You're here: My Business Blogging » Entrepreneur! » Article: Bisnis Kerajinan Berbuah Euro dan Dolar

Bisnis Kerajinan Berbuah Euro dan Dolar

erwin — June 9, 2009 / 7:32 pm

PENGUSAHA kerajinan jarang tergusur oleh industri modern. Soalnya, pekerjaan tangan tidak bisa digantikan mesin, bahkan mesin yang canggih sekali pun.

Berkah itulah yang sekarang dinikmati Martini. Ibu seorang putri ini sudah sembilan tahun berbisnis kerajinan. Ia membuat beragam barang anyaman dan mengekspor produknya ke Eropa dan Amerika. Kontan Weekend menulis kisah Martini berikut ini.

Menukar anyaman dengan euro dan dolar
PENGUSAHA kerajinan jarang tergusur oleh industri modern. Soalnya, pekerjaan tangan tidak bisa digantikan mesin, bahkan mesin yang canggih sekali pun.

Berkah itulah yang sekarang dinikmati Martini. Ibu seorang putri ini sudah sembilan tahun berbisnis kerajinan. Ia membuat beragam barang anyaman dan mengekspor produknya ke Eropa dan Amerika.

Kini, perusahaan bernama Martini Natural, yang ia dirikan dengan modal Rp 250.000, telah berkembang menjadi besar.

Setidaknya, Martini mempekerjakan 70 karyawan di rumahnya sendiri. Selain itu, ia merekrut 600 pekerja di Bantul dan Kulonprogo. Dari merekalah Martini mendapatkan pasokan anyaman. “Tenaga kerjanya tersebar di DIY, Klaten, dan Solo, Kutoarjo, Purworejo, dan Magelang,” kata Hari Santosa, Direktur PT Sarana Yogya Ventura (SYV), anak perusahaan PT Bahana Artha Ventura, pemberi kredit untuk Martini.

Kebanyakan pekerja yang terlibat dalam usaha Martini adalah perempuan. Di antaranya banyak pula yang berusia lanjut (lansia). Menurut Martini, ada beberapa jenis produk yang memang bisa dikerjakan oleh lansia. “Daripada mereka enggak ada pekerjaan, saya beri nenek-nenek itu kegiatan seperti ini,” ujar wanita 36 tahun ini.

Kisah bisnis Martini cukup unik. Dunia anyam-menganyam sebenarnya bukan hal baru bagi anak ketiga dari empat bersaudara ini. Sejak masih SD, Martini sudah kerap menganyam, untuk tugas sekolah. Namun, begitu berangkat dewasa, Martini mengaku tidak pernah terpikir untuk memakai keahlian tersebut. Bahkan, ia bekerja sebagai pembantu rumahtangga. Menuruti mata pencahariannya itu, Martini sempat berkelana ke Padang dan Lampung.

Sehabis menikah, Martini memutuskan untuk pulang kampung. “Setelah menikah, saya bekerja pada orang lain untuk membuat anyaman,” ujar istri Nurhadi ini. Tak lama kemudian, perusahaan tempatnya bekerja tersebut tutup. Maka, Martini memberanikan diri untuk menjajal bisnis kerajinan miliknya sendiri.

Mulai 1 Maret 1999, di Kulon-progo, Yogyakarta, Martini membuat anyaman dari eceng gondok. Perempuan yang juga pernah berdagang sayur di pasar tradisional ini menguras tabungan untuk modal.

Tanpa ragu, Martini menyerahkan produk anyaman, seperti tas dan karpet bikinannya, kepada pedagang kerajinan. Ia menggenjot sepeda tua peninggalan orangtuanya, sejauh sekitar 40 kilometer, demi mengantarkan dagangan. “Pesanan itu diantar minimal dua hari sekali,” sambung Martini.

Ternyata, kerajinan bikinan Martini disukai. Permintaan dari pedagang makin banyak. “Modal Rp 250.000 itu terus berputar,” kenang Martini. Lama-lama, ia kewalahan memenuhi permintaan. Ia mulai merekrut saudara dan tetangga sekitar untuk menganyam. Adapun ia sendiri mengerjakan desain dan sampel produknya.

Berkat kegigihannya memenuhi tenggat waktu, order buat Martini pun meningkat. Nilainya mencapai ratusan juta rupiah. Padahal, Martini tidak punya sumber tambahan untuk modal. Alhasil, kalau terlalu banyak order, ia melemparnya ke pengusaha lain.

Bisnis Martini berkembang pesat tahun 2003, setelah ia ikut pameran. Ia mendirikan agen di Jakarta dan memasok beberapa toko di Bali. Masa kejayaan bisnis Martini sudah berasa sejak tahun 2005.

Malang tak dapat ditolak. Tahun 2006, Yogyakarta diguncang gempa, demikian pula dengan Martini Natural. Rumah produksinya di Bantul luluh lantak, sehingga tidak dapat beroperasi. Ia terpaksa membatalkan beberapa pesanan akibat beragam masalah. Pembayaran dari para pembeli pun seret. “Ada pelanggan yang berutang sampai Rp 400 juta,” kata dia. Bisa diduga, aliran kas bisnis Martini terganggu.

Kendati demikian, Martini tidak menyerah. Kali ini ia mencoba mendapatkan pinjaman dari bank. Bermodal tanah 3.000 meter, dia mengajukan kredit. “Tapi, saya hanya mendapat pinjaman Rp 70 juta, sementara modal yang saya perlukan Rp 600 juta,” ujar dia.

Martini pun jalan terus. Sampai suatu kali ia ikut pendidikan kerajinan di Jawa Timur. Rekan-rekan sesama pendidikan tersebut menganjurkan agar Martini menghubungi Bahana Artha Ventura. Alhasil, setelah kembali ke Jogja, ia pun menghubungi Sarana Yogya Ven­tura.

Pucuk dicita ulam tiba. Sarana Yogya mengambil alih kredit Martini di bank. Mereka juga memberikan suntikan kredit Rp 50 juta. Martini menggunakan seluruh modal tersebut untuk mengerjakan order yang ada. “Order selesai, kemudian usaha saya stabil lagi secara bertahap,” tutur dia.

Dari Sarana Yogya, Martini tidak hanya mendapatkan bantuan dana. Ia juga memperoleh konsultasi usaha gratis, di antaranya bimbingan untuk bertransaksi dengan pihak ketiga dan keterampilan menggunakan internet. “Kebutuhan usaha saya selalu direspons,” kata Martini yang pernah mendapatkan penghargaan UKM Terbaik III dari Dji Sam Soe Award ini.

Belakangan, batas geografis wilayah Yogyakarta ternyata tidak bisa membendung anyaman Martini. Hasil kerajinannya dibawa agen untuk diekspor. “Sejumlah 95% pasar Martini Natural adalah untuk ekspor, misalnya ke Prancis dan Italia,” ujar Hari. Untuk pasar lokal, Martini mendirikan gerai di Magelang dan Jakarta.

Sumber

Post to: delicious, Digg, ma.gnolia, Stumbleupon

Ikuti diskusi Ada 2 komentar untuk artikel ini.

  1. Aura Ratih Widya

    Saya seorang pengrajin juga, ingin mendapat info2 serupa dan cara2 untuk dapat berkembang lebih baik.Terima kasih

    June 21st, 2009 at 3:48 pm

  2. ari

    apakah kita bisa sling tukar pengalaman dan menjadi rekan bisnis?kunjungi blog saya ari-craft.blogspot.com

    September 16th, 2009 at 2:24 pm

Ikuti diskusi, tuliskan komentar Anda.

LOCAL SEARCH

Search only in this blog

GLOBAL SEARCH

Search across Asia Blogging Network

GLOBAL

CHANNEL

COLUMN

More? Go to Asia Blogging Network Column section.

FEATURED

COMMENT

  • endrian — selamat siang saya endrian saya lagi membuka usaha ondedil baru dan bekas otomotif. tolong minta kontak person di Pt kopinkra ...
  • afriyan_Batam Island — salam kenal. wah, saya sangat tertarik dengan ceritanya. jujur, bagus banget untuk membuka usaha bertani cebe. dari pada kita harus bekerja di ...
  • ari — apakah kita bisa sling tukar pengalaman dan menjadi rekan bisnis?kunjungi blog saya ari-craft.blogspot.com
  • Yanti — Saya sdh menjadi agen di daerah sy (Indonesia Timur). Dan menjadi berkah bagi keluarga kami. Trimakasih Bu Indah dan ...
  • dede arif — minta tips buat bikin sepatu lukis please...?? cat ap yg bagus buat sepatu lukis...??
  • teti — dimana saya bisa mendapatkan warung rumah dengan cara mencicil?
  • christian adi — salah satu alasan kenapa bangsa Indonesia tidak maju adalah karena masih terjebak dalam mental inlander sebagai bangsa yang terjajah, masih ...
  • sandrar — Hi! I was surfing and found your blog post... nice! I love your blog. :) Cheers! Sandra. R.
  • sutanto — kalo pengen menghubungi ibu dwi lestari gimn caranya ya?
  • Habib — saya kemarin sudah pernah k t4 pak ratijo dan sudah bertanya". sekarangpun saya sudah mulai mencoba untuk budidaya jamur yg ...