You're here: My Business Blogging » Entrepreneur! » Article: Dilema Pengusaha Kue dan Roti
Kenaikan harga bahan baku kue dan roti yang telah berjalan hampir enam bulan ini serta menurunnya daya beli dan konsumsi masyarakat, membuat pengusaha kecil kue dan roti berada di persimpangan jalan. Mereka harus mengambil berbagai langkah untuk menyelamatkan usahanya, mulai dari mengurangi tenaga kerja, mengurangi produksi, hingga mengerjakan usaha lain untuk dapat bertahan hidup.
Sayangnya, dalam kondisi yang sangat dilematis ini, dukungan permodalan terhadap kelangsungan mereka juga sangat minim, sehingga mereka terpaksa beralih kepada para rentenir. Bagaimana pun, ancaman terhadap kelangsungan usaha mereka, merupakan ancaman terhadap ketahanan perekonomian kita yang ditopang oleh kewirausahaan.
UKM Kue dan Roti Makin Sekarat Pegawai Terus-menerus Dikurangi Jakarta, Kompas - Usaha kecil dan menengah yang memproduksi kue dan roti terus berguguran akibat kenaikan harga bahan baku. Mereka berusaha bertahan dengan mulai meminjam uang untuk modal kerja dari rentenir serta mengurangi pegawai. Daya tahan mereka hanya akan sampai semester kedua tahun 2008. ”Kalau harga masih terus tidak stabil, usaha begini enggak mungkin bisa selamat lewat pertengahan tahun nanti. Sekarang saja sudah sekarat,” kata Itje (38), pengusaha kue Wilim Snack yang berjualan kue subuh di kawasan Margonda, Depok. Itje sejak tiga bulan terakhir terus-menerus mengurangi pegawainya dari yang semula 12 orang kini tinggal empat pegawai. Sebagian besar pegawainya yang berasal dari Tegal dan Purwokerto itu telah pulang kampung. ”Daya beli anjlok, pesanan kini sepi. Kantor-kantor pemerintah yang tiap rapat atau olahraga pagi ada snack sekarang kebiasaan itu tidak ada lagi,” kata Itje. Erlin Subagia (35) dari perusahaan roti dan kue Raos Putra di Cimanggis, Depok, kini sudah tidak lagi memproduksi roti untuk dijual keliling dengan gerobak atau sepeda. Roti kini hanya dibuat jika ada pesanan. Adapun kue masih diproduksi untuk dijual di pasar kue subuh di Pasar Melawai, Jakarta Selatan. Namun, kapasitas produksinya terus turun. ”Dulu kami jualan roti manis dan dijual keliling 50 pedagang. Sekarang enggak sanggup lagi,” kata Erlin yang pegawainya kini tinggal lima orang. Kurang dari enam bulan, kenaikan harga bahan baku roti dan kue sangat memukul pelaku usaha kecil dan menengah (UKM). Terigu yang semula Rp 108.000 per bal (25 kilogram) kini harganya sudah Rp 165.000 per bal. Satu peti telur (15 kg) yang semula seharga Rp 140.000 kini menjadi Rp 182.000. Harga margarin kualitas menengah yang semula Rp 130.000 per karton (15 kg) kini membubung menjadi Rp 190.000 per karton. ”Telur dalam satu hari harganya bisa naik dua kali. Belakangan harga telur sangat enggak stabil,” kata Erlin. Rentenir Dalam kondisi sulit seperti itu, para pengusaha UKM ini mengaku meminjam uang dari rentenir adalah cara yang mau tak mau ditempuh. ”Kalau mau pinjam di bank prosesnya bertele-tele,” kata Itje yang kerap meminjam uang sekitar Rp 2 juta untuk modal produksi. Raman (35), pembuat kue yang berjualan di Pasar Melawai, mengaku kini menyambi bekerja sebagai penjual kasur pegas sebagai upaya mempertahankan usaha kuenya. Pegawai Raman yang semula 20 orang kini tinggal lima orang. ”Kalau sudah begini saya rasa lebih baik kerja sama orang saja, enggak mau lagi wirausaha,” ujar Raman. (SF) Sumber: Kompas
Post to: delicious, Digg, ma.gnolia, Stumbleupon
Search only in this blog
Search across Asia Blogging Network
More? Go to Asia Blogging Network Column section.
cURL error 52: Empty reply from server
Ikuti diskusi Satu komentar untuk artikel ini.
alexandria
sebaiknya teks tersebut disertai dengan gambarnya agar para masyarakat luas dapat melihat pengusaha terssebut
February 13th, 2009 at 2:56 pm