← Kembali ke halaman depan

Shantica

Shantica mengajarkan kepada kita bahwa proses berwirausaha adalah proses belajar dan bekerja sama serta tidak mengenal batas usia. Dia tidak bisa membuat pola dan menjahit, tidak mengenal seluk-beluk produksi pakaian, belum pernah berburu material baju, dan tidak mengerti pemasaran, tetapi dia nekat memasuki bisnis produksi baju anak. Ya, dia memiliki rekan kerja yang andal, perancang busana Sebastian Gunawan dan istrinya Christina Panarese, dan adik iparnya, Herman, yang pernah menjadi asisten Sebastian untuk urusan bisnis.

Shantica mengaku tidak punya ciri-ciri wirausahawan dan berlatar belakang sebagai wartawan di majalah Femina. Tetapi, dia ternyata berani mengambil risiko melakukan sesuatu yang baru, salah satu karakter kunci yang harus dimiliki wirausahawan.

Shantica pun menerima pelajaran yang “berdarah-darah” karena banyak melakukan kesalahan dalam proses produksi. Tapi, itu membuatnya semakin piawai, termasuk dalam berburu materi bahan di Jakarta, Bandung, hingga Bali, sesuatu yang tidak ia kenal sebelumnya.

Proses belajar itu, ternyata ada hasilnya. Ia kini merasa kondisi bisnisnya sudah lebih lumayan. Pasarnya sudah terbuka ke mancanegara. Tetapi, disadarinya, ia tetap masih harus belajar.

“Quantum Leap” Shantica Ninuk Mardiana Pambudy Dia sempat dinasihati seniornya tidak cocok jadi pengusaha, tetapi karena sudah bertekad bulat dia teruskan niat itu. ”Seperti melakukan ”quantum leap” ya?” kata Shantica tergelak. Empat tahun setelah memutuskan memproduksi baju anak-anak Bubble Girl bersama perancang busana Sebastian Gunawan, Christina Panarese yang adalah istri Sebastian, dan Herman yang adik iparnya, Shantica kini merasa mulai menjejak tanah. ”Sekarang quantum leap saya sudah mulai menjejak tanah,” kata Shantica lagi. Ungkapan lompatan besar itu tidak berlebihan, begitu pula nasihat dengan niat baik itu bukannya tanpa alasan. Shantica sendiri merasa tidak punya ciri-ciri wirausahawan. Apalagi waktu 10 tahun dia habiskan dengan menjadi wartawan di majalah Femina. ”Saya merasa bukan jenis orang yang memburu uang, padahal kayaknya pengusaha itu orang yang mengejar uang ya,” kata lulusan Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia itu. Pilihan memasuki bisnis produksi baju anak, lebih spesifik lagi baju pesta untuk anak perempuan, memang agak nekat. Shantica menyebut, dia tidak bisa membuat pola dan menjahit, dia tidak mengenal seluk-beluk produksi pakaian, dia belum pernah berburu material untuk membuat baju, dan tidak mengerti pemasaran. ”Saya pe-de masuk ke bisnis ini karena yakin bisa dan mau mencoba. Meskipun banyak hal tidak tahu, tetapi saya merasa punya selera bagus dalam fashion anak dan tahu ada kebutuhan untuk itu karena saya sebagai ibu merasakan kebutuhan itu. Makanya, saya pe-de bisa mengisi peluang pasar,” kata dia. Saat awal tahun 2004 produk Bubble Girl dimulai, dia merasa seperti lumpuh karena nyaris tak paham berbagai tahap proses produksi. ”Saya sempat merasa seperti orang bego. Tetapi, saya juga merasa ini gunanya belajar,” tambah Shantica. ”Dari awal saya sadar, ini sesuatu yang berbeda dari yang saya tahu.” Meski begitu, risiko yang dia ambil bukannya tanpa perhitungan. Dia sudah kenal lama dengan Sebastian Gunawan yang merupakan teman lama keluarga. Dia juga merasa cocok dengan Christina yang berdarah Italia. Sementara Herman pernah menjadi asisten Sebastian untuk urusan bisnis. ”Jadi, sebetulnya kami bukan orang-orang yang baru saling kenal,” tutur ibu dua anak itu. Mengatur waktu Tidak mudah berhenti sebagai wartawan karena dia menyenangi profesi itu. Keputusan akhirnya diambil setelah anak pertamanya, Cakra, akan menginjak bangku SMP. Seperti banyak perempuan lain yang kerja kantoran dengan jam kerja tetap, Shantica juga sampai pada satu titik ingin punya waktu lebih banyak dengan anak-anak. Bedanya, dia berani mengambil risiko melakukan sesuatu yang baru, sementara banyak yang lain enggan meninggalkan zona nyaman mereka. ”Saya merasa anak-anak jadi besar sendirian. Jam kerja saya nine to five, kadang-kadang lebih kalau menjelang deadline. Apalagi suami saya juga sibuk,” kata perempuan yang tetap mau punya kemandirian dan kesibukan di luar urusan rumah. ”Kalau punya usaha sendiri, saya bisa mengatur waktu.” Shantica memang mendapatkan waktu yang dia cari untuk lebih banyak mengikuti kegiatan anaknya di rumah atau sekolah dan berlibur bersama sekeluarga, sesibuk apa pun pekerjaannya, tanpa dibatasi jumlah hari cuti. ”Saya bisa delegasikan pekerjaan ke asisten di kantor,” tutur dia. Berdarah-darah Tahun pertama dikenang Shantica sebagai tahun yang ”berdarah-darah”. Banyak kesalahan dalam proses produksi karena ternyata memproduksi pakaian dalam jumlah besar memiliki cara kerja berbeda dibandingkan membuat baju dalam jumlah terbatas, seperti pengalaman pada produksi baju perempuan karya Sebastian Gunawan dan Christina yang eksklusif. Dia mencontohkan, soal ukuran baju untuk anak perempuan usia 5-12 tahun itu, soal tenggat waktu produksi, atau pola pakaian yang menuntut penempatan motif secara khusus yang membutuhkan banyak kain sementara harga produk sudah ditakar. Pun tuntutan membuat produk berkualitas dengan harga pas membutuhkan kepiawaian berburu materi di Jakarta, Bandung, hingga Bali, sesuatu yang dia belum pernah kenal sebelumnya. ”Saya harus datang sendiri melihat stock lot di pabrik kain supaya dapat barang yang cocok, terutama saat awal proses desain dan pembuatan story board,” kata Shantica. ”Kalau sudah kesulitan mendapat kain yang dibutuhkan dan kebetulan Christina ada di Jakarta, saya ajak dia ikut, juga ke Tanah Abang.” Shantica belajar dari masukan pembeli, komentar teman, survei pasar, buku dan majalah, juga dari toko dan gerai baju anak yang dia datangi ketika berlibur ke berbagai kota dunia. Selain itu, sudah pasti putrinya sendiri. ”Saya selalu minta Putri mencoba sampel yang akan diproduksi, terutama untuk urusan kenyamanan. Kalau untuk model sih saya enggak selalu menyetujui pendapat dia, bisa repot,” tambah Shantica tergelak. Sekarang, Shantica merasa situasinya sudah lebih lumayan. Bubble Girl sudah cukup rutin dipasarkan ke Italia, pernah dua kali dibeli putus oleh pembeli Australia, dan kini dalam negosiasi melalui agen untuk pasar Singapura. Kata dia, ”Sudah kelihatan jalannya meskipun setiap hari selalu ketemu problem baru dan harus terus belajar. Sumber: Kompas

Ikuti diskusi Ada 2 komentar untuk artikel ini.

  1. bettypribadi

    Saya sangat tertarik dengan pengalaman ibu shantica, kareana saya juga ibu rumah tangga yg pernah bekerja di perusahaan asing, selama 16 tahun sebagai IT.
    Saya ingin sekali seperti ibu, yg bisa berwiraswasta, keetulan saya dengan model model baju tapi belum bisa menjahit, dan tidak seberuntung ibu yg mempunyai teman dan saudara yg sudah expert dibidangnya, saya ingin sekali seperti biu tetapi dalam skup kecil.Berikan saya saran bu shantica,umur saya 43th, saya s1 comp, dan d3 Acc, terimakasih atas saran saran ibu.

    April 10th, 2008 at 10:55 am

  2. sandi

    Kak Shantica memang tipe orang yang ulet dan terus mau berjuang serta berusaha. memang sekilah terlihat bahwa dirinya beruntung karena memiliki kenalan Sebastian & istri serta adik ipar yang piawai.
    akan tetapi, menurut saya, tanpa adanya keuletan seorang entrepreneur semua yang ada di sekeliling dirinya pun bisa jadi kurang berguna.
    dapat memanfaatkan keaadaan yang ada di sekitar diri juga merupakan kekuatan seorang entrepreneur

    May 20th, 2008 at 11:20 pm

Ikuti diskusi, tuliskan komentar Anda.

Our channels and feeds

  • Business Channel (7 blogs)
  • City Channel (26 blogs)
  • Film Channel (10 blogs)
  • Health Channel (6 blogs)
  • Sport Channel (6 blogs)
  • Media Channel (6 blogs)
  • Lifestyle Channel (4 blogs)
  • Hobby Channel (4 blogs)
  • Science Channel (8 blogs)
  • Music Channel (3 blogs)
  • Tech Channel (10 blogs)
  • Tips Channel (4 blogs)
  • Travel Channel (9 blogs)
  • Writing Channel (5 blogs)