You're here: My Business Blogging » Entrepreneur! » Article: Kewirausahaan Sejak Dini
Kajian menarik tentang kewirausahaan disampaikan tiga orang yang berkompeten, yaitu CEO PT Graha Layar Prima (pendiri Blitzmegaplex) Ananda Siregar, pakar kepribadian sekaligus Presiden Direktur Lembaga Pendidikan Duta Bangsa Mien Rachman Uno, dan Presiden Direktur Kiroyan Kuhon Partners/PT Komunikasi Kinerja, Noke Kiroyan.
Gambaran singkatnya, menanamkan jiwa kewirausahaan adalah dengan melakukan perubahan mental dan sikap yang dapat dilakukan sejak dini, tanpa mempertentangkan apakah kemampuan berwirausaha itu berkat bakat (terlahir) atau hasil pendidikan (terdidik). Selain itu, pendidikan dapat menjadi faktor pendorong kesuksesan berwirausaha atau sebaliknya.
Kewirausahaan Dibina sejak Dini Dibutuhkan Perubahan Mental Jakarta, Kompas - Jiwa kewirausahaan atau entrepreneurship dapat dibina atau ditanamkan sejak kecil. Kewirausahaan lebih kepada menggerakkan perubahan mental. Tidak perlu dipertentangkan apakah kemampuan wirausaha itu berkat bakat (terlahir) atau hasil pendidikan (terdidik). Demikian antara lain terungkap dalam Parenting Seminar yang diselenggarakan Universitas Paramadina, Sabtu (1/3). Hadir sebagai pembicara, CEO PT Graha Layar Prima (pendiri Blitzmegaplex) Ananda Siregar, pakar kepribadian sekaligus Presiden Direktur Lembaga Pendidikan Duta Bangsa Mien Rachman Uno, dan Presiden Direktur Kiroyan Kuhon Partners/PT Komunikasi Kinerja, Noke Kiroyan. Mien Uno mengatakan, untuk menjadi wirausahawan andal, dibutuhkan karakter seperti pengenalan terhadap diri sendiri (self awareness), kreatif, mampu berpikir kritis, mampu memecahkan permasalahan (problem solving), dapat berkomunikasi, mampu membawa diri di berbagai lingkungan, menghargai waktu (time orientation), empati, mau berbagi dengan orang lain, mampu mengatasi stres, dapat mengendalikan emosi, dan mampu membuat keputusan. Karakter-karakter tersebut dapat dibentuk melalui pendidikan sejak dini. ”Untuk mendidik anak menjadi seorang wirausahawan tidak dalam hitungan satu, dua, dan tiga, melainkan sebuah proses panjang. Dalam proses tersebut, orangtua perlu mengambil peranan,” ujarnya. Orangtua perlu menyupervisi anak dengan memberikan contoh yang baik dan menjaga agar ucapan sama dengan tindakan. Selain itu, orangtua ikut memotivasi anak, mengevaluasi mereka, dan memberikan apresiasi atas kerja keras anak. Selama proses tersebut, orangtua dapat mengamati kecenderungan sang anak. Perubahan mental Hal senada diungkapkan Noke Kiroyan. Bagi Noke, kewirausahaan lebih soal menggerakkan perubahan mental. Dia sendiri berpendapat tidak perlu dipertentangkan kewirausahaan itu sesuatu yang dapat dipelajari atau didapatkan sebagai bakat secara genetis. Pada dasarnya, apa yang disebut ”bakat” sebetulnya dapat saja merupakan pengaruh lingkungan dan hasil pendidikan. Pendidikan, bagi sebagian orang, bisa menjadi faktor pendorong kesuksesan berwirausaha atau sebaliknya. ”Seseorang tidak perlu predikat sarjana untuk menjadi pengusaha, tetapi dengan latar belakang pendidikan akademik, saya menduga banyak peluang akan terbuka karena lebih luas wawasannya dalam melihat peluang,” ujarnya. Sebaliknya, kata Noke, dengan pendidikan tinggi, seseorang dapat saja malah enggan mengambil risiko. Dalam pendidikan bisnis, misalnya, individu justru belajar menghindari risiko. Padahal, kewirausahaan itu sangat identik dengan mengambil risiko, menciptakan hal-hal baru, baik berupa produk, proses, atau cara pandang baru, serta melihat peluang yang belum dilihat orang lain. Negara berkembang justru potensial sebagai tempat mengembangkan kreativitas dan usaha-usaha baru. Terlebih lagi, Indonesia sangat kaya akan potensi sumber daya, baik alam, budaya, maupun manusia. Pengusaha muda Ananda Siregar meyakini, kewirausahaan diawali dengan sikap (attitude). Individu harus memiliki keyakinan bahwa tak ada yang mustahil. ”Yang dibutuhkan ialah sikap can do. Menjadi wirausahawan lebih merupakan cara pandang, pikir, dan sikap bahwa semua hal dapat dipelajari. Kewirausahaan tidak sekadar keterampilan teknis,” ujarnya. Semasa Ananda kecil, sang ayah suka bercerita tentang kesuksesan dan keberanian para pengusaha membangun bisnisnya(INE) Sumber: Kompas
Post to: delicious, Digg, ma.gnolia, Stumbleupon
Search only in this blog
Search across Asia Blogging Network
More? Go to Asia Blogging Network Column section.
Ikuti diskusi Ada 8 komentar untuk artikel ini.
alee
kalau menurut aku kemampuan berwirausaha bisa dari bakat yang ada dalam diri seseorang dan bisa juga di dapat dari pendidikan atau pembelajaran lingkungan, jadi tergantung bagaimana pengembangnya aja.
oh ya sebelum kita mau berwirausaha kit kudu atm2…amati,analisis,tiru,tekuni,mengevaluasi,mengembankan.
April 1st, 2008 at 8:40 pm
Naftali Jarin
SETUJU!
Pendidikan kewirausahan harus ditanamkan sejak dini. Anak harus dibiasakan untuk mengenal resiko dan peluang bisnis. Ledakan jumlah pengangguran saat ini telah menunjukan bahwa kreatifitas yang menjadi salah satu sifat wirausaha tidak terbentuk.
Ini merupakan kegagalan penyelenggara pendidikan karena tidak menciptakan kurikulum yang dapat menumbuhkan sikap kewirausahaan, sehingga pemerintah selalu menjadi harapan dalam penyediaan lapangan kerja.
Seandainya sense of entrepreneur dimiliki setiap orang dalam usia produktif, kita tidak perlu lagi mengirim TKI/TKW yg kemudian menimbulkan image buruk bangsa ini.
Saatnya dari sekarang kita membentuk generasi entrepreneur dalam lingkungan keluarga.
Saya percaya kita bisa melampaui China dan India.
April 2nd, 2008 at 12:32 am
andini faisal
Sebelum terjun ke dunia persilatan dagang yang kejam…tes talenta dulu deh, kita berbakat ato tidak…jangan sampai waktu dibuang percuma…hidup itu singkat, so jangan buang2 waktu…maksimalkan apa yang ada dlm diri kita, supaya bisa berguna buat diri kita, keluarga dan pasti buat bangsa dan negara ini. Jiwa wirausaha itu kalo menurutku harus punya semangat yang dimiliki pahlawan2 terdahulu. Jadi wirausaha berarti jadi pahlawan di negara sendiri…senangnya.
May 6th, 2008 at 3:35 pm
fathur
aku setuju, bila sejak dini sudah ditanamkam jiwa wirausaha. Bagaimanapun juga setiap manusia tidak tergantung terus dengan orang lain, jadi harus di biasakan untuk mandiri. Mayoritas penduduk Indonesia sangat mengharapkan bekerja di instansi pemerintahan dan sudah menjadi traumatis baginya. jikalau tidak bekerja di instansi perintah maka akan merasa kurang pas di hati.
June 5th, 2008 at 1:57 am
Timbul
menurut aku memang sangat penting berwirausaha sejak dini,tetapi kenapa kok sulit ya?dan aku ingin menyangkal pernyataan yang ada di atas itu bukan mayoritas tetapi fakta yang belum terjawab sampai saat ini.so pemerintah harus lebih melihat kebawah lagi tentang bagaimana fasilitas pendidikan yang berikan.
June 21st, 2008 at 1:45 pm
MMFaozi
Saya setuju dengan bahwa wirausaha adalah sikap mental atau dalam bahasa saya adalah paradigma. Dibutuhkan paradigma agar seseorang mampu membangun usaha, melalui semua bentuk kesulitan sebagai pemula dalam bisnis, dan membangun sistem bisnis.
Namun, saya kurang setuju jika lulusan sarjana memiliki peluang lebih besar untuk membangun kewirausahaan.
Salah satu hal terpenting untuk menjadi pengusaha adalah keberaninan untuk mengambil sebuah resiko. Sementara seorang sarjana, justru karena kemampuan, wacana dan gelar akademis yang dimilikinya menghambatnya untuk menjadi sarjana.
Beberapa hal yang menghambat diri mereka dan mempengaruhi opini orang lain :
1. Kemampuan berpikir dan menganalisa cenderung dipengaruhi doktrin untuk menjadi pekerja, dan menjadi pengusaha adalah bersiko. Atau cenderung takut dan terlalu banyak pertimbangan untuk menjadi pengusaha.
2. Gelar akademis yang mereka miliki menjadi beban untuk memulai bisnis dari nol. Angan-angan yang terlampau besar semasa kuliah telah menjebak mereka untuk memmilih mencari pekerjaan yang terasa lebih “elit”.
3. Investasi orang tua dan dunia pendidikan (penanaman paradigma) justru mendorong mereka untuk menjadi pekerja bukan pengusaha.
4. Peluang kesempatan kerja mereka, sekalipun sangat sempit dan banyak penganggurannya, tetap lebih besar dibandingkan yang bukan sarjana.
Dan masih banyak yang lainnya. Tetapi setidaknya komentar saya ini untuk mendorong bahwa tidak ada kaitannya sedikitpun antara gelar akademis dengan kesuksesan bisnis seseorang. Dunia bisnis adalah tetap dunia lain yang bisa dipelajari oleh siapa saja, seklaipun tanpa gelar pendidikan apapun.
Dan ke arah sanalah seharusnya kita terus menggerakkan dunia wira usaha.
Karena jumlah pengangguran yang bukan sarjana jumlahnya jauh lebih besar, dan berpotensi untuk menajdi pangusaha.
June 24th, 2008 at 7:20 pm
Hadi
Saya sangat setuju dengan ide untuk menanamkan jiwa kewirausahaan dari kecil. Apabila hal ini dapat ditanamkan sejak dini maka perkembangan bangsa ini akan semakin cepat dan dapat kembali menjadi salah satu negara asia yang pertumbuhan ekonominya diakui seluruh dunia. Tapi ada hal yang jangan dilupakan penanaman jiwa kewirausahaan sejak dini juga harus diikuti dengan penanaman sikap kejujuran dan anti korupsi.
June 27th, 2008 at 7:17 am
m.suswaidi
bagaimana tidak…? wirausaha telah memberikan segalanya. predikat “sukses” hanya dimiliki oleh pengusaha, yang lain tidak…
October 13th, 2008 at 9:12 pm