp. 021-88853157.
Kontak personnya Mas Anton
July 7th, 2008 at 12:12 pm
djainuddin alting
yth Bapak Anton.
info.adik saya hobinya/pekerjaannya mengukir bukan dari kayu tapi dari semen pasir batu dll.tapi sayangnya didaerah saya (ternate) tidak ada tempat pelatihan atau kursus pembuatan kramik. dan untuk datang ke tempat bapak mengikuti kursus saya kira lebih sulit lagi,untuk itu saya meminta sedikit petunjuk dari bapak ( mungkin bapak punya tips/buku2 yang bisa kami beli)sebelum dan sesudahnya atas penjelasan bapak , kami ucapakan beribu terima kasih.
July 31st, 2008 at 2:26 pm
Pedi Yudha Brata
Tempat kelahiranku, Plered Purwakarta Jawa Barat, adalah Sentra Industri Keramik. Semua jenis keramik, muali dari gerabah hingga art ceramics (clays) bisa dibuat. Tapi Sayang karena kurangnya pemasaran membuat kurang berkembangnya industri keramik tsb. Saya ingin mengembangkan Industri keramik tsb, baik Domestic maupun mancanegara.
Ada yang berminat atau bisa memasarkan keramik tsb??
August 4th, 2008 at 12:21 pm
Ibnu Pamungkas
Saya tertarik sekali dengan bisnis keramik, di saerah saya banyak industri gerabah, namun hanya untuk lokal. Saat ini saya memiliki bahan kertas yang sudah dihancur untuk packing keramik yang akan dikirim. Ada yang bisa bantu alamat industri keramik untuk eksport ? Ibnu Pamungkas (022) 76081461
August 20th, 2008 at 7:19 am
yosi
saya pengin buka usaha keramik,kalo pesan tungku harganya berapa,serta minta data spesifikasinya,trus beli tanahnya dimana,terima kasih
September 10th, 2008 at 11:11 am
Bagus Pursena
Wah sayang saya baru baca blog ini.
Bagi yang hendak kontak dengan Pak Budi P. Otto bisa kirimkan email ke budi.otto@gmail.com
Bagi yang tertarik kursus keramik bisa kontak Pak Tjepi Iskandar di tjepi@kharismatembikar.com dia yg mengelola bisnis F Widayanto. Jadi tahu banget seluk beluk produksi dan pemasaran keramik.
Terima kasih ;-)
September 17th, 2008 at 7:31 am
Juni Sab
Hi,
Saya Juni Sab, kebetulan sekali kami memproduksi bahan kimia yang dipergunakan sebagai pencampur bahan baku keramik. Produk kami ini sebagai pengganti STPP (Sodium Triple Pyro Phosphate) maupun Water Glass.
Jika ada yang berminat bisa menghubungi saya lewat email ataupun ke 0816-1879524.
Salam sejahtera,
Juni Sab
October 7th, 2008 at 6:33 pm
RIYONO
Mohon dengan hormat, tolong kirimkan profil perusahaan bserta jumlah omset per bulan.
October 25th, 2008 at 3:21 pm
Edward
Saya tertarik dgn seni membuat keramik tp saya tidak tahu bagaimana memulainya dan dimana saya harus belajar. Tempat kursus pak Widayanto di Jkt, sementara saya bertempat tinggal di Sby, apakah jaringan pak Widayanto atau pak Budi Otto ada di Sby yang bisa memberi kursus? Mohon informasinya.
Terima kasih.
November 19th, 2008 at 5:07 pm