You're here: My Business Blogging » Entrepreneur! » Article: Ardi Joanda
Kisah Ardi berikut ini banyak memberi pelajaran bagi para entrepreneur dan calon entrepreneur.
Ardi, Uang Besar dan Kecil Tatkala keluar dari sebuah perusahaan berskala regional empat tahun silam, banyak yang mempertanyakan langkah Ardi Joanda (36). Posisi Ardi diperusahaan itu, chief executive officer, tentu bukan jabatan cemen.Akan tetapi, mengapa ia keluar? Ardi pun punya alasan sendiri. “Lumrah saja. Ibarat seorang penjelajah benua, perlu berhenti sejenak untuk rehat, memeriksa ban, isi bensin, atau melihat jalan lain agar bisa lebih cepat tiba di lokasi lebih menantang,” tutur Ardi di Jakarta, Minggu (3/2). Hal yang membuat kawan-kawannya terkejut adalah ketika Ardi memulai bisnis baru yang kecil. Ia membuka gerai snow ice, agak mirip es krim, di delapan kota, di antaranya DKI Jakarta, Semarang, Bandung, Yogyakarta, dan Samarinda. Bisnis ritel ini hampir semuanya berada di mal berskala besar. Akan tetapi, namanya juga ritel, uang yang ia putar adalah uang yang dikumpulkan dari lima ratus rupiah sampai sepuluhan ribu rupiah. Ini jelas berbeda dengan bisnis yang ia jalani di perusahaan sebelumnya. Ardi menuturkan, ia memulai bisnis snow ice karena ingin mulai dari bawah, mengemas bisnis yang membutuhkan ketekunan, terlibat hari per hari, dan merasakan debar jantung yang sangat kencang tatkala jumlah pengunjung berkurang. Ia bersyukur, tidak perlu berpekan-pekan menenangkan jantung yang berdebar. Sambutan publik lumayan besar, dan ia bisa makan dalam arti sesungguhnya dari bisnis ritel ini. “Saya dulu sangat terbiasa melihat uang tunai miliaran rupiah. Saya pun acap melihat langgam orang kaya Jakarta yang bisa membelanjakan uangnya sampai Rp 10 miliar, tanpa berkedip, per sekali datang,” ujar Ardi. Kini ia mesti mengumpulkan uang-uang kecil dari hari ke hari. Ia melihat bagaimana uang Rp 500 demikian berarti, sebab uang sebesar itu setara dengan sebuah stroberi berkualitas prima. Kalau ia menambahkan satu stroberi ke dalam snow ice, dampaknya sangat besar, sebab semua gerainya di seluruh Indonesia harus menambahkan buah itu. Anggaran tambahan yang harus ia keluarkan pasti sangat besar.Dampaknya pun pasti besar. Berantai Salah hitung atau meleset sedikit saja bisa rugi. Siapa pun yang bermain di panggung ritel pasti mengerti bahwa rugi di ritel sangat menggelisahkan. Akibatnya cukup berantai. Di sisi lain, stabilitas moneter di bisnis ritel mutlak dijaga ketat. Jika tidak, perusahaan bisa terguncang. Memahami aspek ini, Ardi bersikap ekstra hati-hati dan penuh perhitungan dalam menjalankan bisnis ritelnya. Kini, usaha snow ice-nya sudah berjalan di jalur lurus, dan mulus. Tidak lagi terengah di kawasan beronak dan berbatu. Ia sudah bisa menghela napas lega. Publik Indonesia pun mulai mengenal produk makanan ringan, agak mirip es krim, yang patut dipertimbangkan. Ia berharap bisnis ini lebih subur dan lebih banyak orang bisa bekerja. Ketika merasakan denyut bisnisnya mulai berdetak teratur, Ardi melangkah lebih jauh. Ia mengumpulkan segenap energinya untuk membangun usaha baru di bidang furnitur. Bersama Lawrence, saudaranya, ia kerap berkeliling dunia menjumpai pemegang merek dunia. Dari perjalanan itu, ia akhirnya membuka ruang pamer di Jalan Gajah Mada, Jakarta. Tampak memberi harapan, ia membuka lagi panggung baru di Belezza Permata Hijau, Jakarta. Apakah semuanya mulus? Ardi tersenyum mendengar pertanyaan ini. Menurut dia, sungguh tidak mudah membangun perusahaan baru dari titik nol. Meski sudah mempunyai pengalaman luas, bekerja mulai level terbawah hingga mencapai kursi CEO, Ardi tetap merasa tidak mudah membangun perusahaan baru. Segalanya mesti disiapkan sebaik-baiknya, termasuk ekuitas yang kuat. Survei pasar dan peluang mesti dilakukan. Perhitungan meleset sedikit, hebat akibatnya. “Dan ketika akhirnya perusahaan baru itu diluncurkan, harus benar-benar beeennnnggg,” ujar Ardi sambil mempertemukan kedua telapak tangannya secara keras. Artinya, bunyinya harus bergaung kencang dan berefek amat luas kepada publik. Produk yang dilepas ke pasar pun harus prima. Dan ketika launching dilakukan, publik merasakan apa yang ditawarkannya sangat bernilai. Ardi menyatakan, bisnis baru ini masih bayi, harus dirawat secara telaten dan penuh cinta. Ia berharap bayi itu segera tumbuh menjadi anak yang lincah, cerdas, brilian. Ia pun mesti kerap main ke ruang publik yang lebih besar, yakni pameran-pameran berskala nasional dan regional. Tujuannya, meraih pesona dan cinta publik. Pada saat yang bersamaan Ardi memperjuangkan pemasaran produk Indonesia di luar negeri. Ia ingin produk Indonesia yang sangat bermutu menjadi bagian dari produk furnitur dunia. Agar konsumen dari Amerika Serikat, Eropa, Australia, dan Asia tahu bahwa Indonesia punya produk bermutu. “Saya hidup di sini, besar di sini, makan di sini. Sepantasnya memberi kontribusi, betapa pun kecil kontribusi itu,” katanya. (Abun Sanda) Sumber: Kompas
Post to: delicious, Digg, ma.gnolia, Stumbleupon
Search only in this blog
Search across Asia Blogging Network
More? Go to Asia Blogging Network Column section.
Ikuti diskusi Satu komentar untuk artikel ini.
U. Herani
Memulai bisnis dari nol memang sangat memerlukan tingkat kesabaran dan ketelatenan yang sangat-sangat tinggi, jika tidak maka jurang kehancuran bisnis tsb menunggu didepan kita. tak kalah tingginya dgn rasa berdebarnya jantung yang bertanya-tanya apakah kita sudah berjalan pada jalur bisnis yang tepat, maka berdo’a dan mengerahkan segenap kemampuan menjadi salah satu solusi untuk mencapai kesuksesan dalam meniti bisnis dari nol. SUKSES… UNTUK PARA PEJUANG WIRAUSAHA, AKU SALUT KEPADA ORANG-ORANG SEPERTI ANDA.
February 12th, 2008 at 6:08 pm