Perajin Batik Berkurang
Perajin batik didera masalah yang cukup pelik dalam meneruskan usahanya, yaitu biaya produksi yang semakin meningkat dan penjualan yang semakin seret. Kenaikan biaya produksi meliputi kelangkaan bahan bakar minyak tanah, kelangkaan obat pewarna yang masih bergantung dari impor, dan kenaikan harga bahan baku (kain mori) yang mengikuti harga pasar internasional.
Menurut para perajin, mereka masih bisa bertahan jika saja pemasaran batik cukup lancar. Untuk itulah mereka meminta bantuan pemerintah dalam pemasaran produk mereka, di antaranya melalui pameran batik. Siapkah pemerintah membantu?
Perajin Terus Berkurang Bahan Baku Kian Mahal, Harga Batik Tidak Naik Semarang, Kompas - Jumlah perajin batik di Kabupaten Pekalongan, Jawa Tengah, terus berkurang. Tiga masalah menjadi pemicu berkurangnya perajin, yaitu kelangkaan bahan bakar, kelangkaan obat pewarna, dan kenaikan harga bahan baku. Wakil Ketua Forum for Economic Development and Employment Promotion (FEDEP) Kabupaten Pekalongan Nur Isdarmawan, Kamis (17/4) di Kota Semarang, menuturkan, di salah satu sentra kerajinan batik, yakni di Desa Simbang Kulon, Kecamatan Buaran, Pekalongan, jumlah perajin batik turun hampir separuhnya dalam beberapa tahun ini. Pada tahun 2003, di desa itu terdapat 233 perajin. Pada 2006, jumlahnya berkurang menjadi 133 perajin, dan pada 2007 perajin yang masih rutin berproduksi tinggal 93 orang. ”Setiap perajin minimal membutuhkan dua liter minyak tanah per hari. Itu berarti dia memerlukan lebih dari 10 liter minyak tanah per minggu. Sekarang ini mereka sering kesulitan mendapat minyak tanah, kadang ada kadang tidak ada,” ujar Nur. Selain itu, obat pewarna batik untuk jenis warna tertentu sering hilang dari pasaran. Menurut Nur, belum ada bahan pewarna alami yang bisa dipakai para perajin. Oleh karena itu, mereka masih bergantung pada zat pewarna impor di pasar. Nur menyebutkan, bahan baku harga kain mori juga naik hingga 30 persen. Pada Januari lalu, harga satu yard (94 sentimeter/cm x 115 cm) kain mori Rp 4.000, tetapi sekarang Rp 6.000. ”Harga kain mori mengikuti harga di pasar global sehingga sangat fluktuatif. Pengusaha kecil, seperti para perajin, tidak bisa mendapat informasi perubahan harga itu dengan cepat,” kata Nur. Sulit bertahan Fauzy Su’ud (40), salah satu perajin batik di Desa Simbang Kulon, menyatakan, dia dan rekan-rekannya semakin kesulitan mempertahankan usaha karena penjualan kain batik semakin seret. Bahkan, untuk mengembalikan modal sekalipun sulit tercapai. ”Harga bahan baku semakin mahal, tetapi harga kain batik tidak bisa dinaikkan. Kalau naik, pembeli yang mengeluh dan tidak akan membeli. Kami ini serba susah,” katanya. Dia berharap pemerintah membatu para perajin batik untuk memasarkan hasil produksi mereka. ”Mungkin bisa melalui pameran batik. Meskipun bahan baku dan modal sulit, asal pemasaran lancar, para perajin akan lebih bisa meneruskan usahanya,” paparnya. Di Pekalongan, pada 2006, jumlah seluruh perajin di kabupaten itu 12.300 orang. ”Mungkin sekarang jumlahnya sudah berkurang,” ujar Nur. (a09) Sumber: Kompas

Ikuti diskusi, tuliskan komentar Anda.