← Kembali ke halaman depan

Perajin Peyek Sriharjo

Geliat perajin peyek di Desa Sriharjo, Bantul, sungguh luar biasa. Bencana gempa yang melanda wilayah mereka pada 27 Mei 2006 silam hanya menghentikan kegiatan mereka selama satu bulan, karena mereka harus membenahi rumah yang rusak.

Para perajin yang tergabung dalam kelompk Sedyo Rukun ini cukup termenej dengan baik. Setiap unit usaha memiliki tenaga pemasaran masing-masing, yang telah menembus jaringan supermarket. Mereka mengatur harga sehingga tidak terjadi persaingan harga yang saling mematikan.

Mereka juga terbantukan dengan pelatihan dari Kemitraan Indonesia-Australia. Dengan pelatihan, mereka pun semakin peduli dengan keberlangsungan usaha mereka dengan memastikan bahan-bahan baku yang dibutuhkan perajin terpenuhi serta adanya warung kelompok untuk pendistribusian hasil produksi.

Perajin peyek ini patut menjadi contoh, karena keberadaannya telah mengangkat ekonomi masyarakat Desa Sriharjo dan menekan angka pengangguran.

PEYEK SRIHARJO Usaha Sampingan Itu Kini Menjadi Tumpuan Hidup Eny Prihtiyani Tubilah (47) tak pernah menyangka kalau usahanya bakal sebesar dan sesukses sekarang. Awalnya, ia hanya membuat peyek dengan memanfaatkan 1-2 kilogram kacang tanah per hari, tetapi kini kebutuhan kacang tanah sudah mencapai dua kuintal per hari. Tak hanya Tubilah, masih ada sekitar 61 perajin peyek di Dusun Pelemadu, Desa Sriharjo, Imogiri, Bantul, yang juga mengalami kisah sukses. Tingkat pendapatan bersih mereka bahkan mencapai Rp 100.000 per hari. Artinya, dalam sebulan mereka bisa mengantongi keuntungan bersih Rp 3 juta atau setara gaji pokok pegawai negeri sipil (PNS) eselon II. Industri peyek mulai berkembang di Dusun Pelemadu sejak 20 tahun silam. Awalnya hanya satu-dua orang yang menggeluti usaha tersebut. Salah satunya Tubilah. ”Waktu itu saya hanya coba-coba karena kebiasaan memasak di dapur. Peyek yang saya buat hanya dijual di Desa Sriharjo. Di luar dugaan, ternyata banyak yang suka,” katanya. Karena prospek pasar menjanjikan, ibu-ibu lain pun tertarik mencoba membuat peyek serupa. Lama-kelamaan perajin peyek terus bertambah hingga sekarang tercatat 61 unit usaha. Industri ini setidaknya menyerap 488 tenaga kerja yang sebagian besar warga Desa Sriharjo. Dalam sehari, industri peyek di Sriharjo menyerap bahan baku berupa minyak goreng 1.830 liter, tepung beras 1,2 ton, dan kacang tanah 1,8 ton. Bahan tersebut paling dominan. Masih ada bahan pendukung lain, seperti tepung kanji, kelapa, dan bumbu lain. Ada tiga jenis peyek yang diproduksi di Sriharjo, yakni peyek kacang, peyek kedelai, dan peyek mete. Namun, karena minimnya tenaga kerja, baru peyek kacang yang tergarap maksimal, sementara peyek kedelai dan mete masih terbengkalai. Peyek kedelai biasanya dijual Rp 2.000 per bungkus, sementara peyek mete Rp 3.500 per bungkus. ”Padahal, peminatnya banyak juga, tetapi kami kewalahan memenuhinya karena permintaan peyek kacang banyak juga. Ke depan peyek kedelai dan mete akan kami garap lebih maksimal,” ujar Tubilah. Proses awal pembuatan peyek dimulai dengan membersihkan kacang tanah, kemudian dicampur dengan tepung beras yang sudah dibumbui. Proses selanjutnya adalah penggorengan sampai matang. Peyek-peyek yang sudah siap lalu dikemas dengan merek masing-masing. Peyek-peyek tersebut dipasarkan ke berbagai kota, seperti Klaten, Solo, Wonogiri, bahkan sampai ke Tangerang dan Jakarta. Sebagian produk mereka juga sudah menembus supermarket. Setiap unit usaha memiliki tenaga pemasaran masing-masing yang bertugas menjual produk. Untuk pemasaran, perajin relatif tidak mengalami kendala. Kendalanya justru pada bahan baku yang saat ini harganya terus melonjak, terutama minyak goreng. Karenanya, perajin berharap ada subsidi minyak goreng dari pemerintah bagi usaha kecil. Harga minyak goreng, misalnya, yang semula Rp 175.000 untuk kemasan kaleng 18 liter, kini melonjak menjadi Rp 220.000, belum lagi tepung beras yang naik Rp 500-Rp 1.000 dari harga semula Rp 3.000 per kg, dan kacang tanah dari Rp 10.500 per kg menjadi Rp 11.500 per kg ”Untuk sementara ini, kami tidak menaikkan harga. Kami tetap menjual peyek kacang Rp 2.700 per bungkus. Kami menyiasati dengan mengurangi ukuran peyek. Kalau sebelumnya berat satu bungkus peyek mencapai tiga ons, kini tinggal setengahnya. Syukurlah tidak ada keluhan dari pelanggan karena mereka juga paham situasi sekarang memang serba mahal,” katanya. Berbicara soal industri kecil di Bantul, tidak bisa dilepaskan dari bencana gempa pada 27 Mei 2006 silam. Begitu juga keberadaan perajin peyek di Sriharjo yang sempat berhenti berproduksi. Berkat dorongan para sales dan pembeli, mereka hanya berhenti berproduksi selama satu bulan karena konsentrasi masih tertuju pada pembenahan rumah yang rusak. ”Awalnya saya sempat putus asa karena banyak peralatan yang rusak. Rumah saya juga ikut rusak. Tetapi, karena dorongan para pelanggan dan sales begitu besar, saya pun memutuskan kembali berproduksi,” kata Supriyanto, perajin peyek lainnya. Para perajin tergabung dalam kelompok Sedyo Rukun. Kelompok inilah yang juga mengatur soal harga jual agar tidak terjadi persaingan yang tidak sehat. ”Kelompok sudah menetapkan harga jual seragam, yakni Rp 2.700 per bungkus untuk peyek kedelai,” kata Supriyanto, Ketua Kelompok Sedyo Rukun. Pascagempa, perajin peyek sempat mendapat pelatihan dan bimbingan dari Kemitraan Indonesia-Australia selama tujuh bulan. Lewat program tersebut, Kemitraan Indonesia-Australia juga mendirikan sebuah warung kelompok. Warung ini menjual berbagai bahan baku yang dibutuhkan perajin. Warung tersebut ditunggui oleh Waridi (25). Setiap pagi Waridi harus berkeliling ke tempat perajin untuk memastikan bahan-bahan baku yang dibutuhkan sudah terpenuhi sehingga kegiatan produksi bisa berjalan. ”Sejak dibuka 16 April 2007, setiap pagi saya sibuk mengantar bahan baku dan tidak boleh terlambat,” kata Waridi. Untuk memudahkan distribusi, setiap anggota memiliki buku tanda anggota. ”Warung saat ini memiliki omzet penjualan minimal Rp 15 juta per minggu dengan keuntungan kotor sedikitnya Rp 600.000. Keuntungan itu masuk ke kas kelompok dan digunakan untuk menambah modal serta mengelola warung secara mandiri,” kata Sutrisna, pejabat sementara Kepala Desa Sriharjo. Menurut dia, industri peyek telah mengangkat ekonomi masyarakat Desa Sriharjo dan menekan angka pengangguran. ”Jumlah penganggur yang terus berkurang membuat desa kami menjadi lebih aman dan tenteram,” katanya. Sumber: Kompas

Ikuti diskusi Ada 2 komentar untuk artikel ini.

  1. iis

    sukses untuk bu Prihtiyani Tubilah..

    May 2nd, 2008 at 9:51 am

  2. Sutrisna

    Terimakaih atas termuatnya artikel ini, kami akan sangat terbantu jika ada rekanan bisnis yang dapat memberikan informasi kepada kami importir kacang yang sumbernya dari India. perlu diketahui kebutuhan kacang di wilayah Sriharjo ini semakin meningkat dan sumber kacang menurut sebgian pedagang adalah kacang India.

    Saya perkenalkan saya Sutrisna project coordinator untuk program kerjasama antara AIP (Australia Indonesia Partnership) dan PKPEK (Prkumpulan untuk Kajian dan Pengembangan Ekonomi Kerakyatan).

    sekali lagi terimakasih
    kontak kami:
    bytris@yahoo.co.id atau fairbiz@indo.net.id.

    salam
    Sutrisna

    May 14th, 2008 at 11:27 am

Ikuti diskusi, tuliskan komentar Anda.

Our channels and feeds

  • Business Channel (7 blogs)
  • City Channel (26 blogs)
  • Film Channel (10 blogs)
  • Health Channel (6 blogs)
  • Sport Channel (6 blogs)
  • Media Channel (6 blogs)
  • Lifestyle Channel (4 blogs)
  • Hobby Channel (4 blogs)
  • Science Channel (8 blogs)
  • Music Channel (3 blogs)
  • Tech Channel (10 blogs)
  • Tips Channel (4 blogs)
  • Travel Channel (9 blogs)
  • Writing Channel (5 blogs)