You're here: My Business Blogging » Entrepreneur! » Article: Kendala Teknis Bisnis Industri Kreatif
Meskipun memiliki potensi besar di masa depan untuk dikembangkan, namun industri kreatif Indonesia dinilai masih mengalami kendala dalam penguasaan teknis bisnis.
Selain itu, menurut Chitaru Kawasaki, pengajar di Universitas Seica, Kyoto, Jepang, yang sejak 1988 meneliti gerabah di Indonesia, teknologi industri tradisional yang menopang budaya lokal itu mengalami kemerosotan, karena tidak ada regenerasi.
Terkait pencanangan tahun 2009 sebagai Tahun Ekonomi Kreatif, ”Departemen Perdagangan tengah melakukan pendekatan ke Departemen Pendidikan Nasional, untuk menyusun kurikulum yang bisa mengembangkan ekonomi kreatif,” kata Indah Hesti Krisnarini, staf ahli Menteri Perdagangan.
Industri Kreatif Terkendala Teknis Bisnis
Solo, Kompas - Keberagaman budaya di Nusantara menjadi modal besar bagi Indonesia untuk menggarap industri kreatif pada masa depan. Bahkan, industri kreatif yang berbasis pada kultur dan budaya tradisi masih memiliki peluang besar untuk dikembangkan. Namun, pengusaha sering terkendala pada penguasaan menyangkut teknis bisnis.
Demikian benang merah yang terungkap dalam seminar internasional Pengembangan Industri Kreatif Berbasis Tradisi dalam Menghadapi Globalisasi di Institut Seni Indonesia (ISI) Solo, Rabu (17/12). Seminar menampilkan pembicara Indah Hesti Krisnarini, Chitaru Kawasaki, Daniel Surya, Solichin Gunawan, dan Arung Lusika.
Rektor ISI Solo Waridi menyebut budaya kenusantaraan sebagai ganti istilah budaya tradisi, mencapai 778 ragam. Itu bisa menjadi sumber inspirasi mengembangkan industri kreatif.
Indah Hesti Krisnarini, staf ahli Menteri Perdagangan, mengungkapkan, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada 22 Desember 2008 akan mencanangkan Tahun 2009 sebagai Tahun Ekonomi Kreatif.
”Departemen Perdagangan tengah melakukan pendekatan ke Departemen Pendidikan Nasional, untuk menyusun kurikulum yang bisa mengembangkan ekonomi kreatif,” kata Indah.
Ia menambahkan, di Inggris, yang berhasil mengembangkan ekonomi kreatif sejak 1997, upaya pencarian bakat dilakukan pada anak usia 7-14 tahun melalui pelatihan kreativitas di bidang seni dan olahraga di sekolah. Di negara itu industri kreatif menyumbang 7,9 persen dari produk domestik bruto (PDB) dengan pertumbuhan 9 persen per tahun, sedangkan Australia mencatat 3,3 persen dari PDB dan pertumbuhan 5,77 persen per tahun.
Di Indonesia, pada 2002-2006, industri kreatif menyumbang 6,3 persen dari PDB, dan menyerap tenaga kerja sebanyak 3,4 juta, dan melibatkan 2,5 juta perusahaan. Dari total ekspor, industri kreatif menyumbang Rp 69,5 miliar atau 10,58 persen. Namun, sektor industri kreatif baru menduduki peringkat delapan sebagai kontributor ekspor.
Tahun 2000, peluang internasional untuk pemasaran produk industri kreatif mencapai 2,24 triliun dollar AS dan tumbuh 5,6 persen per tahun. Sementara itu, pada 2020 peluangnya diperkirakan mencapai 6,1 triliun dollar AS dan tumbuh 5 persen per tahun.
Chitaru Kawasaki, pengajar di Universitas Seica, Kyoto, Jepang, mengakui kerajinan tradisional di Indonesia mendapat apresiasi tinggi dari dunia, seperti batik, tenun ikat, kerajinan kayu, keramik, dan gerabah. Namun, Chitaru, yang sejak 1988 meneliti gerabah di Indonesia, mensinyalir teknologi industri tradisional yang menopang budaya lokal itu mengalami kemerosotan, karena tidak ada regenerasi. (asa)
Post to: delicious, Digg, ma.gnolia, Stumbleupon
Search only in this blog
Search across Asia Blogging Network
More? Go to Asia Blogging Network Column section.
A feed could not be found at http://3gweek.net/feed/
A feed could not be found at http://feeds.feedburner.com/transjogja
Ikuti diskusi Satu komentar untuk artikel ini.
budi herprasetyo
para pejabat berpikir selalu saja jangka pendek. Tidak mau berpikir secara holistik. Kreatifitas itu dimulai dari kecil dan keluarga. Bila orang tua mendidik anaknya menjadi kreatif, mereka akan kreatif.
January 17th, 2009 at 10:52 am