You're here: My Business Blogging » Entrepreneur! » Article: Krisis Sebagai Teman
Pakar manajemen Rhenald Kasali mengimbau dunia usaha tetap optimistis di tengah gelombang krisis global. Menurutnya, gelombang krisis pasti akan mengubah keadaan menjadi lebih baik. Oleh karena itu krisis harus dijadikan teman demi meraih kesuksesan.
Menurut Rhenald, salah satu cara untuk membuat krisis sebagai teman, adalah dengan mengasah kemampuan beradaptasi atas berbagai hal. Kemampuan beradaptasi dimiliki setiap orang dan makin terasah seiring perjalanan waktu.
Raih Kesuksesan, Jadikan Krisis sebagai Teman
Jakarta, Kompas - Dunia usaha harus tetap optimistis. Gelombang krisis global yang melanda tidak perlu dikhawatirkan karena pasti akan mengubah keadaan menjadi lebih baik. Jadikan krisis sebagai teman demi meraih kesuksesan.
Pakar manajemen Rhenald Kasali mengungkapkan hal itu dalam bedah buku ”Marketing in Crisis” di Gedung Gramedia Matraman, Jakarta, Sabtu (4/4). Buku seri lanjutan ”Change DNA” membahas berbagai persoalan bisnis dan solusinya.
Ia mengatakan, setiap orang memiliki kemampuan beradaptasi atas berbagai hal. Kemampuan ini makin terasah seiring perjalanan waktu. ”Krisis harus menjadi teman karena berkait dengan perubahan,” ujarnya.
Persoalannya, banyak orang terlalu khawatir pada krisis sehingga membelenggu pikirannya. Membuat mereka tidak mampu menangkap sinyal-sinyal pasar yang bisa menyelamatkan bisnis.
Rhenald mengatakan, kondisi membelenggu ini merupakan lawan dari sistem adaptif. Ini karena seseorang sulit mengubah pola lama karena nyaman dengan kebiasaannya.
Pandangan yang salah terhadap krisis membuat banyak eksekutif menunda ekspansi. ”Sikap ini membuat mereka tidak bisa memetik keuntungan lebih besar saat permintaan tumbuh luar biasa usai krisis,” tuturnya.
Krisis global memang berdampak cukup parah. Ekspor Indonesia Januari-Februari 2009 turun 30 persen. Permintaan impor anjlok. Ini membuat sebagian besar pengusaha menghitung kembali rencana bisnisnya.
Padahal, kata Rhenald, permintaan pasar masih tetap akan ada meskipun permintaan pasar ekspor anjlok. Ini karena permintaan pasar domestik Indonesia yang relatif masih besar.
Rhenald menjelaskan, saat daya beli produk premium turun, konsumen akan mengalihkan belanja ke produk yang lebih murah (downshifting). ”Hal ini akan terjadi berturutan pada seluruh kelompok konsumen sehingga kekhawatiran bahwa pasar akan hilang tidak berdasar,” katanya.
Namun, Rhenald mengakui, ada krisis yang muncul karena eksekutif perusahaan salah mengambil keputusan. Ini, misalnya, terjadi pada sebuah pabrik baja domestik.
Perusahaan ini kelimpungan karena manajemen membeli bahan baku banyak saat harga tinggi tahun 2008 karena khawatir harga makin melambung. Namun, ternyata 2009 harga-harga turun sehingga mereka kesulitan menjual produk yang dihasilkan dengan bahan baku mahal.
”Ada beberapa kasus seperti ini, tetapi krisis itu bukan tanpa solusi. Ada terapi untuk menyelesaikannya. Setiap kali Anda merasa dalam krisis, segera cari teman bicara untuk melepaskan beban yang ada sehingga Anda bisa menemukan solusi yang tepat,” kata Rhenald. (ham)
Sumber: Kompas
Post to: delicious, Digg, ma.gnolia, Stumbleupon
Search only in this blog
Search across Asia Blogging Network
More? Go to Asia Blogging Network Column section.
cURL error 52: Empty reply from server
Ikuti diskusi, tuliskan komentar Anda.