← Kembali ke halaman depan

Pemadaman Listrik Bergilir

UKM rata-rata terpukul atas pemadaman listrik bergilir yang terjadi rutin setiap hari di Jakarta dan Tengerang. Bagaimanapun, UKM masih sangat mengandalkan listrik murah dari PLN.

Berikut beberapa contoh masalah yang dihadapi UKM, dikutip dari Kompas.

Novrizal (38), pemilik kios Gaya Konfeksi, di Pasar Senen, Jakarta Pusat. Di kiosnya, Novrizal memiliki lima mesin jahit dan bordir listrik serta empat mesin manual. Dengan mesin jahit dan bordir listrik, membuat emblem atau baju seragam cukup singkat dilakukan, 200 potong bisa dibuat kurang dari satu hari. Namun, padamnya listrik menyebabkan ia harus bergantung pada mesin manual dan pengerjaannya pun menjadi lambat.

”Saya terpaksa menunda pengerjaan emblem dan sekitar 200 potong seragam sekolah karena listrik mati dari jam 10.00 sampai 13.00, awal pekan ini. Pekerjaan yang seharusnya selesai dalam satu hari, tertunda hingga dua hari. Pemadaman listrik ini menyusahkan karena seringkali tanpa pemberitahuan,” kata Novrizal (38).

Mirasari (36), pemilik perusahaan bakery yang diberi merek It’s Brownies Time. Listrik amat dibutuhkan Mirasari dalam membuat adonan hingga memanggang kue, juga sebagai penerangan dan pendingin ruangan. Ketika listrik dari PLN sering mati, Mirasari yang membuka toko The Cookie Lady di Jalan Ampera, Jakarta Selatan, mengaku terpaksa menggunakan genset ukuran kecil. Namun, jika memakai genset, kata Mirasari, biaya produksi membengkak. Pengeluaran menjadi semakin membengkak setelah terjadi kenaikan harga BBM.

”Kalau begini terus, semua pelanggan bisa lari. Bagaimana usaha kami mampu tetap bertahan?” kata Mirasari (36).

Hamra (57), pemilik pengolahan ikan Samudra Indah di Permukiman Nelayan Muara Angke RT 007 RW 01, Kelurahan Pluit, Kecamatan Penjaringan.

”Usaha pengolahan ikan milik saya menghasilkan otak-otak, bakso ikan, dan nuget. Pengolahannya bergantung suplai daya listrik. Kalau padam seharian, seperti yang dialami saat ini, kerugian bisa mencapai Rp 5 juta,” ungkap Hamra (57).

Wardi (53), pemilik UKM yang memproduksi mi di Semper Barat, Kecamatan Cilincing, merasa dirugikan dengan pemadaman listrik tanpa pemberitahuan. Wardi setiap hari memproduksi mi 225 kg atau menjadi 15 bal (1 bal = 15 kg) dengan modal Rp 3 juta. Akibat mati listrik, ia mengalami kerugian Rp 700.000.

”Mesin pengaduk, pemotong, dan pres yang menggunakan listrik tidak berjalan. Tepung terigu yang sudah diadon tidak jadi diolah. Konsumen lari mencari ke tempat lain,” ujarnya.

Ikuti diskusi Satu komentar untuk artikel ini.

  1. jogjalink

    itulah ketidakmampuan pemerintah dalam melaksanakan kebutuhan hajat hidup orang banyak.

    Mosok orang lain yang boros/ngorupsi trus semua rakyat terutama kalangan ekonomi lemah disuruh menanggungnya.

    Capeeeeeee deeeeeeeeeeeeeeh

    July 27th, 2008 at 5:22 pm

Ikuti diskusi, tuliskan komentar Anda.

Our channels and feeds

  • Business Channel (7 blogs)
  • City Channel (26 blogs)
  • Film Channel (10 blogs)
  • Health Channel (6 blogs)
  • Sport Channel (6 blogs)
  • Media Channel (6 blogs)
  • Lifestyle Channel (4 blogs)
  • Hobby Channel (4 blogs)
  • Science Channel (8 blogs)
  • Music Channel (3 blogs)
  • Tech Channel (10 blogs)
  • Tips Channel (4 blogs)
  • Travel Channel (9 blogs)
  • Writing Channel (5 blogs)