You're here: My Business Blogging » Entrepreneur! » Article: Usaha Mikro 2009
DENGAN dampak krisis global yang diiringi pemutusan hubungan kerja (PHK), diperkirakan jumlah tenaga kerja di usaha mikro pada 2009 akan membengkak karena korban PHK akan beralih menjadi pengusaha mikro. Meskipun hal ini tidak mudah, karena sekarang pengusaha kecil harus memperoleh izin produksi industri rumah tangga (PIRT) sehingga produknya diharapkan memenuhi syarat keamanan, kesehatan, dan keselamatan.
Efek kondisi krisis ini diperkirakan menumbuhkan UKM bidang produksi roti, di mana dengan modal Rp 20-30 juta, keuntungan dalam waktu singkat akan menutupi modal, sementara biaya produksi ini tidak terlampau berat karena harga bahan baku roti, gandum, cenderung menurun.
Guna menjaga kelangsungan industri makanan dan minuman di dalam negeri, Ketua Gapmmi Franky Sibarani mengingatkan produsen agar menjalin kerja sama yang kuat dengan peritel. Apabila terjadi konflik antara pemasok dan peritel, dikhawatirkan akan membuka peluang bagi peritel memilih memperdagangkan produk impor.
Pertumbuhan Merosot
Usaha Mikro Makanan dan Minuman Meningkat
Jakarta, Kompas - Pertumbuhan industri makanan dan minuman tahun 2009 diperkirakan hanya sekitar 10 persen. Padahal, tahun 2008 pertumbuhan industri makanan dan minuman mencapai 15 persen. Hal itu terutama karena menurunnya daya beli masyarakat.
Demikian disampaikan Ketua Umum Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman Indonesia (Gapmmi) Thomas Darmawan di Jakarta, Minggu (11/1). ”Pertumbuhan masih terjadi, tetapi dibandingkan tahun-tahun sebelumnya, pertumbuhannya hanya sekitar 10 persen.”
Data Badan Pusat Statistik (BPS) menyebutkan, pertumbuhan industri makanan dan minuman skala kecil, menengah maupun besar terus merosot.
”Tahun 2006, dilihat dari data, pertumbuhannya 32 persen. Meskipun 2007 terjadi pertumbuhan, namun hanya 17 persen, artinya lebih rendah dari pertumbuhan 2006,” tutur Thomas.
Gapmmi memperkirakan pertumbuhan industri makanan dan minuman tahun 2008 hanya Rp 400 triliun, atau tumbuh 15 persen dibanding 2007.
Dijelaskan, tren impor produk utama, seperti buah-buahan, masih meningkat. Namun, impor produk olahan sekitar 30 persen telah dapat disubstitusi oleh produk dalam negeri.
Nilai impor produk makanan dan minuman utama tahun 2006 sebesar 600,3 juta dollar AS, tahun 2007 sebesar 764,7 juta dollar AS, dan pada Januari-November 2008 sebesar 753,3 juta dollar AS.
Sementara, impor produk olahan tahun 2006 mencapai 1,215 miliar dollar AS, tahun 2007 sebesar 1,950 miliar dollar AS dan per November 2008 mencapai 1,834 miliar dollar AS.
Usaha mikro
Thomas mengatakan, daya beli masyarakat dapat ditingkatkan dengan insentif dan terbukanya peluang usaha. Pemerintah perlu mempertimbangkan penurun- an pajak restoran dan hotel, seperti dilakukan Pemerintah China, dari 18 persen menjadi 13 persen.
Selain itu, peraturan daerah yang menghambat iklim usaha, terutama dua tahun ke depan sebelum berlakunya perjanjian perdagangan China-ASEAN, harus dicabut.
Thomas memperkirakan, dampak dari krisis keuangan global akan menyebabkan terjadinya gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK). Seiring dengan itu, jumlah tenaga kerja di usaha mikro akan membengkak karena korban PHK akan banyak yang beralih menjadi pengusaha mikro.
Namun, peluang membuka usaha tidak semudah dulu. Sekarang, pelaku usaha kecil harus memperoleh izin produksi industri rumah tangga (PIRT) sehingga produknya diharapkan memenuhi syarat keamanan, kesehatan, dan keselamatan.
Pendapat senada disampaikan General Manajer Produsen Roti PT Sari Roti Yusuf Hady. Dikatakan, PHK akan menumbuhkan UKM di bidang produksi roti.
Di usaha tersebut, kata Yusuf, dengan modal Rp 20 juta-Rp 30 juta, keuntungan yang diperoleh dalam waktu singkat akan menutup modal. Apalagi, kini biaya produksi tidak terlampau berat karena harga bahan baku, gandum, cenderung menurun.
Guna menjaga kelangsungan industri makanan dan minuman di dalam negeri, Ketua Gapmmi Franky Sibarani mengingatkan produsen agar menjalin kerja sama yang kuat dengan peritel. apabila terjadi konflik antara pemasok dan peritel, dikhawatirkan akan membuka peluang bagi peritel memilih memperdagangkan produk impor. (OSA)
Post to: delicious, Digg, ma.gnolia, Stumbleupon
Search only in this blog
Search across Asia Blogging Network
More? Go to Asia Blogging Network Column section.
cURL error 52: Empty reply from server
Ikuti diskusi Ada 2 komentar untuk artikel ini.
budi herprasetyo
Seharusnya pemerintah segera mengambil langkah untuk menekan terjadinya high cost economy. Meskipun menurunkan tarif pajak akan mengurangi pendapatan, namun sektor riil bisa terus bergerak. Toh bila pembayar pajak meningkat, pendapatan akan meningkat juga kan.
Bener ngga mas ?
January 17th, 2009 at 10:50 am
khamim
sepakat sama mas budi herprasetyo
pemerintahan sby kali ini juga berkabinet
orang melek ekonomi, mulai dari pakar ekonomi
sampai pakar perdagangan..
ya.. kita harapkan pemerintah mampu membuat kebijakan cerdas dan menguntungkan banyak pihak..
February 9th, 2009 at 9:44 am