You're here: My Business Blogging » Entrepreneur! » Article: Yoris Sebastian
sumber foto: blog yoris
Memimpin Hard Rock Cafe Jakarta, dalam usia 26 tahun, Yoris memutuskan berbisnis sendiri dua tahun lalu. Keputusan peraih Most Promising Entrepreneur Award dari Malaysia tahun lalu itu tentu tak muncul tiba-tiba. Beberapa waktu sebelumnya, pria lajang yang pernah bekerja sebagai wartawan lepas majalah Hai itu punya banyak ide tak biasa, yang digarapnya untuk perusahaan multinasional itu. Kini, dengan Oh My Goodness, perusahaan konsultan kreatif yang didirikannya, Yoris menuai hasil dari gagasan-gagasannya yang kerap dianggap tak biasa oleh banyak orang.
Wartawan Tempo Endri Kurniawati berbincang dengan Yoris di sebuah sudut Plaza Senayan, Jakarta. Berikut ini petikannya.
Yoris Sebastian, PRAKTISI DAN KONSULTAN INDUSTRI KREATIF Semangat untuk Kreatif Harus Terus Dibangun
Memasuki Hari Kebangkitan Nasional ke-101, Indonesia banyak berharap dari bangkitnya dunia kewirausahaan. Industri ini dianggap dapat menopang perekonomian menghadapi kesulitan ekonomi global. Dengan demikian, sebenarnya Indonesia berharap sangat banyak kepada para pengusaha.
Dalam seminar kewirausahaan di Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, Maret lalu, pengusaha Ciputra mengemukakan, Indonesia memerlukan sedikitnya empat juta pengusaha baru untuk mengatasi kemiskinan dan pengangguran. Sebab, saat ini Indonesia baru memiliki 400 ribu pengusaha. Tak mudah memenuhi kebutuhan itu lantaran semangat wirausaha memerlukan kondisi yang kondusif.
Satu dari sedikit orang yang memiliki semangat wirausaha itu Yoris Sebastian, 36 tahun. Memimpin Hard Rock Cafe Jakarta, dalam usia 26 tahun, Yoris memutuskan berbisnis sendiri dua tahun lalu. Keputusan peraih Most Promising Entrepreneur Award dari Malaysia tahun lalu itu tentu tak muncul tiba-tiba. Beberapa waktu sebelumnya, pria lajang yang pernah bekerja sebagai wartawan lepas majalah Hai itu punya banyak ide tak biasa, yang digarapnya untuk perusahaan multinasional itu. Kini, dengan Oh My Goodness, perusahaan konsultan kreatif yang didirikannya, Yoris menuai hasil dari gagasan-gagasannya yang kerap dianggap tak biasa oleh banyak orang.
Kamis malam lalu, wartawan Tempo Endri Kurniawati berbincang dengan Yoris di sebuah sudut Plaza Senayan, Jakarta. Berikut ini petikannya.
Apa proyek Anda yang paling menyita waktu? Kalau yang sekarang paling menyita Class Music Heroes. Itu project pertama yang tayang di televisi dalam 13 episode. Biasanya penghargaan musik, award, di ballroom dan mengerahkan massa. Habis gitu, ya udah, cuma pengerahan massa.
Kami berusaha membuat sesuatu yang berbeda. Beda dengan konser musik biasa, kami menyerahkan award di sawah, misalnya. Ada yang pakai massa, ada yang nggak. Kalau yang di sawah, nggak pake massa. Tapi yang ditampilkan semuanya penerima award, seperti Krisdayanti. Tempat yang kami pakai pun penerima award. Kami pilih tempat-tempat yang memberi inspirasi, seperti Jatiluwih (kawasan pertanian di Kabupaten Tabanan, 48 kilometer arah utara dari Denpasar). Banyak yang nggak tahu kalau Jatiluwih adalah satu dari 100 World Heritage yang ditetapkan UNESCO (Organisasi Pendidikan, Ilmu Pengetahuan, dan Kebudayaan Perserikatan Bangsa-Bangsa).
Di Batu (Jawa Timur), kami bikin penyerahan award di depan taman baca dan poli gigi gratis, yang didirikan anak-anak Malang yang kuliah di luar Malang, lalu balik lagi sebagai pebisnis. Sebagian dari keuntungan bisnisnya dikembalikan kepada masyarakat. Bagaimana meyakinkan klien atas ide-ide yang nggak umum itu…. Karena track record. Oh My Goodness membuat hal-hal yang nggak lazim tapi dibicarakan orang. Awalnya mereka agak sulit menerima. Apa alasan mereka? “Kamu kok ada-ada aja sih, bikin acara kok susah-susah.” Saya bilang, “Kalau nggak susah, hasilnya akan sama.” Ini semuanya ada story-nya, jadi lebih meaningful dengan biaya yang kurang-lebih sama. Malah biayanya lebih murah (dari yang lain) dan memberikan virus positif. Sekalian nyindir acara lain yang biayanya gede-gede tapi tidak dibicarakan.
Kemarin saya bikin riset dengan majalah Swa. Ternyata orang memilih brand yang dibicarakan. Sekarang sudah banyak yang memuji (saya) di Facebook.
Ide yang aneh-aneh dapat dari mana? Masih ikut training? Masih. Saya sering jadi pembicara seminar, tapi saya juga belajar. Seperti tadi (Kamis, 14 Mei 2009) saya seminar di UI (Universitas Indonesia) bersama Pak Chairul Tanjung (pemilik Para Group). Saya juga belajar dari Pak Chairul. Saya belajar dari mana saja. Saya juga sering ikut training di luar negeri. Tapi sekarang lagi banyak kerjaan, kliennya pada minta cepet-cepet, jadi saya kerjain dulu. Nanti training lagi ke luar.
Tapi itu hanya untuk memberikan inspirasi baru, pemikiran baru. Indonesia sangat berbeda dengan luar, nggak bisa disamain. Kadang salahnya, orang (Indonesia) disamain kayak di luar. Seperti orang membuat mal disamakan dengan mal di luar negeri. Padahal (keduanya) kan beda. Di sana transportasi publik bagus, tempat parkir nggak perlu banyak. Nah, di sini, harus banyak. Di sana orang tinggal di apartemen dan pada naik taksi. Di sini orang yang tinggal di apartemen mobilnya dua. Hal-hal seperti ini tidak terpikir oleh mereka (para entrepreneur), hanya berpikir dari segi konsumen.
Seperti Oprah Winfrey kasih mobil. (Perusahaan mobil) itu menghilangkan biaya promosi dan memberikannya kepada acara Oprah. Itu diomongin orang sampai enam bulan. Itu diambil inspirasinya. Jangan ditiru plek-plekan, nggak bisa. Spirit dan semangat untuk kreatif itulah yang harus dibangun terus.
Bagaimana caranya?
Break rutinitas. Misalnya, saya kenakan jam tangan di kanan, kadang di kiri. Buat saya, normal is not good. Dalam arti positif, ya. Supaya kalau kita bikin hal yang aneh, nggak canggung. Dari mana idenya? Dari membaca, ikut training. Mereka (trainer) bilang, jangan terjebak rutinitas. Rutinitas itu bisa diterjemahkan berbeda-beda. Saya berusaha melawan kebiasaan. Teman saya misalnya. Dia kecelakaan, tangannya digips. Dia harus tanda tangan cek. Setelah seminggu, dia bisa tanda tangan dengan tangan kiri. Ternyata bisa kalau dibiasakan. Sumber lainnya? Dari seminar. Saya sering ditanya, banyak hal (tak terduga) saya catat. Kita harus thinking out of box, tapi jangan out beneran. Being different tapi harus ada relevansinya dengan produk. Ngapain bikin yang aneh-aneh kalau nggak menjual? Bagaimana cara menumbuhkan semangat wirausaha? Kebanyakan orang tidak pernah berpikir untuk mandiri, membuat usaha sendiri. Entrepreneurship itu memang bisa digali, tapi tidak semua orang harus jadi entrepreneur. Nggak ada yang salah dengan jadi karyawan. Saya akan menulis buku tentang bagaimana caranya menjadi karyawan yang baik. Tapi jangan lupa, invest asuransi yang lain agar di hari tua nanti juga terjamin. Itu yang umumnya dilakukan orang. Kan ada orang yang suka normal, ada juga yang “abnormal”. Saya memberi inspirasi agar orang tidak takut dan termotivasi, apalagi kalau berpendidikan bagus. Tapi tidak semua orang harus seperti saya. Tiap orang punya passion yang berbeda.
Sebagai karyawan pun (kita) bisa memulai proyeknya sebagai entrepreneur. Wartawan, misalnya, bisa bikin blog tentang sesuatu yang tidak ada hubungannya dengan pekerjaannya. Anak buah saya, kerja di Hard Rock dan di perusahaan makeup, iseng bikin blog tentang beauty berdua dengan temannya. Ternyata iklannya banyak, pendapatannya ngalah-ngalahin gaji bulannya. Sekarang kerja di rumah sambil mengurus anak. Tapi itu tanpa sengaja, cuma iseng. Menurut AC Nielsen, itu fashion blog nomor satu di Indonesia. Dia mulai serius dan hire karyawan.
Tapi tidak banyak yang berani beralih dari karyawan menjadi entrepreneur. Bagaimana caranya?
Jangan langsung resign sebelum punya pegangan. Mau bikin blog, langsung resign. Wah, gawat. Nanti dapur bisa nggak ngebul. Itu nggak ngitung. Yang bagus itu seperti Andra and The Backbone. Dedy seneng musik. Tapi dia kuliah dulu (di FISIP UI), lalu kerja di majalah Hai. Di Hai, karena sering bersentuhan dengan musik, ia bertemu dengan Andra dan Stevie Morley Item. Lahirlah Andra and The Backbone.
Jangan seperti teman saya kebanyakan. “Saya anak band, nggak usah lulus, ngeband aja. Tungguin album gua.” Tungguin sampai kapan? Nggak meledak-ledak. Harus realistis, dapur harus ngebul.
Bagaimana memotivasi mereka?
Harus ada orang seperti saya yang ngomong, jangan orang tua yang ngomong. Mereka lebih mendengar teman. Sewaktu SMP saya sering bolos. Di kelas senang main-main di kelas bikin diary. Teman saya yang gambar-gambar, saya yang nulis. Di SMA, alumninya bilang, ikut organisasi ini kamu akan capek sekali, tapi worthy. Kalau kamu ikut organisasi ini di kelas harus belajar, jangan main-main. Ngapain di kelas main-main, pulangnya ikut les. Udah keluar duit, nggak bisa ikut organisasi. Dari situ terpikir, benar juga. Tapi itu karena bukan orang tua yang ngomong. Kalau orang tua yang ngomong, tidak akan didengar. Banyak seniman yang bagus karyanya, tapi tidak bisa menjual. Bagaimana mengatasinya? Pakai manajer. Memang talenta orang berbeda-beda. Ada yang seperti Ahmad Dani (penyanyi dan musisi), nggak perlu manajer. Ada yang seperti Delon (penyanyi), tahu beres, semua diatur manajer. Akhir bulan dan akhir tahun untungnya gede. Orang yang seperti ini harus diingetin invest beli apartemen. Biar, ketika dia nggak bekerja, uang yang bekerja buat dia. Belum banyak yang menyadari itu…. Memang harus kolaborasi. Eranya sudah harus kolaborasi. Sekarang ada anak SMA, dia fotografer, sudah punya manajer. Fee-nya terpotong. Tapi manajer kan jago jualan.
Pelan-pelan kita akan menuju ke sana. Termasuk produk-produk seperti batik, kain tenun, furnitur, harganya mulai naik. Di sinetron misalnya. Musik di sinetron dihitung sebagai promosi selama tiga bulan. Setelah dipakai selama tiga bulan, kalau terus dipakai, mesti dibayar. Eranya pelan-pelan akan bergerak ke industri, nanti akan bergerak dengan sendirinya. Contoh lain, acara Kick Andy bagi-bagi buku. Kalau dulu, bukunya nggak bayar karena dianggap promosi. Sekarang mesti dibayar (bukunya). Sekarang, buat bener-benerin baju artis yang mau manggung aja dibayar. Sekarang sudah jadi tuntutan. Jadi nanti akan berkembang sendirinya asalkan dikelola dengan baik. Semua bidang sudah seperti itu? Yang sayang olahraga. Premier League (Liga Inggris) yang keren banget, itu baru dibikin pada 1992. Sekarang sudah jadi bisnis multi-million. Kalau (alasannya) di sana enak, nggak rusuh, siapa bilang? Di sana banyak juga bonek-nya. Banyak korbannya di Stadion Heysel, (Brussel, 1985). Mereka sampai mati, kita rusuh doang.
Orang-orang yang ngerti bisnis masuk ke olahraga, dijalanin. Jadi nggak ada yang terlambat. Tinggal bagaimana kita menjalankan bisnis. Ada kondisi untuk membangkitkan naluri entrepreneurship dan jiwa kreatif. Bagaimana jika kondisinya tidak mendukung itu? Tergantung dari sekolah, pendidikan. Harus ada visi. Kalau nggak kreatif, harus ada motivasi. Contohnya Subur, tempat fotokopi. Dulu cuma fotokopi kecil, nggak kreatif. Tapi dia bikin yang bagus-bagus. Servisnya bagus, kualitasnya bagus. Sekarang sudah bikin cetakan kawinan segala macam. Dulu cuma fotokopi doang. Selama kita bikin sepenuh hati, bikin yang bagus-bagus, pasti ada jalan.
Seperti Robert Kiyosaki. Ketika dia broke dan menjadi karyawan McDonald’s, dia bisa kembali kaya raya lagi. Kalau misalnya semua uang dibagi rata, pasti dua tahun kemudian tetap ada yang kaya dan ada yang miskin. Kecerdasan finansial setiap orang berbeda-beda. Di Indonesia itu cerita-cerita (yang memotivasi) kurang banyak. Sejarah aja nggak dibikin menarik. Waktu saya sekolah nggak menarik, pas saya keluar jadi menarik.
Nama: Yoris Sebastian
Lahir: Makassar, 5 Agustus 1972
Pendidikan
SMA Pangudi Luhur 1 Jakarta Jurusan Akuntasi, Universitas Atma Jaya, Jakarta (tidak lulus) Pekerjaan: - Business Director Blockbuzzter (movie and sponsorship consultant) (2008-sekarang) - Chief Creative Consulting Oh My Goodness Creative Consulting (2007-sekarang) - Pendiri dan Direktur IP Entertainment (1999-sekarang) - General Manager untuk Hard Rock Cafe Jakarta & Bali (2000-2007) - Head of Food & Beverage of MRA Group (2004-2007) - General Manager Hard Rock Cafe Jakarta (1999-2000) - Hard Rock Café Jakarta (1993-1999) - Wartawan lepas majalah Hai (1989-1993)
Penghargaan - Peraih Young Marketer Award - IMA & Markplus 2003 - Peraih International Young Creative Entrepreneur of the Year in Music - British Council 2006 - Peraih Most Promising Entrepreneur Award yang diadakan oleh Enterprise Asia dari Malaysia 2008
Post to: delicious, Digg, ma.gnolia, Stumbleupon
Search only in this blog
Search across Asia Blogging Network
More? Go to Asia Blogging Network Column section.
A feed could not be found at http://3gweek.net/feed/
A feed could not be found at http://feeds.feedburner.com/transjogja
Ikuti diskusi Ada 3 komentar untuk artikel ini.
maya
sangat menarik dan bagus tuk di contoh
June 19th, 2009 at 1:18 pm
adhiya
ceritanya bikin kita termotivasi untuk maju,,
gud luck ya,,hehe…
June 24th, 2009 at 2:16 pm
Anita
Aku seneng ma ka y0ris, buatku dy jenius..hebat.emg patut dcontoh,apalg bwt skrg ini,kayanya indonesia bth lbh bnyk 0rg2 kya ka y0ris deh..talkless d0 m0re..he
July 4th, 2009 at 8:19 pm