You're here: My Business Blogging » Entrepreneur! » Article: Pasar yang Diberangus (Lagi)
Pasar sejatinya menjadi tempat ideal untuk tumbuhnya para wirausahawan yang mandiri, yang dibesarkan dengan persaingan dan keahlian yang bertambah dari waktu ke waktu. Para pengusaha yang matang biasanya tumbuh dari pasar-pasar tradisional dan berkembang membangun jaringan sendiri sehingga brand mereka kemudian menjadi pasar tersendiri. Sayangnya, pasar-pasar tradisional lebih sering tampak tidak terurus, dan bahkan yang lebih pahit, jadi sasaran penggusuran.
Usaha pemerintah memfasilitasi pengusaha mikro, kecil dan menengah dengan membangun kompleks baru seringkali tidak berjalan mudah dan dapat diadaptasi dengan cepat, karena pada intinya, pasar itu bertumbuh, lahir dan besar sesuai dengan kebutuhan masyarakat dan zaman. Oleh karena itu, pemerintah seharusnya lebih bijak melakukan “penertiban” pasar.
Pasar Khas yang Diberangus (Lagi) di Jakarta Oleh: Neli Triana “Ini kesempatan terakhir menjual barang dagangan sebelum terpaksa pindah ke tempat lain. Kami harus menjual murah semua jenis keramik biar cepat habis. Jika tidak pindah hingga akhir minggu ini, barang obralan akan digusur. Bisa-bisa pecah semua. Padahal, ditempat baru nanti, belum tentu keramik laku karena kami harus membangun jaringan pelanggan dari awal,” kata Leni (40), salah satu pemilik kios keramik di Rawasari. Di pelataran tanpa atap peneduh dan terkadang diguyur hujan, Leni dan puluhan pedagang keramik lain berusaha menjaring pembeli sebanyak-banyaknya. Sejak Senin, kawasan ini menjadi pasar tumpah setelah pada Minggu, pasar keramik, pasar rotan, dan permukiman warga Rawasari digusur paksa. Untuk terakhir kalinya, para pedagang keramik yang berjumlah lebih dari 50 kios ini berlomba menawarkan barang. Harga produk pun didiskon 20 hingga 50 persen. Entah hari ini atau esok, para pedagang tersebut akan tercerai-berai, berpindah tempat atau bahkan terpaksa tutup selamanya. ”Jangan mengira semua pedagang di sini punya uang segudang sehingga ketika digusur dapat pindah tempat dengan gampang,” kata Rini (36). Rini dan suaminya baru saja mengeluarkan lebih dari Rp 100 juta untuk mengambil alih salah satu kios. Rini dan Widiantoro (41) percaya dengan nama besar Rawasari sebagai sentra keramik dan suntikan dana, kios dapat dikembangkan lagi. Ternyata, belum satu tahun, mereka tergusur. Uang kerohiman sebesar Rp 10 juta sama sekali tidak sepadan dengan tabungan yang diinvestasikan pasangan suami istri tersebut. Kekecewaan jelas menyelimuti wajah para pedagang. Leni, pemilik lima kios Empat Bersaudara, mengaku akan menyewa sebuah kios di Pasar Ular, Tanjung Priok, Jakarta Utara. Akan tetapi, kesedihan makin membelit ketika tersiar kabar, Pasar Ular pun akan direnovasi dan direlokasi. Tawaran Pemerintah Kota Jakarta Pusat untuk menampung para pedagang keramik di UKM Center di Waduk Melati, Tanah Abang, justru mengundang persaingan. Dinas Koperasi dan Usaha Kecil Menengah (UKM) DKI Jakarta Mara Oloan Siregar mengatakan, terpaksa para pedagang diseleksi untuk dapat menempati salah satu kios di UKM Center mengingat keterbatasan ruang yang dimiliki. ”Seleksi seperti apa yang akan diterapkan pemerintah? Melelang dan menjual kios kepada pedagang yang mampu membeli dengan harga tinggi?” kata Edi, pedagang. Frans Silalahi, juru bicara para pedagang keramik, menyatakan, Pasar Keramik Rawasari menjadi merek dagang yang ampuh dalam menjaring pembeli. Pasar ini berdiri setara dengan pasar khas lain di Jakarta, seperti Pasar Bunga Barito, Pasar Akik Rawa Bening, dan Pasar Buku Kwitang. Tiap-tiap pasar memiliki sejarah panjang sejak berdiri sekitar tahun 1970-1980-an. Pasar ini pernah dikenal sebagai sentra kerajinan keramik asli buatan Indonesia. Keramik dari Plered, Purwakarta, Jawa Barat, Brebes, Jawa Tengah, dan beberapa daerah di Jawa Timur pernah menjadi primadona di Rawasari. Serbuan barang-barang produksi China dalam kurun waktu 10 tahun terakhir meruntuhkan dominasi keramik lokal. Namun, hingga tergusur, Minggu, keramik lokal terlihat tetap eksis di antara berbagai jenis keramik yang diobral. Menurut Edi, selama ini produk keramik lokal sengaja dibaurkan dengan produk China. Keramik produk lokal biasanya berbentuk mirip keramik asli China, tetapi dipatok dengan harga miring karena kalah kualitas. Di Rawasari, pembeli bebas membeli keramik sesuai dengan kemampuannya tanpa takut tertipu. Di pasar sentra keramik ini, tambah Edi, persaingan sehat di antara pedagang terjaga. Pedagang tidak segan memberi tahu calon pembeli perbedaan antara produk lokal dan produk China. Namun, jika para pedagang tersebar, kondisi serupa tidak akan tercipta. ”Pemerintah seharusnya paham, pasar-pasar khas telah menjadi obyek wisata khusus yang menyedot pengunjung. Pasar-pasar khas ini menjadi pusat perekonomian rakyat yang tangguh. Terbukti lolos dari krisis moneter tanpa bantuan pemerintah. Kini, pasar demi pasar justru dirontokkan sendiri oleh pemerintah,” ungkap Frans Silalahi. Irfan Melayu, Ketua Dewan Pengawas Federasi Organisasi Pedagang Pasar Indonesia (FOPPI), mengungkapkan, berbagai upaya berdalih renovasi atau relokasi pasar justru berujung pemiskinan warga yang selama ini mandiri secara ekonomi. Padahal, di negara-negara maju, pasar tradisional dan punya kekhasan seperti Pasar Keramik Rawasari justru dilestarikan. Di Hongkong, China, misalnya, salah satu tujuan wisata terkenal adalah Pasar Central, pasar tradisional yang menjual aneka rupa barang khas negara itu. Pembina RT Tingkat Kecamatan Cempaka Putih Sarman Amirullah menyatakan, pihak kecamatan dan Pemkot Jakarta Pusat sangat memahami peranan pasar khas di Jakarta. Sarman mengatakan, selama enam bulan sebelum penggusuran, mereka telah membicarakan berbagai kemungkinan, termasuk merelokasi Pasar Keramik Rawasari. Namun, karena mahalnya lahan di seluruh Jakarta Pusat, pemerintah tidak mampu membeli dan menyediakan tempat relokasi. ”Kami pun memutuskan memberi uang kerohiman untuk membantu warga. Jangan menganggap kami tidak memikirkan mereka,” kata Sarman. Sumber: Kompas
Post to: delicious, Digg, ma.gnolia, Stumbleupon
Search only in this blog
Search across Asia Blogging Network
More? Go to Asia Blogging Network Column section.
Ikuti diskusi, tuliskan komentar Anda.