You're here: My Business Blogging » Entrepreneur! » Article: Saptuari Sugiharto

Saptuari Sugiharto

erwin — May 4, 2008 / 7:35 am

Banyak yang bisa dipelajari dari perjalanan hidup dan perjalanan bisnis Saptuari Sugiharto yang kini menjadi Duta Wirausaha Muda Mandiri. Yang pertama, latihlah jiwa kewirausahaan sedini mungkin, dan pergunakanlah masa-masa muda untuk menggali sebanyak mungkin peluang bisnis, sebelum akhirnya menemukan bisnis yang sesuai dengan keinginan atau bahkan hobi kita.

Kedua, selalu tersedia celah bisnis atau pasar yang sempit (niche) yang bisa digarap serius dan memiliki kesempatan untuk berkembang sebagaimana bisnis lainnya. Perkembangan bisnis biasanya terjadi secara alamiah bagi mereka yang memang matang di suatu bisnis.

Ketiga, untuk memenangkan persaingan, anda harus menjaga kualitas produk dan pelayanan anda dari waktu ke waktu. Bisnis Saptuari juga didukung tenaga yang andal, yaitu para mahasiswa yang nyambi kerja.

Keempat, Saptu memberikan resep memulai usaha, yaitu ATM (amati, tiru, dan modifikasi). Dia juga menyarankan agar berbisnis dijalankan dengan pendekatan spiritual dan profesional.

Itu sebagian yang dapat kita catat dari kisah di bawah ini.

Saptuari Sugiharto

Dari Narsis Jadi Bisnis

 

Kuliah tak harus mematikan naluri bisnis. Begitulah kredo Saptuari Sugiharto. Pria kelahiran Yogyakarta, 8 September 1979, ini telah membuktikan upayanya melakukan pelbagai aktivitas bisnis di bangku kampus telah mengantarnya menjadi seorang pengusaha muda seperti sekarang ini.

Saptu–begitu biasanya pria berbadan subur ini dipanggil–mencoba peruntungannya sejak menimba ilmu di Fakultas Geografi Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta. Berbagai jenis usaha dan pekerjaan, dari penjaga koperasi mahasiswa, marketing radio, pekerja event organizer, berjualan celana, pemasok stiker, sampai berkeliling menjajakan ayam potong, dilakoninya di tengah kesibukannya sebagai mahasiswa.

Sebagai anak yatim dan bukan berasal dari keluarga berada, Saptu kian bersemangat mencari penghasilan sendiri demi memenuhi kebutuhan sehari-hari dan membayar uang kuliah. Terbiasa mencari duit sendiri, Saptu pun mantap memilih wirausaha menjadi jalan hidupnya.

Otaknya terus berputar mencari celah bisnis selepas menyelesaikan studinya pada 2004. Akhirnya, dia membuka bisnis merchandise pribadi dan digital printing yang diberi nama Kedai Digital. Pada awalnya kedainya ini hanya memproduksi mug, pin, dan kaus yang dicetak eksklusif dengan foto diri pemesan terpampang di dalamnya.

Bisnis merchandise pribadi dipilihnya dengan alasan setiap orang memiliki sifat narsistis yang perlu mendapat aktualisasi. Semua orang, menurut dia, memiliki keinginan untuk diabadikan. “Konsep Kedai Digital adalah mengelola narsis menjadi bisnis,” katanya kepada Tempo saat ditemui setelah menjadi pembicara pelatihan Wirausaha Muda Mandiri di Hotel Clarion, Makassar, Sulawesi Selatan, dua pekan lalu.

Ditambah lagi, Saptu memang gemar akan dunia desain. Menurut dia, berbisnis sesuai dengan hobi membuat suasana menyenangkan dan tidak berat menjalaninya.

Keputusannya menyimpan ijazah sarjana di dalam lemari dan memilih profesi sebagai wiraswastawan kini telah berbuah hasil. Bukan hanya dari sisi materi, Saptu pun mendapat pengakuan dari pihak luar atas kiprahnya tersebut.

Pada November tahun lalu, PT Bank Mandiri Tbk, menganugerahinya sebagai Duta Wirausaha Muda Mandiri. Penghargaan itu diberikan oleh Menteri Koordinator Perekonomian Boediono. Sejak itu, Saptu diberi tugas menyebarkan semangat kewirausahaan kepada generasi muda di seluruh Indonesia.

Saptu membuka Kedai Digital pertamanya berbekal modal awal Rp 28 juta yang diperolehnya dari menguras tabungan pribadi dan meminjam ke bank dengan menjaminkan surat kepemilikan motor miliknya dan sebuah sertifikat rumah. Modal tersebut digunakan untuk membeli komputer, printer, dan membuka gerai di kawasan Demangan, Yogyakarta, yang hanya seluas 2 x 7 meter.

Dibantu tiga karyawan, Kedai Digital mampu meraih omzet Rp 9 juta pada bulan pertamanya beroperasi. Melihat usahanya sukses, dia memberanikan diri membuka satu cabang pada 2006, masih di kawasan Yogyakarta. Setahun kemudian, Saptu, yang dipanggil karyawannya dengan sebutan Boss King Kong, mulai mengembangkan bisnisnya dengan mengajak mitra.

Alhasil, dengan kerja kerasnya, Kedai Digital beranak-pinak. Total, setelah tiga tahun berjalan, 13 cabang telah berdiri di berbagai kota, seperti di Yogyakarta, Semarang, Kebumen, Sukoharjo, Solo, Tuban, dan Pekanbaru. Kedai Digital selanjutnya tinggal menunggu waktu untuk berdiri di Sampit, Balikpapan, dan Magelang.

Omzetnya kedai Saptu pun melambung. Dia mengatakan omzet tiap-tiap kedai berkisar Rp 10 juta sampai Rp 40 juta. Total, omzet seluruh Kedai Digital mencapai ratusan juta rupiah setiap bulan.

Saptu belum puas. Dia terjun langsung untuk mengembangkan usahanya itu. Produknya kini telah dikembangkan menjadi beragam jenis, seperti bermacam pin, mug, kaus, jam dinding, gantungan kunci, poster, mouse pad, dan id card. Semuanya ada lebih dari 60 varian produk. Saptu pun tak main-main dalam menjaga kualitas produknya. Ia tengah menyusun buku manual untuk mengoperasikan Kedai Digital. “Saya ingin standar pelayanan di semua Kedai Digital sama,” katanya.

Sampai saat ini, Saptu belum mengalami kesulitan untuk mencari pasar. Segmen pasarnya memang sangat beragam karena pada dasarnya semua orang membutuhkan suvenir dan merchandise. Menurut dia, pemesan merchandise dan suvenir di Kedai Digital adalah ibu-ibu hamil sampai keluarga yang ingin mengenang orang meninggal. Kini usahanya mulai membidik segmen korporat.

Bisnis yang dijalaninya ini bukan tanpa hambatan. Bahan baku yang masih didatangkan dari Bandung atau Jakarta yang sering kali tersendat menjadi kendala utama. Selain itu, bisnis merchandise pribadi rawan komplain dari pelanggan. “Karyawan selalu ditekankan untuk memberikan pelayanan,” katanya.

Sukses Kedai Digital juga telah mewujudkan impian Saptu untuk membuka lapangan kerja bagi orang lain. Karyawannya saat ini sudah mencapai 90 orang. “Sebagian besar mahasiswa yang nyambi kerja,” katanya. GUNANTO E S

Bisnis Bermodalkan ‘ATM’

Menjadi wiraswastawan biasanya memang bukan pilihan bagi seorang sarjana. Setelah lulus kuliah, biasanya para sarjana memilih menjadi pekerja kantoran. Apa mau dikata, keinginan kadang tak sesuai dengan kenyataan. Saat ini justru banyak sarjana yang menganggur akibat kesulitan mencari kerja.

Di tengah lapangan kerja yang semakin menipis, pilihan Saptu bisa menjadi solusi. Bagi dia, sarjana haruslah berpikir untuk bisa membuka lapangan pekerjaan bukan mencari kerja.

Saptu pun memberikan tip untuk anak muda yang ingin mulai wiraswasta. Menurut dia, memilih jalan menjadi wiraswastawan berarti harus berani “gila” untuk tidak menggantungkan diri pada orang lain. “Buang rasa malu dan gengsi, jangan takut gagal dan selalu berpikiran positif,” katanya. Kesuksesan, menurut dia, haruslah diciptakan.

Saptu memberikan resep memulai usaha, yaitu ATM (amati, tiru, dan modifikasi). Dia juga menyarankan agar berbisnis dijalankan dengan pendekatan spiritual dan profesional. GUNANTO

Sumber: Koran Tempo

Post to: delicious, Digg, ma.gnolia, Stumbleupon

Ikuti diskusi Ada 3 komentar untuk artikel ini.

  1. Ikut Seminar Enterpreneurship & Innovation « You’ll find nothing here

    […] kemudian ke nara sumber yang diundang. Nara sumber pertama yang diperkenalkan kepada audiens adalah Saptuari Sugiharto. Dia adalah pendiri dari Kedai Digital. Dari sejarah karirnya, diceritakan bahwa dia pernah jualan […]

    June 30th, 2008 at 4:23 pm

  2. EKA

    kebetulan kami dengan istri melihat acara wirausaha mandiri di metro tv kebetulan usaha bapak pimpin yang ditayangkan, kami dengan istri punya rencana membuka usaha percetakan dan mo ikut bergabung dengan kedaidigital. kami menanyakan mengenai cara ber gabung dengan kedaidigital yang bapak saptu kelola sekarang.makasih sebelumnya

    November 10th, 2008 at 12:21 pm

  3. aqien

    saya mau naya neehh
    gmn cara buka kedai digital yang baik?kira2 perlu modal berapa ya?klo kita ngiduk pake nama kedai digital bisa ga?saya tunggu jwabanyta ya mas

    December 13th, 2008 at 10:21 am

Ikuti diskusi, tuliskan komentar Anda.

LOCAL SEARCH

Search only in this blog

GLOBAL SEARCH

Search across Asia Blogging Network

GLOBAL

CHANNEL

COLUMN

More? Go to Asia Blogging Network Column section.

FEATURED

COMMENT

  • endrian — selamat siang saya endrian saya lagi membuka usaha ondedil baru dan bekas otomotif. tolong minta kontak person di Pt kopinkra ...
  • afriyan_Batam Island — salam kenal. wah, saya sangat tertarik dengan ceritanya. jujur, bagus banget untuk membuka usaha bertani cebe. dari pada kita harus bekerja di ...
  • ari — apakah kita bisa sling tukar pengalaman dan menjadi rekan bisnis?kunjungi blog saya ari-craft.blogspot.com
  • Yanti — Saya sdh menjadi agen di daerah sy (Indonesia Timur). Dan menjadi berkah bagi keluarga kami. Trimakasih Bu Indah dan ...
  • dede arif — minta tips buat bikin sepatu lukis please...?? cat ap yg bagus buat sepatu lukis...??
  • teti — dimana saya bisa mendapatkan warung rumah dengan cara mencicil?
  • christian adi — salah satu alasan kenapa bangsa Indonesia tidak maju adalah karena masih terjebak dalam mental inlander sebagai bangsa yang terjajah, masih ...
  • sandrar — Hi! I was surfing and found your blog post... nice! I love your blog. :) Cheers! Sandra. R.
  • sutanto — kalo pengen menghubungi ibu dwi lestari gimn caranya ya?
  • Habib — saya kemarin sudah pernah k t4 pak ratijo dan sudah bertanya". sekarangpun saya sudah mulai mencoba untuk budidaya jamur yg ...