Kisah Petani Muda
Inilah kisah petani muda. Merantau ke negeri orang, mengaku tak mendapat hasil. Kemudian pulang kampung ke desanya dan memilih jadi petani. Kata mereka menjadi petani bukanlah pilihan keterpaksaan. Tetapi, karena mereka melihat pertanian masih menguntungkan jika dikerjakan dengan baik dan rasional. Prinsipnya, jadi petani harus mandiri dan kreatif.
Yang Muda, yang Bertani Oleh Ahmad Arif/Sri Hartati Samhadi/ Maria Hartiningsih Empat tahun merantau di Pekanbaru dan Malaysia tanpa hasil, Widodo (30) akhirnya memilih pulang ke desanya di Garongan, Kecamatan Panjatan, Kabupaten Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta. Widodo menjadi petani, pekerjaan yang tengah menjadi tren di desanya. ”Merantau hanya tambah umur. Tak ada hasil,” kata Widodo, tamatan sekolah teknik menengah di Kulon Progo ini. aat pulang kampung Widodo sempat mendapat tawaran bekerja di proyek pembangunan jalan di Banguntapan, Bantul. Upah yang ditawarkan satu bulan mencapai Rp 800.000 ditambah uang makan Rp 25.000 per hari. Namun, pekerjaan itu pun ditolaknya. ”Lebih untung menjadi petani di lahan pasir,” kata Widodo dengan bangga. Dengan lahan garapan seluas 500 meter yang ditanami cabai, Widodo bisa memperoleh hasil 1-1,5 kuintal cabai sekali petik. Padahal, satu musim tanam selama lima bulan bisa 15-20 kali petik. Jika harga cabai Rp 7.000 per kilogram (kg), selama satu musim tanam Widodo bisa memperoleh sedikitnya Rp 10,5 juta. Di sela-sela cabai Widodo biasa menanam sawi yang hasilnya Rp 2 juta-Rp 2,5 juta, cukup untuk membiayai ongkos produksi cabai dan sawi sekaligus. Sutik Haryanto (26), sebelumnya juga merantau selama dua tahun di Riau, sebelum kemudian pulang ke Garongan menjadi petani lahan pasir. Lahan garapannya seluas 1.000 meter, cukup untuk membiayai istri dan satu anaknya. ”Lebih enak begini. Di kampung sendiri, dekat sama anak-istri. Hasil dari bertani juga cukup, bahkan lebih besar dibandingkan saat menjadi satpam di Riau,” kata Sutik, tamatan sekolah menengah atas (SMA) ini. Tak hanya Widodo dan Sutik, ribuan pemuda sepanjang pesisir Kulon Progo yang semula merantau kini memilih pulang menjadi petani. Lahan pasir telah menyedot minat pemuda desa untuk kembali ke kehidupan petani. ”Dari 15-an ribu petani lahan pasir di Kulonprogo, 70 persennya pemuda,” kata Sukarman, Sekretaris Paguyuban Petani Lahan Pasir (PPLP) Kulon Progo. Rasional dan gigih Selain di Kulonprogo, petani-petani muda juga muncul di Kabupaten Sleman. Di Desa Pakembinangun, Kecamatan Pakem, Sleman, gerakan petani muda membentuk gabungan kelompok tani (gapoktan) yang terdiri dari 30 kelompok tani (KT). Dan setiap KT ini beranggotakan 10-30 petani. ”Sebanyak 80 persen anggota gapoktan adalah pemuda, usia antara 20 hingga 40 tahun. Rata-rata tamatan SMA. Bahkan ada yang lulus sarjana,” kata Bambang Sugeng, Ketua II Gapoktan Pakembinangun. Wasiatno (30), Sekretaris KT Rukun Dusun Padasan yang tergabung dalam Gapoktan Pakembinangun, mengatakan, menjadi petani bukanlah pilihan keterpaksaan. Tetapi, memang melihat, pertanian masih menguntungkan jika dikerjakan dengan baik dan rasional. ”Prinsipnya, jadi petani harus mandiri dan kreatif,” kata tamatan SMA ini. Kemandirian yang dimaksud Wasiatno meliputi penyediaan bibit, pupuk, obat-obatan, hingga pemasaran. Mereka tidak perlu membeli bibit padi karena memilih menanam padi varietas lokal, seperti rojolele, beras merah, menur, dan menthik. Untuk pupuk, mereka menggunakan pupuk kandang dan kompos yang bisa dibuat sendiri dari sampah organik yang berlimpah di desa. ”Kami masih terus belajar untuk mengendalikan hama secara organik, tanpa pestisida,” kata Wasiatno. Berbeda dengan orang tua mereka yang kebanyakan fanatik menanam padi, para petani muda ini juga sering kali bereksperimen menanam berbagai komoditas pertanian. ”Kami juga menanam cabai, salak, semangka, selada, sawi, dan tanaman-tanaman lain yang menguntungkan,” kata Gunawan (36), anggota KT Rukun, yang sarjana pendidikan ini. Di Dusun Ngepas Lor, Desa Donoharjo, Kecamatan Ngaglik, Kabupaten Sleman, juga terbentuk Kelompok Tani Akur Muda yang beranggota 34 petani berusia rata-rata di bawah 30 tahun. Pemuda tani di dusun ini menanam cabai, kacang panjang, tomat, dan bawang merah. Tak jarang mereka mencoba-coba tanaman baru dengan hanya membaca buku dan mempraktikannya di sawah. Kelompok Tani Prasetya Muda Dusun Sempon, Desa Wukirsari, Kecamatan Cangkringan, lebih ekstrem lagi karena semua anggota kelompoknya sepakat tidak menanam padi. Ratusan anak muda Sleman itu memilih profesi petani sebagai jalan hidup, bukan karena pelarian. Bukti keseriusan mereka adalah keberanian menyewa lahan. Tidak semua petani muda ini memiliki sawah warisan orangtua. Banyak orangtua mereka yang hanya petani penggarap. Petani-petani muda ini pun ”nekat” menyewa lahan untuk ditanami aneka komoditas pertanian. Misalnya Wasiatno, dia menyewa lahan seluas 2.000 meter persegi dengan nilai Rp 1,5 per tahun. ”Setelah ditekuni ternyata hasilnya lumayan,” jelas dia, yang dari bertani sudah bisa membeli sepeda motor dan lahan seluas 1.000 meter. Di Kulon Progo petani-petani muda terbukti gigih karena sanggup mengolah pasir yang panas dan kering menjadi lahan pertanian yang subur. Mereka harus menyiram tanamannya minimal sehari sekali. Pemuda tani di Kulon Progo juga membentuk koperasi untuk memasarkan sendiri hasil pertanian mereka ke daerah lain. Mereka mengombinasikan pertanian dengan peternakan sapi. Kotoran sapi menjadi pupuk organik bagi tanaman mereka, mengurangi ketergantungan pada pupuk kimia. ”Selain memiliki sepeda motor, petani di sini rata-rata punya sapi sendiri,” kata Widodo. Ketakutan bahwa generasi muda akan meninggalkan sektor pertanian rupanya tak selalu benar. Setidaknya itu yang ditunjukkan petani muda di pesisir selatan Kulon Progo dan pemuda di Sleman, yang menunjukkan cara baru dalam bertani. Namun, yang meresahkan justru sikap pemerintah yang hendak memangkas tunas-tunas muda itu. Di Kulon Progo, Pemerintah Kabupaten dan Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta ngotot hendak menggusur pemuda-pemuda tani lahan pasir itu untuk digantikan perusahaan tambang pasir besi dari Australia. ”Aneh, bukannya membantu menyejahterakan rakyat, tetapi penguasa sekarang justru mengganggu usaha rakyatnya sendiri,” keluh Widodo…. Sumber: Kompas

Ikuti diskusi Ada 5 komentar untuk artikel ini.
riszki ramadhan
saya memang blom membaca artikel ini secara keseluruhan, tetapi jujur saya kaget dengan judul artikel tersebut, karena hal ini terjadi juga pada diri saya, 8 bulan yang lalu saya adalah pelajar indonesia yang merantau di negara tetangga singapura. setelah saya menyelesaikan pendidikan saya, akhirnya saya memutuskan untuk pulang ke Bandung dikarenakan adanya masalah keluarga, setelah saya 1 bulan kembali di bandung akhirnya saya menyadari kalau sektor pertanian merupakan sektor bisinis yang sangat bagus terutama untuk negara kita, dengan komentar ini saya harap saya dapat berhubungan dengan orang orang yang telah mengalami pengalaman yang sama dengan saya, dan dapat berhubungan untuk silahturahmi dan bertukar pikiran.
May 5th, 2008 at 10:17 pm
RIFQI SOLIKHIN
bravo pemuda jogja!!!
Sukses utk anda2 skalian yg luarbiasa kreatif..
trmksh sy ucpkan kpd admin krn sy bs numpang di blog ini,
SAYA SOLIKHIN/M RIFQI SOLIKHIN,SY KEHILANGAN TEMAN SY YG BERALAMAT DI DAERAH NGAGLIK SLEMAN JOGJA,NAMANYA TORO/BINTORO,DIA TEMAN SY SWAKTU KERJA CAT DI POLITEKNIK MERLIMAU MELAKA MLAYSIA THN 2001-2002,CIRI2 BADAN SEDANG KULIT SAWO MATANG PUNGGUNG SANGKUK,ADIKNYA BERNAMA RINI,BPK NYA KLU GK SALAH NMNYA BPK MESEMAN,BAGI SIAPAPUN TMN2 YG MENGENAL KAWAN SY TERSEBUT HARAP KSEDIAANYA MEMBERITAHUKAN KE EMAIL SY (rifqi_asiastar@yahoo.com /SMS SY/MHN KASIHKAN NMR HP SAYA DI 085649410098/FLEXI:021-32582399 SAYA KAAAANGEN SEKALI.TQ PAK ADMIN MHN INFONYA JK TAHU KBERADAAN NYA. By:M RIFQI SOLIKHIN / SOLIKHIN
May 15th, 2008 at 1:18 am
anung
Saya juga prihatin dengan kondisi produksi pangan kita. Namun apa daya, lahan tak punya, bertanipun belum bisa. Satu-satunya yang agak menghibur adalah menyaksikan rekaman teknik budidaya bidang pertanian. Berbagai tanaman palawija sampai dengan peternakan. Koleksi VCD tentang teknik budidaya itu masih saya simpan rapi di hard disk. Saya belum tahu apakah VCD itu bermanfaat bagi saya atau tidak.
Sebagian isinya sih menguraikan tentang kesuburan tanah yang kian merosot, tapi saya salut atas solusi yang ditawarkan dengan narasi yang masuk akal. Total seluruhnya ada sekitar 23 GB, lumayanlah mungkin sekitar 35 keping VCD. Saat ini yang bisa saya lakukan adalah mengcopy ke VCD dan membagikan kepada teman-teman yang ingin bertukar informasi. Hanya itulah yang saya bisa.
Salam kompak/anung
anungrey@yahoo.com
0811122045
June 4th, 2008 at 10:19 am
r solihin
salut u pemuda yang jadi petani, saya punya advise untuk peptisida organik gunakan daun pace agak tua dan daun ketapang (daun ijo mirip daun jambu biji)
untuk 1 kg daun basah dilumat hancur + 1 liter air kemudian disaring dengan kain. gunakan semprotan untuk penyebaran pada daun dan batang. gunakan selama 3 - 7 hr sekali. insya allah tanaman sayur kita bebas hama apapun. cobalah gratis khan tidak usah beli. tolong sebarkan pd yang lain. kalau sukses jg lupa saya yach.. he..he..
June 23rd, 2008 at 8:45 am
eddy
trim’s buat teman2 jogja yg punya kemandirian menekuni pertanian, minta infonya dong bagaimana cara bertani cabe (pemupukan,perawatan / hama, masa panen)sukses ya..
July 16th, 2008 at 1:08 pm