You're here: My Business Blogging » Entrepreneur! » Article: Pengangguran Terdidik (2)
Jumlah penganggur terdidik cenderung meningkat. Jika pada Agustus 2006 penganggur dari kalangan terdidik ini sebanyak 673.628 orang atau 6,16 persen, setengah tahun kemudian jumlah ini naik menjadi 740.206 atau 7,02 persen. Penganggur terdidik yang masuk kategori setengah penganggur jumlahnya lebih besar dibandingkan yang masuk kategori pengangguran terbuka. Penganggur terdidik cenderung menghindari lapangan kerja yang bersifat padat karya, dan memilih pekerjaan kantoran.
Jumlah Penganggur Terdidik Terus Meningkat Mengurangi angka pengangguran selalu menjadi prioritas program pemerintah. Namun, setiap tahun angka tersebut rasanya enggan berkurang. Jika pun berkurang, jumlahnya sangat kecil. Dari jumlah penganggur yang terdata, penganggur dari kalangan terdidik menunjukkan kecenderungan meningkat. Kecenderungan meningkatnya penganggur di kalangan kaum terdidik bisa jadi disebabkan kebijakan pemerintah dalam mengurangi angka pengangguran kurang sejalan dengan preferensi pencari kerja. Setiap tahun, lebih dari 300.000 lulusan perguruan tinggi dari jenjang diploma hingga sarjana atau strata satu (S-1) siap memasuki pasar tenaga kerja. Tahun ajaran 2005/2006, misalnya, Departemen Pendidikan Nasional mencatat jumlah mahasiswa yang lulus dari perguruan tinggi negeri dan swasta sebanyak 323.902 orang. Namun, tidak semua yang lulus ini terserap oleh pasar. Dengan kenaikan 1 persen pertumbuhan ekonomi yang hanya mampu menciptakan 265.000 lapangan kerja baru, praktis lulusan tersebut bersaing dengan sesama mereka. Juga, bersaing dengan pencari kerja lainnya yang telah berpengalaman dan tengah mencari peluang kerja baru. Lulusan yang kalah bersaing ini jelas akan menambah angka pengangguran. Data Survei Angkatan Kerja Nasional (Sakernas) per Februari 2007 yang dikeluarkan Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan, angka pengangguran terbuka berkurang menjadi 9,75 persen dibandingkan dengan periode Agustus 2006 yang besarnya 10,28 persen. Meskipun menurun, jumlah penganggur dari kalangan perguruan tinggi justru meningkat. Jika pada Agustus 2006 penganggur dari kalangan terdidik ini sebanyak 673.628 orang atau 6,16 persen, setengah tahun kemudian jumlah ini naik menjadi 740.206 atau 7,02 persen. Tren kenaikan ini sudah terlihat sejak tahun 2003. Padahal, tahun-tahun sebelumnya penganggur terdidik sempat berkurang setelah pada 1999 mencapai angka tertinggi, yaitu 9,2 persen. Setengah penganggur Selain dari indikator pengangguran terbuka, nasib lulusan perguruan tinggi yang kurang beruntung juga bisa dilihat dari kategori setengah penganggur. Termasuk dalam kategori ini adalah lulusan perguruan tinggi yang bekerja di bawah jam kerja normal, yaitu kurang dari 35 jam per minggu, baik karena terpaksa ataupun sukarela. Pengertian setengah penganggur terpaksa di sini adalah mereka yang masih mencari pekerjaan atau masih bersedia menerima pekerjaan lain. Sedangkan setengah penganggur sukarela adalah mereka yang tidak lagi mencari pekerjaan atau tidak bersedia menerima pekerjaan lain. Pekerja paruh waktu termasuk dalam kelompok setengah penganggur sukarela. Lulusan perguruan tinggi yang setengah menganggur ini jumlahnya lebih besar dibandingkan dengan yang pengangguran terbuka. Periode Februari 2007 angkanya hampir 1,4 juta orang, naik sekitar 26 persen dari Februari 2006. Lulusan perguruan tinggi akan memilih menjadi setengah menganggur ketimbang tidak bekerja sama sekali sehingga angkanya akan terus bertambah, sementara pengangguran terbuka juga tidak akan berkurang jika lapangan kerja tidak tersedia. Preferensi pekerjaan Salah satu solusi yang ditawarkan pemerintah untuk mengurangi angka pengangguran adalah menciptakan lapangan kerja yang bersifat padat karya. Namun, kalangan terdidik cenderung menghindari pilihan pekerjaan ini karena preferensi mereka terhadap pekerjaan kantoran lebih tinggi. Preferensi yang lebih tinggi didasarkan pada perhitungan biaya yang telah mereka keluarkan selama menempuh pendidikan dan mengharapkan tingkat pengembalian (rate of return) yang sebanding. Pilihan status pekerjaan utama para lulusan perguruan tinggi adalah sebagai karyawan atau buruh, dalam artian bekerja pada orang lain atau instansi atau perusahaan secara tetap dengan menerima upah atau gaji rutin. Hasil Sakernas semester pertama 2007 menunjukkan tiga dari empat lulusan perguruan tinggi memilih status tersebut. Hanya sedikit (5 persen) yang memiliki jiwa kewirausahaan, yaitu yang membuka usaha dengan mempekerjakan buruh atau karyawan yang dibayar tetap. Yang berusaha seorang diri ataupun dibantu buruh yang dibayar tidak tetap atau tidak dibayar sebanyak 13 persen. Adapun yang berstatus sebagai pekerja bebas, baik pada bidang pertanian maupun nonpertanian dengan sistem pembayaran harian ataupun borongan, sangat sedikit, kurang dari 1 persen. Dengan status pekerjaan sebagai buruh atau karyawan, lapangan pekerjaan yang diminati lulusan perguruan tinggi secara berturut-turut adalah bidang jasa (52 persen), perdagangan, hotel, restoran (14 persen), dan pertanian (10 persen). Bidang industri pengolahan hanya diminati oleh 8 persen lulusan. Dilihat dari rata-rata upah yang diterima pekerja tahun 2006, sebenarnya upah di tiga lapangan kerja yang diminati di atas tidak begitu tinggi, yakni berada di bawah Rp 1 juta per bulan. Pekerja di pertanian bahkan menerima upah paling rendah, rata-rata Rp 336.500 per bulan. Rata-rata upah per bulan di bidang keuangan adalah yang paling tinggi (Rp 1,4 juta), menyusul bidang kelistrikan, gas, dan air bersih (Rp 1,2 juta), serta pertambangan (Rp 1,1 juta). Sayangnya, bidang yang menjanjikan upah lebih tinggi biasanya cenderung lebih sempit memberi peluang kerja. Bidang yang tidak memerlukan teknologi tinggi cenderung lebih diminati. Bidang jasa dan perdagangan, misalnya, banyak menjadi incaran disebabkan tingkat kesulitan pekerjaan yang relatif rendah karena tidak memerlukan keterampilan teknologi tinggi. Dengan preferensi pekerjaan seperti ini, solusi untuk mengurangi angka pengangguran tidak bisa hanya mengandalkan proyek-proyek padat karya. Preferensi ini memberi sinyal kepada pemerintah untuk tidak sekadar meningkatkan jumlah dan mutu sumber daya manusia. Sebaliknya, di sisi lain juga harus menciptakan dan membuka pasar kerja buat mereka untuk berkarya. (GIANIE/Litbang Kompas) Sumber: Kompas
Post to: delicious, Digg, ma.gnolia, Stumbleupon
Search only in this blog
Search across Asia Blogging Network
More? Go to Asia Blogging Network Column section.
cURL error 52: Empty reply from server
Ikuti diskusi Ada 5 komentar untuk artikel ini.
fatkhul amien
Selama tujuan sekolah atau pendidikan hanya mmmencetak orang pandai, pengangguran akan terus bertambah. Tapi kalo tujuan sekolah adalah untuk memberantas kebodohan pasti pengangguran akan berkurang secara signifikan.
March 6th, 2008 at 12:47 pm
ika
kalau tujuan kuliah itu hanya
jadi budak kapitalis ( cari kerja)
maka pengangguran terdidik
akan terus berlanjut
May 30th, 2008 at 11:24 am
Prasetyo
saya kira pengangguran bukan hanya urusan pemerintah saja, tetapi perguruan tinggi sebagai pencetak “pengangguran terdidik” juga harus melakukan pembenahan. Kerjasama pemerintah, dunia usaha/industri dan perguruan tinggi harus terbina dulu, dan harus terjalin dengan baik (simbiosis mutualisme). Negara kita juga perlu berkaca pada negara Finlandia dan Korea Selatan dalam hal pendidikan
July 19th, 2008 at 8:49 am
fikry
pengangguran terdidik tidak akan habis selama semua orang berpikir ntuk mencari pekerjaan. kala semua orang mencari pekerjaan lalu siapa yg menyediakan lapangan pekerjaan? maka jadilah pengusaha!!! dan pengusaha tidak harus punya IPK diatas 2,5. bob sadino yg SMAnya berantakan pun bisa jd pengusaha sukses. kenapa anda tidak?
November 21st, 2008 at 5:41 am
Rudi
menurut hemat saya, pengangguran itu bukan masalah pendidikan universitas sebagai penghasilnya, tetapi personnya, atau pelakunya. Universitas dalam hal ini sebagai sarana umum untuk mempersiapkan seseorang dalam hal fikir (pengetahuan). Jadi, kalau person/oknum penganggur terdidiknya atau masyarakat umum menyalahkan ya, tidak bijak rasanya. Perlu berkaca diri untuk sukses. Baynyak lulusan SMA/STM/SD/ tidak bersekolah bisa bekerja jadi pengusaha dan sukses. Misalnya, jadi seniman, musisi, bahkan hingga jadi presiden. Oleh karena itu seorang penganggur terdidik perlu membuka wawasan dalam bidang yang lain, istilah lainnya ya, jemput bola terhadap berbagai peluang untuk usaha agar sukses. Serba mutualisme dalam berbagai bidang. Cobalah! mengapa takut malu?
February 27th, 2009 at 7:01 am