You're here: My Business Blogging » Entrepreneur! » Article: Ratidjo, Sukses Usaha Jamur
Tak ada kata terlambat untuk memulai sebuah bisnis. Ini dibuktikan T Ratidjo, pria berusia 64 tahun asal dusun Niron, Sleman Yogyakarta. Sebelumnya, selama lebih dari 30 tahun ia bekerja di beberapa perusahaan budidaya jamur milik orang lain. Saat usianya menginjak 52 tahun, pada 1997 ia mengundurkan diri dan membuka usaha jamur sendiri.
Sukses Usaha Jamur
Koran Tempo: Tak ada kata terlambat untuk memulai sebuah bisnis. Ini dibuktikan T Ratidjo, pria berusia 64 tahun asal dusun Niron, Sleman Yogyakarta. Sebelumnya, selama lebih dari 30 tahun ia bekerja di beberapa perusahaan budidaya jamur milik orang lain. Saat usianya menginjak 52 tahun, pada 1997 ia mengundurkan diri dan membuka usaha jamur sendiri.
Usaha Ratidjo kini tumbuh menjamur. Saat ini, ia sudah punya empat agen pemasaran bibit jamur, yaitu di Jember, Cirebon, Karawang dan Bandung. Petani jamur binaannya sudah mencapai ratusan orang. Ia juga punya rumah makan bermenu serba jamur yang menghabiskan hingga 150 kg jamur dalam sehari. “Orang bisa antre dua jam untuk makan di warung saya,” tutur Ratidjo.
Bermodal pengalaman yang melimpah, Ratidjo memang sudah kenal baik seluk beluk usaha jamur. Maka, tak heran jika bisnisnya yang diberi nama Volva Indonesia begitu lengkap merambah budidaya jamur di hulu dan hilir. Mulai dari pembibitan, penjualan makanan jamur yang siap disantap, serta melatih para petani jamur.
Tapi, perjalanan bisnisnya tak selamanya bergulir mulus. Tahun-tahun awal usahanya diwarnai perjuangan. Usaha pembibitan jamur miliknya sempat jalan di tempat. Para petani waktu itu tak berminat bertanam jamur karena hasilnya sulit dipasarkan. Waktu jual jamur yang pendek pun menambah keengganan mereka. Tak ada yang mau bertanam jamur, artinya tak ada pula yang mau membeli bibit jamur darinya. Jadilah ayah dari lima orang anak ini harus menjual motor dan menggadaikan mo bilnya untuk bertahan hidup.
Namun, kesulitan tak membuat finalis Dji Sam Soe Award 2008-2009 ini putus asa. Pangkal permasalahan disadarinya adalah pasar jamur di daerahnya yang belum berkembang Tak kehilangan akal, ia dibantu isterinya pun berupaya keras menciptakan pasar jamur. Sosialisasi dilakukan untuk mempromosikan jamur sebagai makanan yang sehat dan lezat Sang isteri yang kebetulan piawai memasak, meracik jamur menjadi beragam hidangan. Lalu, hidangan itu mereka jua berkeliling ke teman dan tetangga.
Akhir 2005, usaha Ratidjo dan istri mulai menunjukkan hasil. Permintaan tumbuh, mereka pun merintis warung tenda yang menghidangkan menu serba jamur tadi. Mulai dari pepes jamur, sate jamur, tongseng jamur, garang asem jamur, sampa jamur penyet di jual di situ Harganya pun murah. Sepors sate jamur umpamanya, harganya ‘cuma’; Rp 7.000.
Warung itu pun dikembangkan menjadi rumah makan sem permanen dengan nama Rumah Makan Jejamuran. Sebelas macam menu unik dan murah ber bahan jamur ditawarkan di sana, tetap dengan harga miring.
Nah, seiring dengan suksesnya bisnis rumah makannya, upaya membina petani jamur pun ditekuni makin serius. Ratidjo membangun area percontohan budidaya jamur, yang sekaligus berfungsi sebagai tempat pelatihan bertanam jamur di belakang rumah makannya. Siapa pun boleh belajar budidaya jamur ke tempatnya, gratis. Malah, Ratidjo juga mengajari petani mengolah hasil panen jamur menjadi keripik, atau mengemasnya dalam kemasan gelas plastik, sehingga lebih tahan lama.
Melihat sukses itu, Departemen Pertanian menunjuk tempat pelatihan Ratidjo sebagai Pusat Pendidikan Pertanian Pedesaan Swadaya (P4S). Sejak itu, makin banyak petani dari sekitar Yogya dan berbagai daerah di Indonesia, belajar kepada Ratidjo.
Kini, dari empat agen pemasarannya, Ratidjo bisa menjual sekitar 3.000 bibit dalam sehari. Omset penjualan bibit dan usaha rumah makannya melesat hingga 3,6 miliar per tahun. Tak ada kata terlambat untuk memulai bisnis. TIM INFO TEMPO
Post to: delicious, Digg, ma.gnolia, Stumbleupon
Search only in this blog
Search across Asia Blogging Network
More? Go to Asia Blogging Network Column section.
A feed could not be found at http://3gweek.net/feed/
Ikuti diskusi Ada 5 komentar untuk artikel ini.
erwin
sy tertarik menjadi mitra jamur.kami memiliki lahan dan bangunan di jatitujuh-kadipaten,ciarog-garut,oraytapa-ujungberung,cipanas-cianjur,cibubur-depok.bibit disuplai dari pak ratidjo,hasil dibagi sesuai kesepakatan.wss,erwin-081573233390
May 31st, 2009 at 6:48 am
martoyo
saya tertarik dengan budidaya jamur, cuma masalahnya pengetahuan tentang budidaya jamur masih nol besar. bersama ini mungkin ada rekan rekan yang punya pengalaman tentang jamur mohon kiranya bisa dibagi-bagi kepada saya dan kalau ada yang tahu alamat email pak ratidjo. tks
June 11th, 2009 at 5:35 am
mulyadi
Wah ide yg bagus, kebetulan di desa saya minim sekali budidaya pertanian, krn minim informasi, ingin rasanya berhenti menjadi karyawan, dan membantu desa saya, hanya adakah tempat yg dekat2 daerah jakarta untuk tempat belajar.
July 9th, 2009 at 9:13 am
Ratna Handayani
saya pernah ke resto bapak, saya tertarik utk memulai usaha spt yg bapak miliki. tempat tinggal saya di Madiun, JATIM. mohon kesediaan bapak memberi alamat Email atau telp yg dapat kami hubungi. terima kasih
August 3rd, 2009 at 7:06 am
Habib
saya kemarin sudah pernah k t4 pak ratijo dan sudah bertanya”. sekarangpun saya sudah mulai mencoba untuk budidaya jamur yg bibitnya saya beli dari t4 bapak walaupun masih dalam skala kecil.
yang jd permasalahan saya adalah bingung masalah pemasaran jamur itu sendiri
tolong di informasikan secara lebih detail…
terima kasih
September 8th, 2009 at 6:44 pm