You're here: My Business Blogging » Entrepreneur! » Article: Sistem Tarif Listrik Ancam UKM (1)
Rencana penerapan sistem tarif listrik baru dengan sistem insentif dan disinsentif mengancam kelangsungan hidup industri rumahan yang menggunakan listrik di atas rata-rata rumah tangga biasa. Sistem ini akan memperburuk kondisi UKM konfeksi Cipadu yang sedang oleng akibat daya beli masyarakat yang semakin menurun serta persaingan dengan baju-baju murah asal Cina yang bermutu bagus tapi harga lebih murah.
Lonceng Kematian Usaha di Cipadu Tinggal Menunggu Waktu… Soelastri Soekirno Pemerintah sekarang bisanya hanya bikin warga tambah sengsara. Apa rakyat dianggap masih kurang beban sampai masih harus ditambah aturan baru tarif listrik. Sudahlah, kalau tak mampu ngatur negara mundur saja,” ujar Basri, pengusaha konfeksi di Kelurahan Jurangmangu Timur, Kecamatan Pondok Aren, Kabupaten Tangerang, Selasa (4/3). Lelaki yang berusia hampir 60 tahun itu tampak geram. Roman mukanya memerah menahan marah. ”Saya tak setuju kalau tagihan listrik dinaikkan. Kami akan berbuat sesuatu untuk memprotesnya,” lanjutnya. Ia mengancam akan mengajak para pengusaha konfeksi lain yang tersebar dari Kota dan Kabupaten Tangerang hingga Cipulir-Kebayoran Lama di Jakarta Selatan bertindak jika pemerintah tak mau tahu kesulitan rakyat, seperti pengusaha konfeksi rumahan macam dirinya. Sikap yang sama ditunjukkan Salam (58), pemilik usaha pembuatan kusen dari aneka kayu di Jalan Raya Cipadu, Kabupaten Tangerang. Lelaki asal Gunung Kidul itu blak-blakan berujar, ”Saya tahu program baru PLN itu dari televisi. Ada contoh bayar rekeningnya, tapi malah bikin pusing kepala. Begini saja, kalau mau menaikkan tarif listrik, lebih baik naikkan saja daripada bikin mumet rakyat. Wong ujung-ujungnya rakyat diinjak-injak juga.” Beragam tanggapan keras atas rencana PLN menerapkan sistem baru penghitungan listrik diungkapkan warga di Kabupaten dan Kota Tangerang awal pekan lalu. Jelas, buat pelaku usaha kecil, kenaikan tarif listrik yang menurut warga dikemas dalam skema pembayaran listrik disinsentif dan insentif akan jadi tambahan beban bagi mereka. Masalahnya, industri jahit- menjahit atau usaha pembuatan kusen dengan mesin potong listrik jelas sangat butuh setrum listrik dalam jumlah cukup. Produksi industri konfeksi kelas rumahan di kawasan Cipadu memasok kebutuhan baju, seprai, dan lain-lainnya ke Pasar Tanah Abang, Cipulir, Cililitan (Jakarta), hingga luar Jawa. Tanpa pasokan tenaga listrik cukup, jangan berharap industri rumahan yang menghidupi ribuan tenaga kerja bisa berjalan lancar. ”Apa mau kembali ke zaman dulu. Pakai mesin jahit yang digerakkan kaki atau tangan. Kapan selesai jahitnya?” tanya Abi, penjahit yang bekerja di usaha konfeksi milik Endi, warga RT 3 RW 5 Kelurahan Cipadu Jaya, Kota Tangerang. Sebuah mesin jahit atau obras umumnya butuh tenaga 100 watt untuk menghidupkan mesin. Jika mesin untuk produksi makin banyak, makin besar pula kebutuhan listriknya. Sementara daya listrik di rumah sekaligus tempat usaha konfeksi antara 450 watt, 900 watt, atau 1.300 watt. Tentu saja rencana PLN nanti bisa membuat rekening listrik di rumah pengusaha rumahan terkena denda karena pemakaiannya di atas rata-rata rumah tangga biasa. Jika keadaan itu terjadi, kehidupan pengusaha konfeksi rumahan akan makin oleng. Sekarang, tanpa terkena tambahan tarif listrik saja, napas usaha konfeksi sudah terengah- engah. Maklum, kondisi perekonomian yang buruk membuat usaha konfeksi di Cipadu dan sekitarnya terpuruk. Hal itu terjadi karena daya beli masyarakat makin turun sehingga pemasaran produk konfeksi merosot. Keadaan itu masih ditambah oleh derasnya impor baju asal China bermutu lumayan bagus tetapi harganya lebih murah daripada produk dalam negeri. ”Sekarang ini boro-boro beli baju. Yang penting mikir beli beras dan minyak goreng dulu,” ujar Dodi (39), pengusaha konfeksi khusus bordir yang tinggal di RT 4 RW 5 Kelurahan Cipadu Jaya. Kini banyak pengusaha kecil konfeksi memilih menjadi tukang jahit saja agar tetap bisa makan. Untuk sementara cara itu menyelamatkan kehidupan usaha konfeksi. Namun, jika tagihan listrik ikut naik, barangkali saat itulah lonceng kematian usaha kecil di kawasan Cipadu berdentang. Sumber: Kompas
Post to: delicious, Digg, ma.gnolia, Stumbleupon
Search only in this blog
Search across Asia Blogging Network
More? Go to Asia Blogging Network Column section.
Ikuti diskusi, tuliskan komentar Anda.