You're here: My Business Blogging » Entrepreneur! » Article: Peluang Ekspor ke Timur Tengah
Krisis ekonomi global tidak hanya memberi masalah atau menjadi ancaman bagi kelangsungan usaha tapi juga menyisakan atau menciptakan peluang baru, seperti peluang ekspor ke pasar Timur Tengah untuk produk kehutanan, berupa kayu lapis, kayu pertukangan, dan mebel.
Terlebih lagi, pemerintah juga menjanjikan bantuan berupa kemudahan perizinan dan promosi pasar.
Namun juga diingatkan, bahwa pengolahan sumber daya alam untuk ekspor barang mentah tak bisa diandalkan lagi untuk menggenjot penerimaan negara. Pemerintah seharusnya fokus mengembangkan industri hilir berbasis sumber daya alam untuk meningkatkan nilai ekspor.
Eksportir Bisa Andalkan Pasar Timur Tengah
Jakarta, Kompas - Pemerintah berjanji akan terus melakukan berbagai upaya untuk mendukung industri kehutanan agar dapat bertahan menghadapi krisis finansial global. Pemerintah mendorong pengusaha untuk meningkatkan penetrasi ke pasar Timur Tengah.
Seiring terjadinya krisis finansial global, permintaan terhadap produk kehutanan, seperti kayu lapis, kayu pertukangan, dan mebel, menurun.
Menteri Kehutanan MS Kaban, Rabu (19/11) di Jakarta, mengatakan, kemudahan perizinan dan promosi pasar bagian dari upaya pemerintah menjaga iklim usaha kehutanan. Diharapkan industri kehutanan mampu bertahan.
Data Departemen Tenaga Kerja dan Transmigrasi menunjukkan, industri kayu lapis di Kalimantan Barat dan Kalimantan Timur mulai melaporkan proses merumahkan pekerja karena pesanan berkurang drastis.
Menurut Direktur Jenderal Bina Produksi Kehutanan Dephut Hadi Pasaribu, Dephut sudah mengakomodasi beberapa usulan pengusaha kehutanan untuk meringankan beban akibat krisis. Diakui, turunnya omzet eksportir produk kayu nasional bakal memengaruhi penerimaan negara dari pajak pada tahun 2009.
”Kalau tahun ini, sudah terealisasi hampir 100 persen dari target Rp 2,5 triliun penerimaan negara bukan pajak sektor kehutanan. Belum ada pengaruh untuk tahun ini,” katanya.
Ekspor produk kayu rata-rata mencapai 3 miliar dollar AS per tahun, sebagian besar berbentuk kayu lapis dan kayu gergajian.
Menurut Direktur Eksekutif Greenomics Indonesia Elfian Effendi, pengolahan sumber daya alam untuk ekspor barang mentah tak bisa diandalkan lagi untuk menggenjot penerimaan negara. Pemerintah seharusnya fokus mengembangkan industri hilir berbasis sumber daya alam untuk meningkatkan nilai ekspor.
”Jadi, tidak lagi sekadar mengejar volume ekspor dengan mengeksploitasi sumber daya alam,” kata Elfi. (ham)
Post to: delicious, Digg, ma.gnolia, Stumbleupon
Search only in this blog
Search across Asia Blogging Network
More? Go to Asia Blogging Network Column section.
cURL error 52: Empty reply from server
Ikuti diskusi Ada 2 komentar untuk artikel ini.
daniel
saya ingin memperkenalkan inovasi produk, yaitu pengganti kayu, untuk mengurangi global warming, memiliki kekuatan yang lebih kuat dbandingkan dengan kayu, setiap cm mampu menahan beban 5ton, waterproof dan fireproof.
February 10th, 2009 at 12:20 pm
wahyu
bentuknya apa ?
March 4th, 2009 at 9:26 pm