You're here: My Business Blogging » Entrepreneur! » Article: Kendala Klaster IKM

Kendala Klaster IKM

erwin — October 6, 2008 / 6:22 pm

Ada beberapa kendala pengembangan klaster industri kecil dan menengah (IKM) sebagaimana yang ditemukan di Jawa Barat dan Jawa Tengah, meski di tengah tingginya permintaan, di antaranya adalah:

  • ketidakmampuan SDM memproduksi barang yang laku jual
  • masalah permodalan di mana bank meminta agunan dari IKM
  • keterbatasan kredit usaha rakyat (KUR) yang dikucurkan, yaitu di bawah Rp 5 juta, sementara modal yang dibutuhkan hingga ratusan juta.
  • keterbatasan peralatan produksi dan pasar
  • ketidakmampuan menerobos pasar ekspor secara langsung, tetapi melalui pengepul
  • kendala pasokan listrik

 

Banyak Kendala Hadang IKM

Pasokan Listrik Macetkan Ekspansi Usaha

Kebumen, Kompas - Pengembangan klaster industri kecil dan menengah atau IKM masih banyak menemui kendala. Pemerintah tidak bisa sekadar mencanangkan program kredit usaha rakyat karena implementasi program ini tetap menghadang pengembangan IKM.

Berbagai kendala itu terungkap dalam safari Direktorat Jenderal IKM Departemen Perindustrian pada sejumlah IKM di Jawa Barat dan Jawa Tengah hari Sabtu-Minggu pekan lalu.

Produsen susu bubuk kedelai, Yudi Ahmad Bayhaq, di Bandung yang empat bulan ini mengembangkan produk minuman instan bandrek dan bajigur mengatakan, tingginya permintaan minuman instan ini belum menggerakkan dirinya guna memanfaatkan kredit usaha rakyat (KUR). Akibatnya, pengembangan usaha masih bergantung putaran uang muka dari konsumennya.

Bupati Purbalingga Triyono Budi Sasongko mengatakan, pengembangan IKM dengan sistem klaster masih dihadang persoalan, antara lain masalah sumber daya manusia (SDM). Hingga kini, SDM belum mampu memproduksi barang yang laku jual.

Permodalan juga menjadi persoalan klasik. Program KUR diadakan, tetapi tetap terbatas. Dalam praktiknya, bank tetap meminta agunan dari IKM.

Menurut Triyono, kebanyakan KUR yang dikucurkan masih di bawah Rp 5 juta, sementara IKM yang kini terus berkembang, seperti industri rumahan bulu mata, rambut palsu, gula merah, knalpot, garmen, dan kayu di Purbalingga, membutuhkan suntikan modal ratusan juta rupiah.

Ada juga kendala lain, yaitu berupa keterbatasan peralatan produksi dan pasar.

Direktur Jenderal IKM Depperin Fauzi Azis mengatakan, KUR sebetulnya bisa diperoleh sampai Rp 500 juta. Namun, bank kini memang terkadang takut menyalurkan kredit ratusan juta karena takut bergesekan dengan program kredit perbankan lainnya.

Lain halnya produsen getuk goreng di Sokaraja, Kabupaten Banyumas. Kendala pengembangan klaster adalah SDM dan pemasaran. Walaupun permintaan tinggi, terutama menjelang akhir pekan, generasi penerus yang akan mengembangkan usaha getuk ini akan makin punah.

H Trisno Hartowo, generasi ketiga produsen getuk goreng Asli Tohirin, mengatakan, kini generasi penerus yang diharapkan dapat menciptakan inovasi-inovasi lebih suka merantau. Sementara generasi tua juga kesulitan mencari SDM.

Sementara itu, perajin anyaman pandan dan serabut kelapa di Kebumen belum mampu menerobos pasar ekspor secara langsung. Pemasaran masih melalui pengepul sehingga harga masih cenderung ditekan pengepul.

Tunda ekspansi

Kim Ir, seorang investor Korea yang mengembangkan produksi rambut palsu PT Boyang Industrial di Purbalingga, mengatakan, ekspansi usaha sesungguhnya sudah disiapkan matang untuk mendorong peningkatan produktivitas dan penciptaan tenaga kerja lokal, tetapi kendala pasokan listrik masih bikin pusing.

Padahal, usaha penanaman modal asing dengan sistem plasma ini sudah mampu menghasilkan rambut palsu kualitas ekspor untuk memenuhi permintaan Amerika Serikat. Permintaannya mencapai 250.000 potong per bulan. (OSA)

Sumber

Post to: delicious, Digg, ma.gnolia, Stumbleupon

Ikuti diskusi, tuliskan komentar Anda.

LOCAL SEARCH

Search only in this blog

GLOBAL SEARCH

Search across Asia Blogging Network

GLOBAL

CHANNEL

COLUMN

More? Go to Asia Blogging Network Column section.

FEATURED

COMMENT

  • mulyadi — Wah ide yg bagus, kebetulan di desa saya minim sekali budidaya pertanian, krn minim informasi, ingin rasanya berhenti menjadi karyawan, ...
  • wati — mb' saya sering bingung bila ingin membuat alat peraga tuk usia TK.mb klo bolh tolong ajari saya langkh2 tuk ...
  • Achmad Yari — saya pedagang Bakwan ada sekian anak dari daerah yang ikut saya berjualan, paling tidak saya sudah sedikit menciptakan lapangan kerja ...
  • Anita — Aku seneng ma ka y0ris, buatku dy jenius..hebat.emg patut dcontoh,apalg bwt skrg ini,kayanya indonesia bth lbh bnyk 0rg2 kya ka ...
  • Is Karyono — bagus sekali,semoga banyak sukses
  • DEde sumarna — ada lowongan di DGI gak???? sy pernah joint dengan PT DGI waktu di PANTURA sy dulu kerja di PT. HK
  • woopharee — I had no intimation that it disposition be so tremendous! Did you see how scads people gathered to estimate good ...
  • joni trismanto — saya pernah diminta teh Fenny untuk mendesain 'toko"nya (belum butik) waktu itu di KMBB Dago? Lalu kita terpisah dan ketemu ...
  • Hanny — ekonomi indonesia merosot berdampak kepada masyarakat yang ekonominya lema,sehingga mendapatkan masalah dalam indonesia sendiri, karena dampak ini maka timbulah gejolak ...
  • adhiya — ceritanya bikin kita termotivasi untuk maju,, gud luck ya,,hehe...