You're here: My Business Blogging » Entrepreneur! » Article: Transformasi Sosial Pertanian Thailand
Transformasi sosial dan pertanian yang terjadi di Thailand, sebagaimana cerita di bawah ini, tampak begitu mulus. Dukungan infrastruktur yang memadai sehingga usaha pertanian menjadi efisien, disertai dukungan mekanisasi pertanian untuk mengatasi biaya buruh tani yang semakin mahal, sekaligus meningkatkan efisiensi waktu dan biaya, serta kemitraan yang berjalan baik menjadi faktor-faktor yang menjaga perubahan ini tetap mulus.
Hasilnya, perubahan itu tidak menghilangkan identitas Thailand sebagai negeri pertanian. Thailand tetap menjadi negara pertanian. Mereka bahkan bangga dengan menyebut diri sebagai Kitchen of The World alias dapur dunia.
Jagung dan Perubahan Sosial di Thailand
Oleh ANDREAS MARYOTO
Melihat wajah Thailand adalah melihat wajah negara yang tengah berubah. Ekonomi yang terus membaik menjadikan negara itu makin percaya diri dalam percaturan internasional. Melihat bukti perubahan itu tidaklah terlalu sulit. Fenomena di usaha tani jagung menjadi salah satu alat untuk melihat perubahan itu.
Ketika Kompas mengunjungi negara itu tahun 2005, bekas-bekas krisis ekonomi masih tampak. Berbagai bangunan setengah jadi masih terbengkalai alias tak jelas penyelesaiannya. Akan tetapi, sekarang bekas-bekas itu tinggal sedikit. Kemajuan Thailand yang pesat terlihat.
Rombongan Pioneer Corn Filed Trip to Thailand yang mengunjungi negeri itu pada akhir Juli hanya bisa terbelalak melihat jalan-jalan antarkota hingga antardesa di kawasan pertanian di luar kota Bangkok. Jalan-jalan itu sangat lebar dan mulus. Bus besar pun bisa masuk dengan leluasa ke lokasi perkebunan srikaya, longan, dan jagung.
Infrastruktur yang memadai itu sangat menunjang pertanian di kawasan tersebut. Usaha pertanian menjadi efisien karena pengangkutan sarana pertanian hingga hasil tani sangat mudah dan murah. Soal infrastruktur ini adalah satu hal. Mekanisasi pertanian, khususnya pada perkebunan jagung, juga menjadi bukti perubahan itu
Kriangkrai Chaipraditkul, produsen mesin pertanian sekitar 50 kilometer di luar kota Bangkok, mengatakan, petani mulai beralih ke mesin- mesin pertanian seperti untuk menabur benih karena biaya buruh tani semakin mahal.
Ia mencontohkan, penanaman jagung secara manual setidaknya membutuhkan 15 orang dengan biaya 1.300 baht (satu baht sekitar Rp 300) untuk satu hektar lahan. Akan tetapi, bila menggunakan mesin penabur benih, pengeluaran petani berkisar 800-1.000 baht dan hanya menggunakan satu orang buruh.
”Waktu yang dibutuhkan juga lebih singkat,” katanya. Harga buruh tani yang mahal terjadi karena sumber daya manusia pertanian di Thailand mulai langka. Petani sulit mendapatkan tenaga ketika waktu tanam dan panen. Perubahan ini menjadikan peluang usaha mesin pertanian menjadi sangat besar.
Kriangkrai dari Pioneer Thailand mengatakan, kelangkaan buruh tani karena anak-anak muda di pedesaan lebih tertarik bekerja di sektor industri ketimbang di pertanian. Anak-anak muda di desa yang berpendidikan tinggi juga memilih tinggal di kota dan mencari pekerjaan yang terkait dengan sektor modern.
Perubahan ini berlangsung relatif mulus. Pada saat tenaga kerja di sektor pertanian berkurang, industri peralatan dan mesin pertanian juga mulai bermunculan. Setidaknya industri peralatan pertanian seperti milik Kriang, yang bila di Indonesia tergolong usaha kecil dan menengah, mencapai 10 perusahaan di berbagai tempat di kawasan itu. Ia bisa mempekerjakan 15 orang.
Di luar itu sudah pasti perubahan ini menjadi daya tarik bagi produsen mesin pertanian. Perubahan ini menjadi peluang bagi pasar-pasar mesin pertanian dari luar negeri. Berbagai tempat penjualan berbagai merek mesin pertanian mudah ditemui di pinggir jalan di kawasan-kawasan pertanian. Penyalur mesin pertanian juga banyak ditemukan di berbagai tempat. Persewaan mesin pertanian tak kalah banyak.
Memasuki Distrik Pattananikom, Provinsi Lopburi, mekanisasi alat-alat pertanian makin memperlihatkan peran di tengah perubahan komposisi tenaga kerja di Thailand. Perkebunan jagung yang luas di tempat itu mengharuskan petani menggunakan setidaknya traktor untuk mengolah tanah dan juga mengangkut sarana dan hasil tani.
Seorang petani yang ditemui mengatakan, dengan lahan tiga hektar ia harus menggunakan mesin pertanian. Luas lahan yang bisa menghasilkan panen jagung hingga 15 ton per hektar itu sangat sulit bila harus ditangani secara manual di tengah kesulitan tenaga kerja di pedesaan.
Masalah-masalah yang muncul pada usaha tani jagung yang tengah berubah dari pertanian tradisional ke pertanian bermekanisasi memberikan peluang usaha yang lebih luas lagi. Pengadaan sarana pertanian, pemanenan, hingga usaha pascapanen menjadi usaha baik berskala kecil maupun skala besar yang banyak ditemukan di kawasan pertanian Lopburi.
Precha Manayingmed yang memiliki usaha, yang di Indonesia mungkin dikenal dengan nama kemitraan, mengambil peluang menjadi pedagang. Ia menyediakan benih, pupuk, pestisida, dan kredit untuk petani. Petani yang mengikuti kemitraan harus menjual jagung ke Precha saat panen. Meski mengambil kredit, tidak seluruh usaha tani padi dibiayai dengan kredit itu. Petani harus menyediakan dana tunai 40 persen.
Mesin
Untuk pemanenan, Precha mempersilakan petani memanen sendiri, lalu mengirim jagung ke gudangnya. Petani juga bisa minta dipanenkan oleh Precha dengan mesin pemanen yang mampu memanen satu jam untuk 1 hektar. Mesin pemanen ini bisa memanen jagung di kebun hingga menjadikannya jagung pipilan yang langsung dimasukkan ke truk pengangkut. Setiap cara panen itu mempunyai perhitungan biaya tersendiri.
Model ini hanya salah satu cara bagi petani untuk menanam jagung hingga menjual hasil panen. Di luar kemitraan seperti itu, banyak cara digunakan petani, mulai dari membiayai sendiri, memanen sendiri, atau separo dari usaha taninya dibiayai ataupun dikerjakan bekerja sama dengan pedagang. Kemitraan yang dilakukan Precha setidaknya diikuti oleh sekitar 300 petani. Berapa keuntungan yang didapat? Ia merendah dengan mengatakan, keuntungan bersih sekitar 5 persen dari seluruh pengeluaran.
Penanganan pascapanen juga menjadi peluang usaha tersendiri. Peluang usaha mulai dari mesin pemipil, lantai pengering, hingga mesin pengering yang bisa beroperasi secara kontinu. Precha memiliki mesin pemipil dan juga lantai pengiring yang lumayan luas berikut bangunan yang mencapai sekitar 5 hektar. Pengeringan dibutuhkan untuk mengolah jagung hingga kadar air sekitar 18 persen.
Meski masih banyak yang menggunakan sinar matahari untuk mengeringkan jagung, usaha pengeringan dengan mesin secara kontinu juga banyak digunakan oleh pengusaha di Thailand. Mereka juga mempunyai fasilitas penyimpan jagung, yaitu silo, yang bisa digunakan untuk mempertahankan kandungan air sehingga sesuai dengan kebutuhan pakan ternak.
Terdsak dan Hiamhuai Lapjitkusol adalah pemilik pengering kontinu dan silo yang mampu menghasilkan jagung pipilan kering hingga penjualan per tahun mencapai 50.000 ton. Dengan mesin ini, makin sedikit tenaga kerja yang terlibat. Ketika Kompas mengunjungi tempat itu, hanya ada dua penjaga mesin dan satu pemilah kotoran jagung.
Rantai usaha tani jagung mulai dari menanam hingga mengolah jagung di Thailand makin efisien karena menggunakan mesin. Efisiensi ini dilakukan karena perubahan sosial di negara itu. Tenaga kerja di Thailand mulai banyak beralih dari sektor pertanian ke industri. Perubahan ini berlangsung sangat lancar, kelangkaan tenaga kerja di pertanian ditanggulangi dengan mekanisasi pertanian.
Meski demikian, perubahan ini tidak menghilangkan identitas Thailand sebagai negeri pertanian. Thailand tetap menjadi negara pertanian. Mereka bahkan bangga dengan menyebut diri sebagai Kitchen of The World alias dapur dunia. Sudah pasti dapur itu akan tetap mengepul dan mengeluarkan bau enak kalau mereka mendapat pasokan bahan makanan yang memadai. Pertanian Thailand yang kuat di tengah perubahan sosial tetap mampu memasok makanan yang dibutuhkan.
Post to: delicious, Digg, ma.gnolia, Stumbleupon
Search only in this blog
Search across Asia Blogging Network
More? Go to Asia Blogging Network Column section.
Ikuti diskusi Ada 2 komentar untuk artikel ini.
edisantoso
Negriku terlalu kaya akan alamnya sehingga pemerintah lupa,rakyatnya banyak yang miskin.Rakyat seperti saya hanya tahu diri, bahwa anak kami hanya butuh makan dan pendidikan.Jadi kami buta kalau alam kami kaya.Karena pemerintah kami kerjanya membutakan matahati kami.
Sistem pertanian Modern sepeti di Thailand sudah kami kenal sejak lahir,Th 1980 dari Jawa Pos group.Masalahnya kami terlalu repot membantu pejabat dan birokrat untuk menjadi lebih kaya.Jadi kami lupa memikirkan nasib kami sendiri.Inilah Indonesia negriku dan pejabatnya yang manja, mati masuk surga.Dan rakyat cukup jadi kayu bakar di neraka.
September 24th, 2008 at 12:52 pm
Albertus Eko WPS.,SP
Dulu petani Thailand, Malaysia belajar dengan petani kita. Tetapi sekarang petani kita jauh ketinggalan tingkat kesejahteraannya, dibandingkan dengan negara2 tsb. Ada apa dengan Indonesia ? Mengapa pemerintah kita tidak mau meniru negara2 yang telah maju bidang pertaniannya ?
October 4th, 2008 at 8:35 am