You're here: My Business Blogging » Entrepreneur! » Article: Kaderisasi di Glagahombo
Kaderisasi kewirausahaan warga Glagahombo, Boyolali, Jawa Tengah, menarik untuk dicermati. Mereka umumnya menekuni usaha berjualan sate kambing dan tongseng dengan omzet hingga puluhan juta rupiah per hari.
Beberapa kiat sukses mereka:
Kaderisasi “MLM” Pengusaha Sate dan Tongseng Glagahombo
Oleh Antony Lee
“Hampir tidak ada warga Glagahombo yang tidak pernah berjualan sate kambing dan tongseng. Awalnya tukang sate pikul di Solo, kemudian banyak yang jualan di Jabodetabek (Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi),” kata Alex Sukirto (50), pedagang sate kambing yang buka warung di Bintaro, Jakarta Selatan, dan Ciputat, Tangerang, saat ditemui Sabtu (4/10) di Boyolali, Jawa Tengah.
Dengan semangat, Alex yang sedang mudik ke kampung istrinya, Ngadiyem (43), di Glagahombo, Desa Blumbang, Kecamatan Klego, Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah, bertutur tentang usaha sate dan tongseng yang digelutinya. ”Saya mulai merintis usaha itu pada 1993 dengan menyewa warung di Bintaro. Modalnya didapat dari hasil kerja keras istri yang selama empat tahun menjadi pembantu di warung sate dan tongseng milik salah seorang kerabatnya di Tanjung Duren, Jakarta Barat,” paparnya.
Dari usaha itu, kini ia bisa membeli dua rumah di Pondok Arum dan Bintaro. Pada 2005 Alex dan istrinya bahkan membuka satu lagi warung sate dan tongseng di Ciputat, Tangerang. Namun, ujar Alex, usaha itu masih kalah jauh dibandingkan dengan usaha sejumlah tetangganya. ”Mereka ada yang mempunyai lima warung sate dan tongseng dengan omzet ratusan juta rupiah,” katanya.
Di wilayah Jabodetabek, kata Alex, setidaknya ada sekitar 500 warung sate dan tongseng yang pemiliknya berasal dari Glagahombo. ”Omzetnya bahkan ada yang sudah menembus puluhan juta rupiah per hari,” katanya dengan nada bangga.
Bagaimana mereka bisa begitu berkembang? Menurut Alex, sebenarnya hampir semuanya memiliki kisah serupa dengannya. Mereka awalnya bekerja sebagai pembantu di warung sejenis milik warga Glagahombo yang sudah lebih dahulu mapan.
Ngateman (37), pemilik warung sate dan tongseng di Kemayoran dan Cibubur, misalnya, dua tahun setelah bekerja di warung sate dan tongseng Pak Karmin, warga Glagahombo yang membuka usaha di Jakarta Utara, memanfaatkan upahnya untuk membuka warung. ”Selama bekerja, upahnya yang Rp 100.000 sampai Rp 150.000 per bulan dikumpulkan untuk dijadikan modal. Jumlah itu lumayan besar untuk ukuran tahun 1990-an,” cerita Ngateman.
”Di tempat Pak Karmin pembayaran upah bisa setahun sekali atau bulanan. Saya minta sekalian setahun, disimpan dulu. Makan dan tidur, semua sudah ditanggung Pak Karmin. Jadi, uang utuh,” tambahnya.
Ayah dua anak itu saat ini memiliki aset miliaran rupiah. ”Awalnya tidak pernah membayangkan akan memiliki usaha seperti ini, yang omzetnya mencapai Rp 3 juta per hari. Saya hanya bercita-cita memiliki warung sendiri dan sukses seperti Pak Karmin,” kata Ngateman yang mengaku berasal dari keluarga miskin.
Meniru
Menurut Ngateman, untuk memulai usahanya, ia meniru pengelolaan warung yang dilakukan Pak Karmin, merekrut warga kampungnya. Sebagian besar pekerja yang direkturnya kini bahkan sudah memiliki warung sendiri di kawasan Jabodetabek. ”Namun, kami tidak pernah saling iri karena ada tepo seliro (tenggang rasa). Mau buka usaha biasanya melihat-lihat lokasi. Justru saya malu kalau pekerja yang saya bawa enggak berhasil di sono,” ucapnya.
Menurut Kepala Desa Blumbang Miftahudin, sistem boyongan warga desa untuk mencari nafkah di Jakarta sudah berlangsung sejak tahun 1970-an. ”Bedanya, saat berangkat ke Jakarta mereka sudah dicadangkan memiliki pekerjaan di warung sate milik warga lainnya. Bahkan, sebelum berangkat sudah diberi gambaran berapa upah yang akan diterima,” katanya.
Usaha warga Glagahombo di bidang sate dan tongseng kambing di Jabodetabek, menurut Miftahudin, diawali oleh almarhum Sabri pada 1970-an. ”Mbah Sabri berjualan sate dengan cara dipikul di kawasan Pasar Minggu, Jakarta Selatan. Setelah usahanya cukup mapan, ia mengajak tetangga desanya, Karmin, yang akhirnya membuka warung sate juga di Pasar Minggu. Karmin lantas memanggil warga lainnya untuk menjadi pekerja, seperti Budi, Samsudin, Tardi, dan Sudadi,” ceritanya.
”Mereka yang bekerja mulai dari penyiapan bumbu sampai mengipas sate menjadi tahu manajemen dan cara kerja. Mereka mulai membuka usaha dan memanggil warga lainnya. Ini terus berulang,” tambah Miftahudin.
Ibarat prinsip kerja pemasaran berjenjang atau multilevel marketing (MLM), hampir setiap pemilik warung memanggil pekerja dari desanya.
Dampak sistem ”kaderisasi” pengusaha sate dan tongseng ini, menurut Miftahudin, mendorong pembangunan di Desa Blumbang, terutama Dusun Glagahombo. Jalan desa bahkan dibangun dengan dana swadaya pengusaha sate asal Glagahombo yang membentuk Ikatan Kerukunan Keluarga Glagahombo. Bukan main…
Post to: delicious, Digg, ma.gnolia, Stumbleupon
Search only in this blog
Search across Asia Blogging Network
More? Go to Asia Blogging Network Column section.
Ikuti diskusi, tuliskan komentar Anda.