You're here: My Business Blogging » Entrepreneur! » Article: Tantangan Pedagang Keranjang Parsel
Omzet pedagang keranjang parsel terus menurun dalam tiga tahun terakhir ini. Bahkan tahun ini diperkirakan omzet menurun hingga 50-60 persen. Dua hal tantangan yang dihadapi pedagang adalah larangan mengirimkan parsel kepada pejabat serta menurunnya daya beli masyarakat.
Pedagang Keranjang Parsel Terus Merugi
Jakarta, Kompas - Larangan mengirimkan parsel kepada pejabat memengaruhi pendapatan pedagang keranjang atau kerangka parsel. Kondisi ini diperparah dengan menurunnya daya beli masyarakat sebagai efek dari kenaikan harga barang kebutuhan pokok. Omzet pedagang kerajinan ini menurun 50-60 persen.
Pedagang keranjang parsel di Jalan Semeru, Grogol, Jakarta Barat, dan Stasiun Cikini, Jakarta Pusat, Selasa (9/9), mengatakan, hingga memasuki minggu kedua puasa pemesanan keranjang parsel masih sepi. Jumlah pemesanan menurun dibandingkan dengna periode sama dua tahun terakhir. Jumlah transaksi produk dagangan ini berkurang drastis.
Sejauh pengamatan, pasar keranjang parsel Grogol dan Cikini hingga sore terlihat sepi. Sebagian kecil konsumen terlihat tawar-menawar harga. Namun, hanya satu atau dua orang yang terlihat melakukan transaksi.
”Sampai hari ini, pemesanan masih sepi. Dari tadi pagi, hanya satu atau dua orang yang membeli keranjang. Itu pun dalam jumlah satuan saja, bukan dalam partai besar,” kata Puput (29), yang beberapa tahun terakhir meneruskan usaha ibunya yang hampir 20 tahun lalu berdagang di tempat itu.
Sarjana jasa boga dari salah satu universitas di Jakarta ini mengatakan, kondisi sepi pembeli saat ini mulai dirasakan sejak menjelang Lebaran 2006 dan 2007 menyusul adanya larangan dari pemerintah mengirim parsel kepada pejabat. Namun, tahun ini kondisi makin parah akibat daya beli masyarakat menurun.
Hal senada dikatakan Herina (37), pedagang keranjang parsel di Grogol. Herina mengatakan, dua tahun terakhir pasar keranjang ini masih lebih baik dibandingkan dengan tahun ini. Meski menurun, pemesanan dalam partai besar pada saat menjelang dan pada awal puasa masih ada.
”Tetapi sekarang, boro-boro pesanan dalam partai besar. Sudah seminggu puasa saja, pesanan partai kecil saja belum ada,” ucap Herina.
50 persen
Sepinya pemesanan dan pembelian keranjang parsel ini membuat pedagang merugi. Omzet mereka turun mencapai 50 sampai 60 persen.
”Tahun lalu, omzet saya mencapai Rp 4 juta per hari. Mungkin tahun ini tinggal Rp 1,5 juta per hari,” kata Herina.
Lain dengan Puput yang pada tahun 2006 omzetnya Rp 10 juta per hari. Namun, tahun lalu omzetnya turun menjadi Rp 7,5 juta per hari. Dia memperkirakan, tahun ini omzetnya akan turun lagi sampai maksimal Rp 5 juta per hari.
Lani, pedagang di Cikini, mengatakan, omzet usahanya pada Lebaran tahun-tahun sebelumnya Rp 5 juta per hari. Tahun ini diperkirakan maksimal Rp 1,5 juta per hari. (PIN)
Post to: delicious, Digg, ma.gnolia, Stumbleupon
Search only in this blog
Search across Asia Blogging Network
More? Go to Asia Blogging Network Column section.
Ikuti diskusi, tuliskan komentar Anda.