You're here: My Business Blogging » Entrepreneur! » Article: Paten
Direktur Jenderal HKI Andy N Sommeng mengatakan ada jutaan paten di dunia yang sudah menjadi milik publik yang dapat diakses gratis. Tentunya hal ini merupakan peluang bagi para pewirausaha untuk memanfaatkan inovasi yang sudah dipatenkan tersebut. Sementara bantuan akses informasi paten dari pihak yang berwenang akan mengurangi masalah yang dihadapi pewirausaha.
Paten Belum Jadi Solusi
Jakarta, Kompas - Di tengah krisis energi yang dihadapi, Indonesia justru belum memanfaatkan inovasi di bidang energi yang sudah dipatenkan sebagai salah satu solusinya. Industri dan rumah tangga masih direpotkan upaya penyiasatan akan minimnya suplai dan informasi inovasi yang solutif.
Data Direktorat Jenderal Hak Kekayaan Intelektual (HKI) Departemen Hukum dan Hak Asasi Manusia menunjukkan, produk bidang energi yang dipatenkan terus bertambah.
”Tinggal bagaimana inovasi itu digunakan,” kata Direktur Jenderal HKI Andy N Sommeng pada seminar tentang ”Pemanfaatan Informasi Paten untuk Mengatasi Krisis Energi” memperingati Hari Ulang Tahun Ke-17 Direktorat Paten di Jakarta, Kamis (14/8).
Hingga kini, dari sekitar 60.000 paten yang terdaftar, 191 di antaranya merupakan paten bidang energi. Dari 191 paten tersebut, 30 paten di antaranya adalah atas nama warga negara Indonesia.
Paten itu antara lain berupa mesin penghemat konsumsi bahan bakar minyak (BBM), penghasil listrik tenaga air sederhana, kompor gas model kompor minyak tanah, penggerak turbin, dan mesin motor.
Milik publik
Sesuai dengan ketentuan internasional, produk paten dilindungi undang-undang maksimal 20 tahun. Untuk paten sederhana, perlindungan paten hanya 10 tahun.
Setelah masa itu lewat, pemilik sertifikat paten dibebaskan dari royalti. Temuannya pun menjadi milik publik dan bisa dimanfaatkan gratis.
”Jika ingin hemat, jutaan paten di dunia yang sudah menjadi milik publik dapat diakses gratis,” kata Andy.
Menurut Direktur Paten Ditjen HKI Sumardi Partoredjo, rata-rata setiap tahun 4.000 paten terdaftar di Indonesia. Dari jumlah itu, sekitar 10 persennya saja yang merupakan karya orang Indonesia.
Kalah dari Malaysia
Seperti dikatakan Menteri Negara Riset dan Teknologi Kusmayanto Kadiman, banyak inovasi yang aplikatif, tetapi tidak dikenal orang karena kurang promosi.
Apabila peringkat indeks kompetitif dijadikan acuan, Indonesia kalah bersaing dengan Malaysia di tingkat dunia. Indonesia di peringkat 59, sedangkan Malaysia dalam 30 besar.
Harapannya, kini semakin banyak produk paten yang diaplikasikan, khususnya oleh industri komersial.
Namun, sumbangan produk paten bagi daya saing Indonesia di kancah dunia, sejauh ini belum signifikan sebab soal kemampuan menjual sampai sekarang belum juga tuntas dipecahkan.
Pada seminar kemarin, informasi mengenai keberadaan inovasi bidang energi itulah yang disosialisasikan kepada para peserta, yang terdiri atas akademisi, peneliti, pengusaha bidang energi, dan para penemu (inventor). (GSA)
Post to: delicious, Digg, ma.gnolia, Stumbleupon
Search only in this blog
Search across Asia Blogging Network
More? Go to Asia Blogging Network Column section.
Ikuti diskusi Satu komentar untuk artikel ini.
asrul yanuar
Saran saya bukan masalah berapa banyak paten yang dihasilkan orang indonesia tapi bagaimana dari paten itu yang benar- benar bisa digunakan dan layak untuk ditawarkan manfaatnya. Mengenai paten idealnya dimasukkan dalam pendidikan dan juga disosialisasikan ke masyarakat jangan hanya kalangan peneliti saja.
August 26th, 2008 at 1:11 pm