You're here: My Business Blogging » Entrepreneur! » Article: Setelah Kesulitan, Ada Kemudahan
Setelah kesulitan, pasti ada kemudahan. Prinsip optimis ini menjadi pegangan Wahyu dan pengusaha lainnya menghadapi krisis ekonomi global, khususnya eksportir batik yang baru saja bangkit. Wahyu optimistis, separah apapun krisis, pasti akan berlalu dan kembali membaik.
Sementara ekspor masih tertahan oleh kecenderungan konsumen untuk menahan belanja, pasar domestik menjadi penopang keberlangsungan usaha Wahyu dkk.
Selain sikap optimis, Wahyu dkk juga menjadi lebih kreatif untuk tetap dapat bertahan, baik dalam pemilihan bahan, desain, proses pembuatan, maupun pemasaran.
Krisis Mulai Berdampak pada Batik
Ini harus dijadikan titik tolak bagi kita. Setelah kesulitan, pasti ada kemudahan, kata Wahyu Janawijaya, Rabu (26/11).
Wahyu adalah eksportir produk batik dan tekstil dari Solo, Jawa Tengah. Negara tujuannya adalah Perancis dan Amerika Serikat.
Produknya antara lain karpet, tas, baju, jas dari bahan batik lawasan (recycle) dan household dari tekstil bermotif batik. Meski krisis ekonomi global mulai berdampak pada batik yang baru saja bangkit, Wahyu tetap optimistis bahwa separah apa pun krisis pasti akan berlalu dan kembali membaik.
Menurut Wahyu yang juga memasarkan produk batiknya di Hotel Novotel, Solo, biasanya bulan Oktober-Maret adalah hari-hari sibuknya memproduksi batik pesanan luar negeri untuk memenuhi kebutuhan musim panas.
”Biasanya kesepakatan terjadi akhir September, Oktober kami sudah mulai produksi. Sekarang, belum ada satu pun pesanan. Kalau yang minta contoh sih sudah banyak,” keluh Wahyu.
Pada periode April 2007-April 2008, Wahyu berhasil mencapai nilai ekspor Rp 1 miliar. Namun, untuk periode April-November 2008, ia baru berhasil membukukan nilai ekspor Rp 200 juta. Penjualan domestik pun menurun hingga 50 persen.
Menurut dia, konsumen terlihat menahan diri untuk membelanjakan uangnya. Meskipun begitu, penjualan domestik masih menjadi ”pahlawan” untuk mempertahankan putaran roda usahanya. ”Namun, secara keseluruhan, saya masih terus berproduksi untuk stok barang,” kata Wahyu.
Jemput bola
Pengusaha batik lainnya yang juga Ketua Forum Pengembangan Kampoeng Batik Laweyan (KBL) Alpha Febela Priyatmono mengungkapkan hal serupa. Ia mengatakan, sudah satu-dua minggu ini tingkat kunjungan ke ruang-ruang pamer di KBL menurun.
Terlebih untuk ekspor yang sudah sebulan ini menampakkan kemerosotan. Alpha mengekspor batiknya ke Malaysia. ”Batik baru saja bangkit, ternyata sekarang kena dampak krisis ekonomi global,” kata Alpha.
Catatan ekspor Dinas Perindustrian, Perdagangan, dan Penanaman Modal Kota Solo menunjukkan penurunan ekspor batik. Pada Oktober 2008 ekspor senilai 238.323 dollar AS, turun dari bulan sebelumnya yang mencatat nilai 302.514 dollar AS.
Penurunan ekspor tekstil dan produk tekstil (TPT) lebih besar lagi, yakni dari 1.757.441 dollar AS pada September 2008 menjadi 1.334.587 dollar AS.
Untuk ekspor TPT dari enam kabupaten di eks Karesidenan Surakarta, nilai ekspor dari 17.338.208 dollar AS pada bulan September turun menjadi 15.285.326 dollar AS.
Dampak lain
Dampak lain krisis keuangan global berupa kenaikan bahan baku, seperti obat pewarna dan bahan baku kain. Pengusaha batik lainnya, Sari Gunawan Setiawan, mengatakan, harga kain sutra, katun, dan rayon naik tinggi. Harga sutra putihan dari China yang semula paling tinggi Rp 30.000 per yard (1 yard = 0,9144 meter), sekarang Rp 40.000 ke atas. Mendapatkan sutra itu pun sulit. ”Harga katun dan rayon yang dulu Rp 6.000 sekarang Rp 7.000 per yard,” ungkap Sari.
Baik Wahyu, Alpha, maupun Sari sependapat, kreatif menjadi kata kunci agar tetap dapat bertahan, baik dalam pemilihan bahan, desain, proses pembuatan, maupun pemasaran.
”Kami mengadakan pameran bersama di luar kota untuk menjemput bola dan memperluas pasar,” kata Alpha.
”Produk kami kebanyakan batik tulis. Agar harganya tidak terlalu mahal, kami mencari proses yang bisa menekan ongkos produksi sehingga harga batik tulis tidak terlalu mahal dan disambut pasar,” kata Sari.
”Saya mencari bahan yang tidak dipakai orang lain, lalu kami olah menjadi produk yang bagus,” kata Wahyu. (eki)
Post to: delicious, Digg, ma.gnolia, Stumbleupon
Search only in this blog
Search across Asia Blogging Network
More? Go to Asia Blogging Network Column section.
cURL error 52: Empty reply from server
Ikuti diskusi Ada 2 komentar untuk artikel ini.
Bambang Arief Sukmanta
salam buat Wahyu….good luck… oke mas wahyu kalo begitu mari kita kerja sama kebetulan saya ada restoran dengan saya ada restoran tradisional gaya jawa ato lebih spesifik jogjakarta. tuk market para turis lokal dan inter kerjasama dengan biro. okeyy…thank
December 17th, 2008 at 9:15 am
Muhammad Safaruddin
Salam kenal pak Wahyu, saya ingin mengajak pak Wahyu untuk kerja Sama di bidang Kain sutera putih Polos ATBM asal Bugis Makassar yg merupakan bahan dasar kain Batik sutera serta ingin menawarkan beberapa produk sarung sutera bugis yg bisa menjadi salah satu produk yg diekspor ke Malaysia.jika tertarik silahkan hub saya di email daeng_siddo@yahoo.co.id. terima Kasih..
February 11th, 2009 at 2:51 pm