You're here: My Business Blogging » Entrepreneur! » Article: Badrun dan Kerupuk

Badrun dan Kerupuk

erwin — June 23, 2009 / 8:46 pm

Jangan anggap remeh usaha kerupuk. Harga jual makanan ini memang sangat murah. Target pasarnya pun lebih banyak menyasar konsumen kelas bawah. Tapi, bukan berarti wirausahawan kerupuk tak bisa hidup berlebih. Jika dijalani dengan gigih dan sepenuh hati, usaha cemilan renyah murah meriah ini ternyata bisa memberikan hasil melimpah dan menghidupi banyak pekerja.

Tak percaya? Simak saja kisah sukses Badrun, ‘juragan’ kerupuk asal Kudus. Ia mengawali usaha kerupuk hanya dari sebuah rumah kontrakan sederhana, Badrun kini mampu memproduksi 8 ton kerupuk per bulan.

Pengusaha 30 Pabrik Kerupuk

Jangan anggap remeh usaha kerupuk. Harga jual makanan ini memang sangat murah. Target pasarnya pun lebih banyak menyasar konsumen kelas bawah. Tapi, bukan berarti wirausahawan kerupuk tak bisa hidup berlebih. Jika dijalani dengan gigih dan sepenuh hati, usaha cemilan renyah murah meriah ini ternyata bisa memberikan hasil melimpah dan menghidupi banyak pekerja.

Tak percaya? Simak saja kisah sukses Badrun, ‘juragan’ kerupuk asal Kudus. Ia mengawali usaha kerupuk hanya dari sebuah rumah kontrakan sederhana, Badrun kini mampu memproduksi 8 ton kerupuk per bulan.

Ia pun sudah bisa menyekolahkan anak-anaknya ke jenjang sarjana. Jaringan bisnis kerupuk pria berusia 50 tahun ini pun sudah menyebar begitu luas. “Saya punya lebih dari 30 pabrik kerupuk di beberapa kota di Pulau Jawa,” ujar Badrun.

Pria kelahiran Tasikmalaya ini mengenal usaha kerupuk di usia belia. Sejak umur 15 tahun, Badrun sudah bekerja di sebuah pabrik kerupuk di Semarang. Di pabrik itu, tamatan kelas dua Sekolah Dasar ini banyak bela jar mengenai seluk beluk usaha kerupuk, mulai dari pemilihan bahan baku yang baik, pengolahannya sampai ke jalur pemasarannya.

Setelah menguasai benar tentang bisnis kerupuk, Badrun akhirnya ingin mengembangkan usaha kerupuknya sendiri. Maka, pada 1979 ia memberanikan diri memulai usaha kerupuknya sendiri. Bermodal beberapa ekor sapi hasil investasinya selama bekerja, Badrun menikah dan membuka usaha di Kudus. Sengaja ia tak membuka usaha di Semarang, untuk menghindari persaingan dengan bos lamanya.

Bersama istrinya, Badrun mengontrak rumah sederhana di Kudus yang sekaligus ia gunakan sebagai tempat usaha kerupuknya.

Pemasarannya pun waktu itu hanya menjangkau warung-warung sekitar. Namun, karena dijalankan dengan sabar dan gigih usaha Badrun berjalan mulus. Produksinya terus bertambah hingga ia bisa membangun pabrik kerupuk di sebelah rumah yang dulu ia sewa.

Bisnis Badrun makin maju saja.

Ia pun makin banyak mempekerjakan orang. Untuk bagian produksi ia lebih banyak mengajak kerabat dan teman-teman dari daerah kelahirannya, Tasikmalaya.

Sementara untuk bagian pemasaran, ia percayakan pada orang-orang sekitar lokasi pabriknya.

Sukses Badrun tak berhenti di sana. Kegemarannya mengajak kerabat dan teman untuk bekerja sama membawa usahanya ke tingkat yang lebih tinggi. Seiring dengan permintaan kerupuk yang terus meningkat, Badrun pun mulai berusaha membuka cabang pabrik-pabrik kerupuk baru di lokasi lain. Pabrik cabang itu tidak ia kelola sendiri, melainkan ia serahkan kepada kerabat dan rekan dekat yang punya kemampuan dan bisa ia percaya.

Langkahnya melebarkan usaha tak rumit. Badrun cukup memberikan modal bagi orang kepercayaannya untuk membuka pabrik kerupuk baru di lokasi lain. Setelah produksi pabrik baru itu bagus, sang teman atau saudara itu mulai mengembalikan modal usaha secara mencicil.

Biasanya hanya dalam waktu setahun modal awal sudah kembali. Namun, Badrun tak pernah mematok target waktu kembali modal. Sepanjang pabrik baru masih mengalami kesulitan, ia terus memberi kelonggaran, bahkan memberi bantuan.

Asalkan, ia lihat keseriusan usaha sang pemegang pabrik.

Sejak itu, Badrun punya kegemaran baru: Membuka pabrik kerupuk baru di wilayah lain dan membawa saudara atau rekannya untuk sukses menjadi ‘juragan kerupuk’ seperti dirinya.

Dari 16 bersaudara, sebanyak 12 orang kakak dan adik Badrun sudah menjadi pengusaha kerupuk. “Hobi saya mengajak orang lain ikut sukses,” tutur Badrun.

Kini, jaringan pabrik kerupuk Badrun sudah mencapai lebih dari 30 buah. Tersebar di Kudus, Ngawi, Rembang, Semarang, Blora, Jepara, Batang, Brebes, Comal, Pekalongan, Pemalang, Cirebon dan Pamanukan. Bahkan juga di wilayah Purwakarta, Banten, Tangerang, Cikampek, Bekasi, Cianjur, Sukabumi, Bogor, Bandung serta Jakarta.

Banyak sudah pengusaha kerupuk baru lahir dari tangannya.

Lebih dari itu, ia kini juga sudah mempekerjakan lebih dari seratus pekerja di jaringan bisnis kerupuknya. Jadi, jangan lagi meremehkan pengusaha kerupuk.

TIM INFO TEMPO

Sumber

Post to: delicious, Digg, ma.gnolia, Stumbleupon

Ikuti diskusi Satu komentar untuk artikel ini.

  1. rudi

    kalau bapak butuh bahan tepung tapioka jemuran matahari, saya menyediakan. trims

    July 23rd, 2009 at 9:54 am

Ikuti diskusi, tuliskan komentar Anda.

LOCAL SEARCH

Search only in this blog

GLOBAL SEARCH

Search across Asia Blogging Network

GLOBAL

CHANNEL

COLUMN

More? Go to Asia Blogging Network Column section.

FEATURED

COMMENT

  • endrian — selamat siang saya endrian saya lagi membuka usaha ondedil baru dan bekas otomotif. tolong minta kontak person di Pt kopinkra ...
  • afriyan_Batam Island — salam kenal. wah, saya sangat tertarik dengan ceritanya. jujur, bagus banget untuk membuka usaha bertani cebe. dari pada kita harus bekerja di ...
  • ari — apakah kita bisa sling tukar pengalaman dan menjadi rekan bisnis?kunjungi blog saya ari-craft.blogspot.com
  • Yanti — Saya sdh menjadi agen di daerah sy (Indonesia Timur). Dan menjadi berkah bagi keluarga kami. Trimakasih Bu Indah dan ...
  • dede arif — minta tips buat bikin sepatu lukis please...?? cat ap yg bagus buat sepatu lukis...??
  • teti — dimana saya bisa mendapatkan warung rumah dengan cara mencicil?
  • christian adi — salah satu alasan kenapa bangsa Indonesia tidak maju adalah karena masih terjebak dalam mental inlander sebagai bangsa yang terjajah, masih ...
  • sandrar — Hi! I was surfing and found your blog post... nice! I love your blog. :) Cheers! Sandra. R.
  • sutanto — kalo pengen menghubungi ibu dwi lestari gimn caranya ya?
  • Habib — saya kemarin sudah pernah k t4 pak ratijo dan sudah bertanya". sekarangpun saya sudah mulai mencoba untuk budidaya jamur yg ...