Watie Darmono
Watie Darmono (54 tahun) menyasar segmen kelas menengah atas saat mulai mengembangkan kerajinan quilting. Keuntungan menyasar segmen ini adalah dapat meraih marjin keuntungan yang cukup tinggi meski harus diimbangi dengan kualitas produk sesuai dengan keinginan segmen ini.
Ketika segmen pasarnya berubah karena suaminya pensiun dari Caltex, Watie pun mengubah cara pemasarannya, yaitu dengan menerima pesanan melalui telepon untuk pembeli di luar negeri dan kalangan ekspatriat. Ia juga mencari rekanan bisnis untuk pemasaran domestik. Ia pun menetapkan harga untuk pasar domestik yang lebih murah dibandingkan untuk pasar yang dijual ke kalangan orang asing.
Meraih Fulus dari Potongan Kain
Tangan Watie Darmono tampak lincah memotong kain katun dengan ukuran dan bentuk berbeda. Kain dengan corak dan warna beragam itu kemudian digabungnya menjadi selimut tidur atau hiasan dinding. Sebuah selimut tidur bisa dijual seharga Rp 15 juta. Watie menyebut kerajinan memotong dan menggabungkan potongan kain sebagai patchworking atau quilting.
Menurut perempuan berusia 54 tahun ini, dia mengenal quilting ketika menemani sang suami, FX Darmono, bekerja di Caltex, Dallas, Amerika Serikat, pada 1984. Saat itu dia membuat kerajinan untuk mengisi waktu luang. Keseriusan menekuni quilting mulai dilakukan saat bergabung dengan Women’s Club Caltex di Rumbai, Pekanbaru, Riau, pada 1993. “Saya diajari teman-teman yang berasal dari Amerika,” ujarnya.
Watie tak membutuhkan waktu lama untuk mendalami pembuatan quilting. Kuncinya, kata dia, kreatif dalam memadukan pola dan warna kain. “Kerajinan ini membutuhkan tingkat ketelatenan tinggi,” ujarnya. Karenanya, untuk membuat pola atau patchwork, Watie mengerjakannya sendiri. “Polanya sudah ada pada buku panduan, saya tinggal mengikutinya.”
Untuk satu selimut, Watie butuh waktu enam bulan. Sedangkan quilting hiasan dinding berukuran 30 x 30 sentimeter atau taplak meja bisa diselesaikan selama satu bulan. “Untuk pesanan, hasilnya bisa lebih cepat,” ungkapnya.
Untuk bahan baku berupa kain, Watie biasanya membeli dari Bali, Yogya, dan Amerika. “Harga masing-masing kain beragam,” ujarnya. Watie sendiri mendapat bantuan modal quilting dari suaminya.
Selembar quilting yang ditempelkan di dinding ia jual Rp 2,5 juta. Sedangkan untuk selimut, Watie menjualnya Rp 15 juta. Menurut dia, mahalnya harga kain hasil kerajinan tangannya karena tingkat kesulitan dan lamanya proses pembuatan.
Hasil penjualan quilting, kata Watie, tidak semuanya masuk kantong pribadinya. “Sebagian hasil penjualan saya sumbangkan ke gereja,” katanya.
Ketika di Rumbai, Watie mengaku tidak mengalami kesulitan untuk memasarkan hasil kerajinan tangannya. Pesanan datang dari teman-temannya kalangan ekspatriat di Caltex (sekarang Chevron). “Mereka kebanyakan dari Amerika dan dibawa pulang ke negaranya,” ujarnya. Namun, sejak suaminya pensiun dari perusahaan minyak tersebut pada Februari lalu, pesanan quilting dilakukan melalui telepon. “Barangnya dikirim melalui paket.”
Watie kini membidik Jakarta untuk memasarkan quilting-nya. Menurut alumnus Akademi Kewanitaan Tarakanita Yogyakarta 1977 ini, dia berencana mencari rekanan bisnis. Selain pasar domestik, Watie akan menjajal peluang pasar di Melbourne, Australia, meluaskan pasarnya. Alasannya, “Anak saya tinggal di sana.”
Mengenai harga untuk pasar domestik, menurut Watie, tidak akan semahal produk yang dijual ke kalangan asing. “Harganya akan berbeda dengan yang dikirim ke luar negeri,” katanya.
Di sebuah ruangan berukuran 2,5 x 3,5 meter di kawasan Pertama Hijau, Jakarta, Watie optimistis bisnis quilting-nya berkembang. Ibu tiga anak ini berencana memberikan kursus kepada siapa saja yang berminat membuat quilting. “Siapa saja bisa ikut dan gratis.” CORNILA DESYANA

Ikuti diskusi Ada 2 komentar untuk artikel ini.
Felly
saya sangat tertarik dengan patchwork & quilting, bila Ibu wati ingin memberikan kursus gratis tentu ini sangat membantu saya.
sayangnya hasil karya ibu wati tidak ditampilkan disini, tapi saya yakin tentu sangat bagus sekali.
Mohon saya dapat diberitahu dimana alamat ibu wati, terima kasih.
July 28th, 2008 at 4:51 am
erwin
salah satu cara yang bisa mbak/ibu lakukan adalah menghubungi penulisnya Cornila Desyana di Koran Tempo (telp. (021)7255625.
July 28th, 2008 at 6:46 am