← Kembali ke halaman depan

Ketika PNS Berubah Haluan (1)

Jiwa kewirausahaan tidak mengenal status dan golongan. Di kalangan PNS (pegawai negeri sipil) pun sering kali potensi jiwa-jiwa wirausaha itu tersebar, dan ketika mereka fokus dengan apa yang mereka kerjakan sebagai pewirausaha–hingga meninggalkan status PNS mereka, mereka pun tumbuh menjadi pewirausaha yang tangguh.

Salah satunya Anwar Asmali, mantan guru PNS, yang memilih total menjadi petani tebu setelah sempat bertugas 10 tahun. Ia mengambil risiko jatuh bangun di saat awal usahanya, dan bahkan banyak yang menasihati agar ia kembali menjadi guru saja di saat-saat sulit. Setelah mulai mapan, ia juga masih menghadapi kondisi betapa profesi petani sering diremehkan, terutama dari kalangan perbankan. 

Ada perbedaan antara menjadi guru dan petani tebu di mata Anwar. Ia mengaku tak puas menjadi pegawai karena penghargaan tak seimbang. Gaji diukur dari masa kerja, bukan dari prestasi kerja. Sementara, saat menjadi petani, keberhasilannya diukur dari kerja keras, pengetahuan, dan pengalaman bertani. Ia juga tidak ikut kursus dan belajar teori, tapi langsung praktek–bekerja sekaligus belajar.  

Anwar Asmali, Jangan Remehkan Petani Tebu

Oleh Haryo Damardono dan Hermas E Prabowo

 

Dia menjadi Ketua Asosiasi Petani Tebu Rakyat Indonesia atau APTRI Jawa Barat periode 2006-2011. Demi tugasnya itu, Anwar Asmali semakin sering hilir mudik di kawasan pantura menuju Jakarta dan kota-kota lain di Jawa Tengah dan Jawa Timur. Tujuan utamanya adalah meningkatkan kesejahteraan petani tebu agar mereka tak diremehkan.

 

Anwar serius bertani tebu sejak 1996. Sebelumnya, dia bekerja sebagai guru, pegawai negeri sipil (PNS). Ia mengundurkan diri sebagai PNS karena tak mungkin terjun total menjadi petani tebu sekaligus guru. Saat itu, dia sebagai PNS dengan masa kerja 10 tahun, golongannya III B.

 

Sebagai petani tebu, dia sempat ”jatuh” pada 1998, saat pemerintah menetapkan tarif impor gula nol persen. Ketika itu biaya produksi gula Rp 2.000 per kilogram, sedangkan harga jualnya di bawah Rp 2.000 per kg. Petani tebu pun defisit! Rekannya sesama guru sempat menasihati Anwar agar kembali menjadi guru.

 

Tahun demi tahun, lahan tebu yang ditanami Anwar makin luas. Dia memilih menyewa daripada membeli lahan. Menurut dia, daripada membeli lahan 1 hektar seharga Rp 100 juta, lebih baik uang itu digunakan untuk menyewa lahan. Dengan Rp 100 juta, misalnya, dia mampu menyewa 20-25 ha lahan pertanian tebu.

 

”Apalagi, saya ini anak mantan lelugu (perangkat desa), yang tak diwarisi lahan luas,” ucap Anwar, yang memulai usahanya dengan menyewa lahan seluas 2 ha. Kini, ia mampu menyewa ratusan hektar lahan.

 

Namun, justru ketika usahanya mulai mapan, predikat sebagai petani sering menyulitkan. Tahun 2001 Anwar ingin membeli truk untuk menunjang pengangkutan tebu. Ia mau meminjam uang ke bank, tetapi seorang pimpinan bank menolak permohonan pinjamannya karena dia tak punya slip gaji.

 

”Mana ada petani punya dokumen izin usaha atau slip gaji? Jadilah SK PNS guru milik istri saya dijadikan jaminan. Saya geli juga, lha mana mungkin gaji istri cukup untuk mencicil beli truk,” katanya.

 

Marginalisasi sebagai petani juga dia alami saat mau mencicil rumah di Cimahi untuk putrinya yang kuliah di Fakultas Kedokteran Universitas Jenderal Ahmad Yani. Bank menolak permohonan kredit Anwar. Karena itu, dia harus membayar lunas rumah tersebut.

 

”Petani sering diremehkan,” kata Anwar. ”Padahal, petani tak sejelek yang dipandang orang. Bank juga memandang petani seolah tukang ngemplang, tak bayar utang. Padahal, kalau ngemplang pun tak bisa seperti pengemplang BLBI yang lari ke Singapura, karena kita tidak bisa nyangkul di sana,” tambahnya.

 

Anwar berusaha mengajak para petani untuk mengangkat derajatnya sendiri. Sebab, dengan cara inilah perjuangan bisa dilakukan dengan serius. Ia mengaku terinspirasi tulisan Bung Karno tentang Marhaen. ”Bung Karno menulis tentang pentingnya kemampuan kita berdiri di atas kaki sendiri,” katanya.

 

Untuk itulah, dia pun aktif mengorganisir petani tebu memperjuangkan nasib, menyuarakan keinginan mereka. Petani itu, kata Anwar, masyarakat yang sejatinya tak berkemampuan dan terbelakang. Bila perjuangan dilakukan bersama-sama, akan terakumulasi kekuatan untuk menyuarakan keinginan mereka.

 

Berorganisasi

 

Tahun 2000 dia mulai berorganisasi. Dalam wadah APTRI, Juni 2004, misalnya, Anwar mendesak Gubernur Jawa Barat minta PT Petrokimia Gresik memasok pupuk amonium sulfat (ZA) untuk wilayah Jabar. Minimnya pasokan pupuk saat musim tanam itu merugikan petani. Bila tak dituruti, Anwar akan mengorganisir ribuan petani tebu ”meluruk” gudang-gudang pupuk di Cirebon yang berjarak 20 kilometer dari hamparan lahan tebu di Kabupaten Cirebon.

 

Berulang kali pula ia mengecam siapa pun yang menjual gula putih hasil rafinasi, yang seharusnya hanya untuk industri makanan-minuman. Sebab, penjualan gula rafinasi menekan harga gula pasir produksi petani tebu. Aksi turun ke jalan di Cirebon dan Jakarta sering dia lakoni.

 

Pada Agustus 2007 di Pengadilan Negeri Kabupaten Cirebon, bersama ribuan petani tebu dan Serikat Pekerja Perkebunan dari perwakilan pabrik gula se- Jawa, dia menolak penetapan penyitaan aset pabrik gula di Jawa. November 2007 pengadilan memutuskan tidak menerima gugatan keluarga Faber yang menuntut besi dari 52 pabrik gula di Jawa.

 

Infrastruktur irigasi pun dikecamnya. Jaringan irigasi Waduk Dharma di Kabupaten Kuningan yang pada zaman penjajahan Belanda airnya mencapai Mertapada dan Sindanglaut, Kabupaten Cirebon, kini tidak lagi. Padahal, tanaman tebu membutuhkan ti’is atau air. Tanpa irigasi, petani harus memompa air dengan mesin diesel. Artinya, petani mesti menambah ongkos produksi untuk membeli solar atau minyak tanah.

 

Dia juga menilai pemerintah setengah hati merevitalisasi pabrik gula. ”Masak, mesin gilingnya masih yang produksi tahun 1800-an. Kalau mesin itu diperbarui, rendemen gula dapat mencapai 14 persen dari sekadar 7 persen. Swasembada gula pun urusan kecil,” katanya.

 

Rendemen adalah kandungan gula dalam tebu. Bila rendemennya 14 persen, berarti dalam tiap satu kuintal tebu dapat dihasilkan 14 kg gula. ”Kalau rendemen tebu Indonesia rendah, ini bukan tebunya yang jelek, tetapi mesin gilingnya yang ketinggalan zaman,” katanya kesal.

 

Jasa sinder

 

Anwar yang tinggal di Mertapada Kulon, Kabupaten Cirebon, Jabar, berkisah, sebenarnya bertani tebu dia tekuni sejak 1988. Sinder, mandor Pabrik Tebu Sindanglaut, Udi Samsudi yang berjasa memperkenalkan tebu kepadanya. Kantor Udi bersebelahan dengan sekolah tempat Anwar mengajar.

 

Ia mulai menanam tebu dengan modal dari tabungan dan hasil menggadaikan SK PNS sang istri yang ”laku” Rp 750.000. Waktu itu menanam tebu menjadi usaha sampingan. Tugas utama Anwar adalah guru sejak 1986.

 

”Saya dan istri sama-sama guru PNS. Namun, saya tak puas menjadi guru, penghargaannya tak seimbang. Gaji bukan diukur dari prestasi kerja, tetapi masa kerja,” katanya. Maka, seberapa pun tinggi prestasi kerja, seseorang tak bisa ”melompat” menjadi kepala sekolah bila masih ada ”guru senior”.

 

Itu berbeda dengan budidaya tebu. Keberhasilannya ditentukan dari kerja keras, pengetahuan dan pengalaman bertani. Penyuka kegiatan Pramuka ini mengaku mempelajari budidaya tebu dengan praktik lapangan.

 

”Saya tidak ikut kursus atau belajar teori. Saya langsung praktik, bekerja sekaligus belajar. Ini sama dengan nilai-nilai Pramuka,” ujar pemilik mobil Vios bernomor polisi Purwakarta T 3 BU (baca: tebu) dan Kijang T 1 WU (tiwu, tebu dalam bahasa Sunda) ini.

 

Meski tak lagi menjadi guru, Anwar tetap berprofesi ”guru” bagi petani tebu dan siapa pun yang ingin menjadi petani tebu.

 

”Serius, saya masih berjiwa guru. Saya membeli tanah 14.000 meter persegi di kampung dari hasil menanam tebu. Bila ada rezeki, saya mau membangun sekolah untuk rakyat,” ujar lelaki yang suka memakai sandal ini.

 

Dia bernazar, akan bersepatu ”kinclong” bila telah banyak petani tebu rakyat yang berhasil.

Sumber: Kompas

Ikuti diskusi Satu komentar untuk artikel ini.

  1. choiron,st

    Ayah saya petani tebu yang selalu kesulitan menjual hasil panen. karena selalu menunggu dibeli tengkulak . Tolong saya dibantu bagaimana caranya bisa langsung menjual tebu langsung ke pabrik gula tanpa melalui rentenir? Apa ada aturan-aturan khusus untuk menjual tebu langsung ke pabrik gula? mohon informasi dan bantuannya. Bila tidak keberatan tolong hubungi saya di nomer telpon (031)71410801.Terima kasih

    June 14th, 2008 at 8:31 pm

Ikuti diskusi, tuliskan komentar Anda.

Our channels and feeds

  • Business Channel (7 blogs)
  • City Channel (26 blogs)
  • Film Channel (10 blogs)
  • Health Channel (6 blogs)
  • Sport Channel (6 blogs)
  • Media Channel (6 blogs)
  • Lifestyle Channel (4 blogs)
  • Hobby Channel (4 blogs)
  • Science Channel (8 blogs)
  • Music Channel (3 blogs)
  • Tech Channel (10 blogs)
  • Tips Channel (4 blogs)
  • Travel Channel (9 blogs)
  • Writing Channel (5 blogs)