← Kembali ke halaman depan

Barang Bekas (Limbah)

Selain melakukan perjalanan, sumber inspirasi lain untuk berwirausaha adalah memanfaatkan barang limbah/barang bekas atau barang-barang yang tersedia berlimpah di sekitar kita sehingga harganya murah atau bahkan tidak berharga sama sekali.

Kreativitas memanfaatkan barang bekas (limbah) ini dicontohkan oleh Yeyen Komalasari berikut ini yang menyulap kain kumal bekas saringan bijih besi menjadi berbagai produk kerajinan yang dilirik orang.

Yeyen Komalasari

Rezeki Kain Bekas Saringan

Kotornya minta ampun. Bau pula. Tapi, di tangan Yeyen Komalasari, kain kumal bekas saringan bijih besi yang sudah jadi sampah itu bisa “disulap” menjadi berbagai produk kerajinan yang banyak dilirik orang.

Kain-kain bekas itu dikumpulkannya dari tempat pembuangan akhir milik PT Krakatau Steel di Cilegon, Banten. Untuk membersihkannya, setidaknya harus dicuci bolak-balik hingga 20 kali.

Dari bahan baku itulah wanita kelahiran Cilegon 28 tahun silam ini menghasilkan tas, gantungan kunci, tempat korek api, pelindung tubuh, tabung jas hujan, pelapis helm, dan rupa-rupa produk lainnya. “Semula, ini ide dari kakak saya,” kata wanita mungil berjilbab ini.

Atas dorongan sang kakaklah, sejak 2005, Yeyen mulai merintis usahanya dengan mengais sampah. Sampai-sampai ia sempat dianggap pesaing pemulung lainnya.

“Saya dikira ingin merebut lahan kekuasaan mereka,” ujarnya.

Meski getir, Yeyen tak surut. Tapi jujur diakuinya, rasa malu sempat menghinggapi. Ia merasa turun kelas, lantaran sebelumnya pernah bekerja kantoran di sebuah perusahaan jasa kebersihan untuk tangki bahan bakar.

Yeyen juga sempat shocked berat sejak ditinggal ibunya akibat penyakit demam berdarah setahun sebelum memulai usahanya. “Sejak ibu sakit, saya berhenti bekerja,” katanya. Namun, berkat dorongan sang kakak, Abu Sofyan, ia akhirnya mampu bangkit.

***

Semua bermula dari modal usaha yang cuma Rp 200 ribu. Dana minim itu dipakainya membeli kain bekas dari pemulung, pernak-pernik, juga biaya transportasi.

Kain-kain bekas saringan bijih besi itulah yang kemudian digambarinya dengan alat semacam solder, yang panasnya sekitar 120 derajat Celsius. Hasilnya, lekuk nan indah kecokelatan menyembul di permukaan kain. “Semakin sering dicuci, gambar tersebut akan semakin tampak jelas,” kata Yeyen.

Untuk memasarkan produknya, ia hanya mengandalkan promosi dari mulut ke mulut. Selain tak optimal, barang dagangannya itu sempat dipandang sebelah mata karena diolah dari limbah. Akibatnya, “Uang saya semakin tipis,” ujarnya.

Menghadapi situasi serba sulit ini, lagi-lagi ia tak surut. Strategi pemasaran baru dicobanya. Kali ini ia membidik sekolah-sekolah dan kampus sebagai target pasar. Sebuah proposal pun ia masukkan ke Dinas Perdagangan dan Industri Kabupaten Serang, Banten. Cara lain, ia memasarkan produknya lewat Internet.

Usahanya tak sia-sia. “Banyak pelajar dan mahasiswa menyukai kerajinan saya,” ujar Yeyen, yang sebelumnya pernah gagal berdagang nasi uduk dan gorengan. Bahkan ada turis asing yang membeli kerajinannya. Ia pun sedikit demi sedikit mulai menerima pesanan.

Dari situ, usahanya terus tumbuh. Yeyen pun tak ragu menambah modal dan tenaga kerja. Saat ini ia mempekerjakan tiga orang di bengkel kerja sekaligus show room yang dinamainya G-One. Dua orang sebagai penjahit dan satu orang administrasi.

Berkat kegigihannya itu, jaringan pemasarannya pun kian luas. Produknya tak jarang dipesan kalangan hotel dan dipasok ke sejumlah daerah, seperti Purwokerto dan Palembang, bahkan hingga ke Kalimantan. Untuk menjaga eksklusivitas produknya, Yeyen tak mau menjiplak produk lain. “Kecuali produk pesanan, yang desainnya diminta si pemesan,” ujarnya.

Tak kurang dari 180 item produk yang kini sudah menjadi koleksi G-One. Produk kerajinan yang banyak dipesan yaitu tempat korek api seharga Rp 3.000, yang bisa ia buat 700 unit per bulan. Selain itu, gantungan kunci seharga Rp 2.000, yang juga bisa diproduksi dalam jumlah sama.

Tas, yang juga banyak diminati, harganya berkisar Rp 30-150 ribu per unit, diproduksi 90 unit per bulan. “Kalau mengerjakan pesanan, bisa lebih banyak lagi produksinya dalam sebulan,” kata Yeyen.

Walhasil, pendapatan yang bisa diraupnya sudah mencapai Rp 5 juta sebulan. Setengahnya berupa keuntungan bersih. Itu belum termasuk peningkatan pendapatan kalau ia berpameran di Jakarta, Bandung, dan Yogyakarta.

Ia pun kini tak perlu lagi berpeluh mencari kain bekas saringan bijih besi. Bahan baku itu bisa diperolehnya langsung dari Krakatau Steel. “Saya mengajukan proposal,” kata Yeyen. G-One diikutsertakan dalam Program Kemitraan Bina Lingkungan milik Krakatau Steel.

Ketika ditanya soal resep bisnisnya, Yeyen selalu teringat pada ajaran ibunya untuk tetap optimistis dan jujur. Selain itu, kreativitas dan inovasi dalam berusaha, kata dia, menjadi salah satu kunci sukses “Agar produk saya tidak ketinggalan,” tuturnya.

Setelah meraup semua keberhasilan itu, lulusan D-2 Pariwisata Universitas Negeri Yogyakarta ini mengaku belum cukup puas. Cita-citanya kini ingin membawa produknya melanglang buana ke pasar luar ngeri. “Biar bisa jalan-jalan kalau pameran di luar negeri,” katanya sambil tersenyum.Ismi Wahid

Sumber: Koran Tempo

Ikuti diskusi Satu komentar untuk artikel ini.

  1. yaya tansah

    Dengan segala hormat… saya seorang guru paud, saya sering membuat ape dari barang2 bekas.. maklum saya kerja di taman bacaan masyarakat, yng dikelola oleh pokja 2, sbg seorang pekerja sosial… saya mohon dibantu u/ belajar mengolah barang2 bekas u/ dijadikan alat2 peraga edukatif.
    Saya menunggu jawaban dari anda.
    Terima kasih.

    July 24th, 2008 at 7:28 pm

Ikuti diskusi, tuliskan komentar Anda.

Our channels and feeds

  • Business Channel (7 blogs)
  • City Channel (26 blogs)
  • Film Channel (10 blogs)
  • Health Channel (6 blogs)
  • Sport Channel (6 blogs)
  • Media Channel (6 blogs)
  • Lifestyle Channel (4 blogs)
  • Hobby Channel (4 blogs)
  • Science Channel (8 blogs)
  • Music Channel (3 blogs)
  • Tech Channel (10 blogs)
  • Tips Channel (4 blogs)
  • Travel Channel (9 blogs)
  • Writing Channel (5 blogs)