← Kembali ke halaman depan

Potensi Budaya Industri Kreatif

Kalau dilihat dari potensi yang ada, Indonesia bisa saja menjadi salah satu motor industri kreatif dengan berbagai keunggulan, seperti keragaman budaya, sumber daya manusia kreatif yang berlimpah, semakin terbukanya minat masyarakat terhadap industri kreatif, dan juga potensi pada otonomi daerah.

Meskipun tentunya ada banyak kelemahan juga, seperti sumber daya berlimpah itu masih harus ditingkatkan, lemahnya perlindungan hak atas kekayaan intelektual, lemahnya kemampuan memasuki pasar global, hingga tidak efektifnya kerja birokrasi.

Salah satu faktor paling penting dalam pengembangan industri kreatif adalah melahirkan individu-individu kreatif, karena merekalah modal industri kreatif yang bertumpu pada ide-ide kreatif. Dalam hal ini perlu ada kebebasan individu dan negara harus menciptakan iklim untuk tumbuhnya kebebasan individu itu.

Menurut Hubert gijzen, Direktur dan Perwakilan Oranisasi Pendidikan, Ilmu Pengetahuan, dan Kebudayaan PBB (Unesco), industri kreatif kerap dipahami sebatas kegiatan seni dan budaya, padahal implikasi ekonominya jauh lebih luas karena dapat mengangkat pembangunan manusia dan sosial. Dalam membangun industri kreatif yang di dalamnya termasuk industri budaya, kata Hubert, harus didorong terjadinya dialog interkultural.

Menurut budayawan Sardono W Kusumo, Indonesia memiliki tradisi dialog interkultural, bukan mempengaruhi. “Berinteraksi ke luar, tetapi tradisinya bukan pada bentuk, tetapi sikap,” ujarnya.

Membangun Sistem Berdasarkan Sejarah Budaya

Seminar Pameran Produk Budaya Indonesia di Balai Sidang Jakarta, 4-7 Juni, menyebutkan, kekuatan Indonesia dalam mengembangkan industri kreatif adalah pada keragaman budaya, sumber daya manusia kreatif yang berlimpah, semakin terbukanya minat masyarakat terhadap industri kreatif, dan juga potensi pada otonomi daerah.

Di sisi lain, banyak kelemahan, antara lain sumber daya yang berlimpah itu masih harus ditingkatkan, lemahnya perlindungan hak atas kekayaan intelektual, lemahnya kemampuan memasuki pasar global, hingga tidak efektifnya kerja birokrasi.

Selain memahami kekuatan dan kelemahan, yang paling penting adalah melahirkan individu-individu kreatif. Merekalah modal industri kreatif yang bertumpu pada ide-ide kreatif.

Rektor Institut Kesenian Jakarta Sardono W Kusumo berpendapat, industri kreatif hanya akan subur ketika ada kebebasan individu dan negara harus menciptakan iklim untuk tumbuhnya kebebasan individu itu.

Karena itu, industri ini harus dibangun berdasarkan platform budaya dalam arti ekspresi manusia dan kemerdekaan individual bukan berbasis platform modal. Alasan Sardono, industri kreatif adalah ekonomi gelombang keempat yang memiliki sifat berbeda dibandingkan dengan tiga gelombang ekonomi sebelumnya.

Ekonomi gelombang pertama berbasis pada pertanian on farm, mengambil hasil hutan, dan mengambil hasil dari perairan. Gelombang kedua menyangkut teknologi yang dimulai oleh revolusi industri yang menuntut keseragaman dan bersifat massal. Gelombang ketiga adalah ekonomi berbasis informasi.

”Jangan belum-belum sudah dibatasi aturan yang hanya cocok untuk ekonomi gelombang kedua. Saya jengkel betul dengar rencana membentuk semacam badan yang akan mengeluarkan sertifikat untuk tenaga kerja industri kreatif,” kata Sardono.

Sardono mengakui, situasi saat ini tidak terlalu kondusif, bahkan dengan otonomi daerah karena ada kecenderungan untuk menyeragamkan, membuat pembatas yang tidak perlu, mengawet-awetkan, dan mentradisi-tradisikan.

Dialog interkultur

Isu lain yang berkembang adalah interaksi budaya. ”Isunya seberapa banyak kita bisa mengizinkan orang dari luar masuk dan orang dari Indonesia pergi ke luar. Ini menyangkut erosi budaya,” kata Menteri Perdagangan Mari Elka Pangestu yang departemennya menyusun Studi Industri Kreatif Indonesia 2007.

Direktur dan Perwakilan Organisasi Pendidikan, Ilmu Pengetahuan, dan Kebudayaan Perserikatan PBB (UNESCO) di Indonesia Hubert Gijzen dalam seminar menyebutkan, industri kreatif kerap dipahami sebatas kegiatan seni dan budaya. Padahal, implikasi ekonominya jauh lebih luas karena dapat mengangkat pembangunan manusia dan sosial. Dalam membangun industri kreatif yang di dalamnya termasuk industri budaya harus didorong terjadinya dialog interkultural.

Perlindungan harus menjamin bukan hanya lahir produk kriya tradisional yang tangible, misalnya keris, tetapi termasuk keterampilan dan pengetahuan untuk terjadinya produksi. Karena itu, juga penting memastikan terjadi transmisi budaya dari generasi ke generasi agar warisan budaya tetap hidup dan menjadi sumber industri kreatif.

Di dalam dialog interkultural itulah muncul kekhawatiran erosi budaya asli. Kekhawatiran itu bukan tidak beralasan. Denys Lombard dalam Nusa Jawa Silang Budaya, Batas-batas Pembaratan (Gramedia Pustaka Utama, 1996) mengambil contoh, antara lain industri pariwisata. Lombard memperlihatkan bagaimana turis memperlakukan masyarakat dan budaya yang dikunjungi dalam ”semangat kolektor prangko daripada semangat musafir petualang”.

Operator industri wisata yang menyadari tuntutan itu lalu mengemas seni atau upacara dalam paket yang terlepas dari konteks. Di Bali, demikian Lombard, keluhan muncul dalam peniruan bata-bata pura untuk arsitektur hotel dan penggunaan serampangan hiasan agung dari tanaman (umbul-umbul, penyor, dan lamak).

Dalam konteks dengan industri kreatif, Sardono mengambil contoh Bali. Meskipun masyarakatnya relatif homogen, tetapi dialog interkultur tetap terjadi.

Tari kecak dan janger yang kita lihat sekarang adalah produksi tahun 1935 ketika seniman Barat, seperti Rudolph Bonnet, Walter Spies, Le Mayeur, hingga Miguel Covarubias, memberi pengaruh pada—dan dipengaruhi—kesenian Bali. Setelah kedatangan seniman Barat, pelukis Bali mulai membuat lukisan tentang kehidupan sehari- hari, seperti orang ke sawah dan pasar. Sekarang di Bali terdapat lukisan wayang yang tradisional, tetapi juga ada lukisan kontemporer.

”Jadi, kita punya tradisi dialog interkultur, bukan memengaruhi. Berinteraksi ke luar, tetapi tradisinya bukan pada bentuk, tetapi sikap,” kata Sardono. Tradisi dialog interkultur sudah terjadi berabad-abad dalam pertemuan dengan berbagai peradaban besar, yakni Hindu, Buddha, Kristiani, dan Islam serta bangsa-bangsa dari Timur dan Barat.(NINUK MARDIANA PAMBUDY)

Sumber: Kompas, 12 Juni 2008

Ikuti diskusi Satu komentar untuk artikel ini.

  1. fajrin

    industri kreatif = ekonomi kreatif??????, bukannya industri itu identik dengan manufaktur, lalu bagaimana dengan seni dan budaya…..??

    June 21st, 2008 at 7:51 am

Ikuti diskusi, tuliskan komentar Anda.

Our channels and feeds

  • Business Channel (7 blogs)
  • City Channel (26 blogs)
  • Film Channel (10 blogs)
  • Health Channel (6 blogs)
  • Sport Channel (6 blogs)
  • Media Channel (6 blogs)
  • Lifestyle Channel (4 blogs)
  • Hobby Channel (4 blogs)
  • Science Channel (8 blogs)
  • Music Channel (3 blogs)
  • Tech Channel (10 blogs)
  • Tips Channel (4 blogs)
  • Travel Channel (9 blogs)
  • Writing Channel (5 blogs)