You're here: My Business Blogging » Entrepreneur! » Article: UKM dan Industri Jasa
Menarik mengamati perkembangan usaha kecil dan menengah (UKM) dunia yang beralih memasuki sektor jasa. Pada UKM yang masih memproduksi barang pun, sektor jasa pendukung menjadi sangat vital. Hal ini tidak lain menunjukkan persaingan yang semakin ketat tidak hanya pada perusahaan besar, tapi terutama di sektor UKM.
Di sisi lain, perkembangan ini berarti pula diperlukan dukungan yang lebih besar untuk tumbuhnya UKM. Faktor kemudahan memasuki bisnis UKM karena faktor modal dan cakupan bisnis lebih kecil, yang merupakan salah satu daya tarik UKM, tidak lagi terlihat sesederhana itu. UKM kini harus siap dengan elemen-elemen sektor jasa yang biasanya identik dengan teknologi dan inovasi yang cepat. Siapkah UKM kita?
UKM Mengarah kepada Industri Jasa ANDREAS MARYOTO Di tengah usaha-usaha kecil dan menengah atau UKM kita yang lebih banyak memproduksi barang, arah UKM dunia telah mengarah kepada sektor jasa. Perusahaan-perusahaan jasa yang tergolong UKM telah berkompetisi memasuki sektor jasa, mulai dari konsultasi, rekayasa, teknologi informasi, hingga desain produk. Fenomena itu muncul dalam World SME Expo atau Pameran UKM Dunia yang berlangsung di Hongkong, pertengahan Desember 2007. UKM yang memproduksi barang hanya sebagian kecil. Sebagian besar adalah UKM yang bergerak di wilayah industri jasa. Bila saja ada UKM produsen barang, UKM ini sangat ditunjang dengan peran sektor jasa yang kuat seperti desain. UKM yang hadir di pameran itu mulai dari mereka yang bergerak dalam jasa konsultasi rekayasa, produsen produk industri kreatif, hingga jasa akreditasi produk pertanian organik. Mereka lebih banyak menjual pemikiran dan ide dibandingkan dengan membawa produk-produk nyata. Terkait dengan hal ini, sudah pasti sejumlah negara yang dikenal sebagai negara dengan kemampuan desain yang tinggi, seperti Italia, Jerman, dan Jepang, hadir dalam pameran. Untuk itulah pameran kali ini digabung dengan Inno Design Tech Expo yang merupakan pameran inovasi desain terbesar di Hongkong. Keduanya saling menunjang karena inovasi desain merupakan salah satu hal yang menunjang bagi UKM di bidang desain. Italia menempati salah satu paviliun yang tergolong terbesar dalam pameran itu. Paviliun Italia terbagi dalam tiga kelompok. Produk yang dipamerkan mulai dari mobil, desain interior, arsitektur, dan lain-lain. Pada kelompok pertama, arsitek Italia, Massimiliano Fuksas dan Massimo Iosa Ghini, menampilkan kursi unggulannya, yaitu Seduta Sit Sat dan Alo, yang unik. Pada bagian kedua dipamerkan warisan Leonardo da Vinci, seorang seniman, penemu, pematung, dan perekayasa asal Italia. Ia adalah pelopor dalam sejarah desain Italia. Lembaga nirlaba bernama Associazione La Citta Ideale dalam pameran itu memamerkan sembilan karya Da Vinci yang sangat luar biasa, berupa reproduksi gambar Da Vinci dan dua manuskripnya. Pada bagian ketiga dipamerkan sejumlah produk kreatif lain dari berbagai perusahaan asal Italia. Sejumlah perusahaan ternama ikut dalam pameran, seperti Kartell. Wartawan asal Italia, Paolo Migliavacca, mengakui desain menjadi kunci ekonomi Italia. Negara lain bisa meniru desain-desain Italia, tetapi dalam hal kualitas, negara lain tidak pernah bisa meniru. Sementara itu, tuan rumah Hongkong tidak ketinggalan. Sejumlah perusahaan yang dikelola anak muda tampil dalam pameran itu. Mereka sudah memasuki pasar dunia untuk berbagai jasa dan produk kreatif. Untuk pengembangan pasar ke luar negeri, mereka mendapat bantuan dari Hong Kong Trade Development Council (HKTDC). Lembaga yang mengurus kepentingan dagang Hongkong di luar negeri ini menyatakan lebih dari 90 persen yang dibantu adalah UKM yang bergerak di bidang jasa. Menurut Kepala Komunikasi HKTDC Parker Robinson, pihaknya bertugas membantu membuka pasar, menyediakan data, dan membuka peluang pasar yang bisa dimasuki UKM Hongkong. HKTDC bergerak di hampir 50 perwakilan di berbagai negara untuk mengetahui kebutuhan pasar dan mencari celah bagi UKM Hongkong untuk memasuki pasar dunia. Tidak kalah penting dalam pengembangan UKM adalah tersedianya lembaga pendidikan yang memadai. Di Hongkong, sektor pendidikan mendapat perhatian penuh. Pengelola wilayah itu telah mencanangkan syarat tenaga kerja yang memasuki pasar harus berkualitas tinggi. Mereka juga harus menjadi tenaga kerja berkelas dunia. Untuk itu lembaga pendidikan harus mampu menghasilkan tenaga kerja sesuai kebutuhan pasar. Institut Desain Hongkong, misalnya, menampilkan sejumlah produk desain karya mahasiswa yang telah memenangi berbagai lomba berkelas dunia. Desain-desain mereka sangat berkelas dan memiliki keunikan. Mereka mendesain berbagai produk, mulai dari fashion, keramik, percetakan digital, dan lain-lain. ”Misi kami adalah menyediakan pendidikan desain berkelas dunia. Lembaga ini mendukung secara aktif pertumbuhan industri kreatif di Hongkong dan dunia,” kata Ketua Dewan Penasihat Institut Desain Hongkong Andrew Leung Kwan-yuen dalam pengantar buku pengenalan lembaga itu. Hongkong berusaha mengembangkan industri desain dengan berbagai cara. Salah satunya, mengundang para tokoh dunia yang bergerak di bidang desain. Untuk mendiskusikan inovasi desain dunia, berbagai desainer berkumpul dalam Business of Design Week 2007. Lebih dari 100 pembicara kelas dunia dari perusahaan Nokia, Lenovo, Ducati, Warner Brothers, dan Vitra Design Museum hadir dalam pertemuan itu. Beberapa nama, yakni Zaha Hadid, Marc Newson, Yao Ying Jia, dan Mario Bellini, menjadi orang penting dalam pertemuan itu. UKM terus bertumbuhan dan berkembang. Anak-anak muda akan makin terlibat dalam usaha yang tergolong praktis, penuh ide, dan dengan jumlah tenaga kerja yang tidak banyak. Hingga saat ini industri jasa tetap menjadi fokus mereka. Agaknya sudah saatnya UKM Indonesia mulai mengembangkan diri berbasis industri jasa, termasuk di dalamnya industri kreatif yang bernilai tinggi. Sumber: Kompas
Post to: delicious, Digg, ma.gnolia, Stumbleupon
Search only in this blog
Search across Asia Blogging Network
More? Go to Asia Blogging Network Column section.
Ikuti diskusi Ada 2 komentar untuk artikel ini.
Dunia TV
Salam perkenalan dari Dunia TV
February 26th, 2008 at 11:29 pm
Naftali Jarin
SEPAKAT!
Indusri kreatif berbasis ide original sebetulnya banyak sekali. Bandung, jogjakarta dan kota2 lain sebagai sentra indusrti memberi buktitentang indusri yang bernilai tinggi.
Masalahnya, tidak semua ide kreatif tidak menemukan tempat untuk diwujudkan. Apalagi untuk mereka yang terkendala dengan modal usaha. Masalah lain, tidak ada sebuah komunitas yang bisa menampung ide2 kreatif.
Maksud saya begini; lebih kurang 15 tahun yang lalu industri mainan dihebohkan oleh mainan elektronik yang sangat populer. Tamagochi, semua pasti pernah tahu. Ide menciptakan tamago (telur) dan mengkombinasikan dengan perangkat digital (watch), berasal dari seorang ibu rumah tangga yang menjual idenya kepada perusahaan mainan.
Nah, adakah komunitas “penangkap ide” seperti itu ada di Indonesia? Bila didukung oleh lembaga design dan tenologi misalnya ITB; IKJ dll, apa yang tidak mungkin?
April 2nd, 2008 at 12:53 am