You're here: My Business Blogging » Entrepreneur! » Article: Santi, Kreativitas dan Komunitas
Ada dua modal dasar untuk suksesnya sebuah usaha, yaitu kreativitas dan pasar yang jelas. Keduanya dimiliki oleh Santi Ariestyowanti (31), selain skill dasarnya sebagai seorang lulusan lulusan Desain Komunikasi Visual Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta tahun 2001.
Dengan setidaknya tiga modal tersebut (ditambah sikap rendah hati) , serta komitmen untuk berwirausaha sejak awal, membuat Santi tetap eksis di dunia bisnis kreatif yang sangat kompetitif. Jalan senantiasa terbuka untuk pilihan-pilihan yang diambilnya, bahkan pasar terbuka luas ke mancanegara, yang sering kali tidak bisa dia penuhi.
Jalan Santi adalah jalan pewirausaha muda yang inspiratif.
Santi Meraup Rezeki dari Komunitas Indie Budi Suwarna Sejak karya grafisnya digunakan untuk sampul kaset grup band Sheila On 7, Santi Ariestyowanti (31) bertekad menekuni usaha grafis secara serius. Kini dia menjalankan komunitas usaha bernama Indieguerillas di di Jalan Kaliurang, Yogyakarta. Produk yang dia hasilkan antara lain, poster, lukisan digital, kaus, gantungan kunci, dan boneka dari kertas atau resin. Produk-produk dengan merek Indieguerillas itu kebanyakan dibuat dalam jumlah terbatas agar eksklusif. Santi sengaja membuat produknya dalam jumlah terbatas. Pasalnya, pasar produknya adalah komunitas indie yang umumnya gemar mengoleksi barang-barang unik dan eksklusif. ”Umumnya, satu karya saya buat 5-10 potong. Kalau barang-barang kecil, seperti gantungan kunci atau boneka, paling banyak saya buat 100 potong,” kata Santi, lulusan Desain Komunikasi Visual Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta tahun 2001, Senin (31/3) di Kaliurang. Dia mengaku sebenarnya tidak merencanakan memasuki ceruk pasar indie, tetapi belakangan produk yang dia hasilkan kebanyakan mengalir ke komunitas ini. ”Akhirnya, ceruk pasar ini saya garap serius,” ujar Santi. Santi mengatakan, ada beberapa keuntungan menggarap pasar indie. Salah satunya, dia merasa menjadi lebih kreatif. ”Komunitas indie itu selalu menginginkan produk yang berbeda dari yang lain. Ini mendorong saya membuat desain terbaru yang unik,” kata dia. Salah satu karya Santi yang unik adalah boneka kertas gaya Jepang dengan karakter tokoh wayang, yakni Bagong yang mengenakan sepatu Adidas. ”Saya memang sengaja menabrakkan unsur tradisional dan modern dalam desain saya. Dengan cara itu, desain saya bisa menarik perhatian dan punya ciri,” ujarnya. Santi mengatakan, produknya tidak hanya diminati kolektor lokal, tetapi juga kolektor mancanegara, termasuk dari Singapura dan Eropa. Namun, Santi tidak selalu bisa memenuhi pesanan mereka. Pasalnya, dia belum mengerti prosedur perdagangan ke luar negeri. Berkat Sheila Sejak kuliah, Santi sudah bertekad bekerja di rumah. Karena itu, dia menolak beberapa tawaran kerja. ”Saya berpikir bekerja di rumah lebih enak karena saya bisa mengatur jadwal sendiri dan mengurus keluarga,” kata Santi. Santi mengaku mulai mencoba-coba menawarkan desain grafisnya pada tahun 1999 ketika masih kuliah. Tidak disangka, grup band Sheila On 7 tertarik menggunakan desainnya untuk sampul kaset album ke-2 dan ke-3. Setelah sukses menggarap sampul kaset Sheila On 7, Santi mendapat pesanan membuat beberapa produk untuk grup band Padi seperti kaus, newsletter, dan gantungan kunci. ”Sejak saat itu karya saya mulai dikenal orang. Bahkan, tukang pecel lele meniru desain saya untuk spanduk di warungnya,” kata Santi sambil tertawa. Santi pun melihat peluang usaha di bidang grafis. Tahun 2000, dia mendirikan komunitas bisnis Indieguerillas. Usaha itu kini dia garap bersama suaminya, Miko Bawono (33), dua desainer, dan seorang tenaga produksi. Santi memulai bisnisnya dengan membuat poster yang dia lukis sendiri. Lukisan itu kemudian disempurnakan dengan program komputer dan dicetak. Poster semacam itu harganya bisa ratusan ribu hingga jutaan rupiah, bergantung pada keeksklusifannya. ”Kalau hanya pesan satu poster dengan desain eksklusif, harganya pasti lebih mahal, bisa jutaan rupiah,” kata dia. Setelah sukses dengan poster, tahun 2005, Santi melirik boneka. Kebetulan waktu itu boneka berbahan vinil dengan karakter tokoh kartun sedang naik daun. ”Boneka seperti itu harganya mahal sekali, bisa jutaan rupiah. Karena itu, saya mencoba membuat boneka-boneka tokoh yang harganya lebih murah,” papar Santi. Dia memilih boneka berbahan kertas dan resin dengan harga satuan Rp 100.000-Rp 150.000. ”Saya juga melayani orang yang meminta karakternya dijadikan boneka. Nah, kalau yang seperti ini harganya bisa Rp 2 juta,” tambahnya. Saat ini Santi melayani juga pembuatan desain eksklusif untuk benda apa pun, mulai sepatu, tembok, papan skateboard, sampai kaus. ”Ada beberapa produsen sepatu yang mengirim sepatu polos untuk saya desain,” ujar dia. Santi menolak menyebutkan omzet usahanya. Dia hanya mengatakan bisa mencapai puluhan juta rupiah per bulan. ”Ini buah dari kerja keras kami semua,” tuturnya. Sumber: Kompas
Post to: delicious, Digg, ma.gnolia, Stumbleupon
Search only in this blog
Search across Asia Blogging Network
More? Go to Asia Blogging Network Column section.
Ikuti diskusi Satu komentar untuk artikel ini.
Fitry
produk anda unik dan inovatif dan saya tertarik memasarkan produknya, apa bisa katalog produk dan harganya dikirim ke email saya…makasih semoga sukses selalu.
May 20th, 2008 at 10:12 am