You're here: My Business Blogging » Entrepreneur! » Article: Pedagang Kue Subuh
Selama lima bulan terakhir atau sejak Maret lalu, omzet pedagang kue subuh menurun hingga 30 persen. Penurunan itu sebagai efek dari kenaikan harga bahan bakar minyak yang ikut memengaruhi daya beli masyarakat serta kenaikan harga bahan baku kebutuhan pokok.
Pedagang kue subuh dinilai harus mendapat perlindungan dari Pemerintah Provinsi DKI Jakarta. Pedagang ini juga harus berani berkreasi agar saat harga bahan baku naik mereka bisa mengganti dengan bahan baku lainnya yang lebih murah dan berkualitas.
Omzet Turun hingga 30 Persen
Pedagang Kue Subuh Harus Kreatif
Jakarta, Kompas - Selama lima bulan terakhir atau sejak Maret lalu, omzet pedagang kue subuh menurun hingga 30 persen. Penurunan itu sebagai efek dari kenaikan harga bahan bakar minyak yang ikut memengaruhi daya beli masyarakat serta kenaikan harga bahan baku kebutuhan pokok.
Sejumlah pedagang kue subuh, Rabu (20/8), mengatakan, sejak kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) jumlah pembeli terus menurun. Berdasarkan data Kamar Dagang dan Industri DKI Jakarta, jumlah pedagang kue subuh sebanyak 650 orang. Mereka tersebar di Pasar Senen (Jakarta Pusat) 400 pedagang dan di Pasar Melawai 250 pedagang (Jakarta Selatan). Pedagang ini menggelar dagangan mereka pada pukul 02.00-07.00 (Pasar Senen) dan pukul 04.00-08.30 (Pasar Melawai).
”Sebelum kenaikan harga BBM, omzet sehari bisa mencapai Rp 3,5 juta-Rp 4 juta. Saat ini omzet anjlok hingga Rp 3 juta per hari,” kata Aji (24), pedagang roti manis di Pasar Senen.
Dampak dari kenaikan harga BBM, kata Aji, produksi roti manisnya dalam berbagai rasa semula mencapai rata-rata 3.000 buah merosot menjadi rata-rata 2.000 buah per hari.
Kendati harga bahan baku telah naik, Aji tetap menggunakan harga lama untuk produknya, yakni Rp 1.000-Rp 1.500 per bungkus. ”Jika harga terlalu mahal, justru membuat dagangan tidak laku karena mayoritas pembeli di sini adalah pedagang eceran,” kata Aji yang lima tahun terakhir berdagang di Pasar Senen.
Kondisi yang sama dialami Gustaf Salu (56), pedagang kue cucur, dan Minul (50), pedagang sosis solo (sejenis risol) di Pasar Melawai. Menurut Minul yang sudah 28 tahun menggelar dagangan di Pasar Mayestik, sebelum kenaikan harga BBM omzetnya mencapai Rp 1,2 juta per hari. Namun, beberapa bulan terakhir omzetnya menjadi Rp 800.000 per hari.
”Sebelum harga BBM naik, saya masih bisa mengikuti arisan. Saat ini yang penting ada modal. Uang yang datang dari hasil penjualan kue cuma lewat begitu saja. Tidak ada yang nyangkut. Enggak ada yang bisa disimpan,” kata Minul yang saat ini memproduksi kue 1.000 buah per hari. Sebelumnya, dia memproduksi 1.500 buah.
Kreatif
Dalam diskusi bertema ”Peningkatan Kualitas Kue Tradisional Khususnya Pedagang Kue Subuh” di Jakarta, Rabu pagi, mengemuka pedagang kue subuh harus mendapat perlindungan dari Pemerintah Provinsi DKI Jakarta. Pedagang ini juga harus berani berkreasi agar saat harga bahan baku naik mereka bisa mengganti dengan bahan baku lainnya yang lebih murah dan berkualitas.
Wakil Ketua Umum Bidang Perdagangan dan Usaha Kecil Menengah Kamar Dagang dan Industri DKI Jakarta Thamrin Pulungan mengatakan, pedagang kue subuh jangan menjadi korban kebijakan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta yang berganti- ganti.
Sekretaris Jenderal Asosiasi Pengusaha Bakery Indonesia Chris Hardijaya mengatakan, kreasi mutlak dibutuhkan para pelaku kue ini supaya bisa meningkatkan omzet penjualan dan menghadapi persaingan pasar. (PIN)
Sumber: Kompas
Post to: delicious, Digg, ma.gnolia, Stumbleupon
Search only in this blog
Search across Asia Blogging Network
More? Go to Asia Blogging Network Column section.
Ikuti diskusi, tuliskan komentar Anda.