You're here: My Business Blogging » Entrepreneur! » Article: Badrun dan Kerupuk
Jangan anggap remeh usaha kerupuk. Harga jual makanan ini memang sangat murah. Target pasarnya pun lebih banyak menyasar konsumen kelas bawah. Tapi, bukan berarti wirausahawan kerupuk tak bisa hidup berlebih. Jika dijalani dengan gigih dan sepenuh hati, usaha cemilan renyah murah meriah ini ternyata bisa memberikan hasil melimpah dan menghidupi banyak pekerja.
Tak percaya? Simak saja kisah sukses Badrun, ‘juragan’ kerupuk asal Kudus. Ia mengawali usaha kerupuk hanya dari sebuah rumah kontrakan sederhana, Badrun kini mampu memproduksi 8 ton kerupuk per bulan.
Pengusaha 30 Pabrik Kerupuk
Jangan anggap remeh usaha kerupuk. Harga jual makanan ini memang sangat murah. Target pasarnya pun lebih banyak menyasar konsumen kelas bawah. Tapi, bukan berarti wirausahawan kerupuk tak bisa hidup berlebih. Jika dijalani dengan gigih dan sepenuh hati, usaha cemilan renyah murah meriah ini ternyata bisa memberikan hasil melimpah dan menghidupi banyak pekerja.
Tak percaya? Simak saja kisah sukses Badrun, ‘juragan’ kerupuk asal Kudus. Ia mengawali usaha kerupuk hanya dari sebuah rumah kontrakan sederhana, Badrun kini mampu memproduksi 8 ton kerupuk per bulan.
Ia pun sudah bisa menyekolahkan anak-anaknya ke jenjang sarjana. Jaringan bisnis kerupuk pria berusia 50 tahun ini pun sudah menyebar begitu luas. “Saya punya lebih dari 30 pabrik kerupuk di beberapa kota di Pulau Jawa,” ujar Badrun.
Pria kelahiran Tasikmalaya ini mengenal usaha kerupuk di usia belia. Sejak umur 15 tahun, Badrun sudah bekerja di sebuah pabrik kerupuk di Semarang. Di pabrik itu, tamatan kelas dua Sekolah Dasar ini banyak bela jar mengenai seluk beluk usaha kerupuk, mulai dari pemilihan bahan baku yang baik, pengolahannya sampai ke jalur pemasarannya.
Setelah menguasai benar tentang bisnis kerupuk, Badrun akhirnya ingin mengembangkan usaha kerupuknya sendiri. Maka, pada 1979 ia memberanikan diri memulai usaha kerupuknya sendiri. Bermodal beberapa ekor sapi hasil investasinya selama bekerja, Badrun menikah dan membuka usaha di Kudus. Sengaja ia tak membuka usaha di Semarang, untuk menghindari persaingan dengan bos lamanya.
Bersama istrinya, Badrun mengontrak rumah sederhana di Kudus yang sekaligus ia gunakan sebagai tempat usaha kerupuknya.
Pemasarannya pun waktu itu hanya menjangkau warung-warung sekitar. Namun, karena dijalankan dengan sabar dan gigih usaha Badrun berjalan mulus. Produksinya terus bertambah hingga ia bisa membangun pabrik kerupuk di sebelah rumah yang dulu ia sewa.
Bisnis Badrun makin maju saja.
Ia pun makin banyak mempekerjakan orang. Untuk bagian produksi ia lebih banyak mengajak kerabat dan teman-teman dari daerah kelahirannya, Tasikmalaya.
Sementara untuk bagian pemasaran, ia percayakan pada orang-orang sekitar lokasi pabriknya.
Sukses Badrun tak berhenti di sana. Kegemarannya mengajak kerabat dan teman untuk bekerja sama membawa usahanya ke tingkat yang lebih tinggi. Seiring dengan permintaan kerupuk yang terus meningkat, Badrun pun mulai berusaha membuka cabang pabrik-pabrik kerupuk baru di lokasi lain. Pabrik cabang itu tidak ia kelola sendiri, melainkan ia serahkan kepada kerabat dan rekan dekat yang punya kemampuan dan bisa ia percaya.
Langkahnya melebarkan usaha tak rumit. Badrun cukup memberikan modal bagi orang kepercayaannya untuk membuka pabrik kerupuk baru di lokasi lain. Setelah produksi pabrik baru itu bagus, sang teman atau saudara itu mulai mengembalikan modal usaha secara mencicil.
Biasanya hanya dalam waktu setahun modal awal sudah kembali. Namun, Badrun tak pernah mematok target waktu kembali modal. Sepanjang pabrik baru masih mengalami kesulitan, ia terus memberi kelonggaran, bahkan memberi bantuan.
Asalkan, ia lihat keseriusan usaha sang pemegang pabrik.
Sejak itu, Badrun punya kegemaran baru: Membuka pabrik kerupuk baru di wilayah lain dan membawa saudara atau rekannya untuk sukses menjadi ‘juragan kerupuk’ seperti dirinya.
Dari 16 bersaudara, sebanyak 12 orang kakak dan adik Badrun sudah menjadi pengusaha kerupuk. “Hobi saya mengajak orang lain ikut sukses,” tutur Badrun.
Kini, jaringan pabrik kerupuk Badrun sudah mencapai lebih dari 30 buah. Tersebar di Kudus, Ngawi, Rembang, Semarang, Blora, Jepara, Batang, Brebes, Comal, Pekalongan, Pemalang, Cirebon dan Pamanukan. Bahkan juga di wilayah Purwakarta, Banten, Tangerang, Cikampek, Bekasi, Cianjur, Sukabumi, Bogor, Bandung serta Jakarta.
Banyak sudah pengusaha kerupuk baru lahir dari tangannya.
Lebih dari itu, ia kini juga sudah mempekerjakan lebih dari seratus pekerja di jaringan bisnis kerupuknya. Jadi, jangan lagi meremehkan pengusaha kerupuk.
TIM INFO TEMPO
Post to: delicious, Digg, ma.gnolia, Stumbleupon
Search only in this blog
Search across Asia Blogging Network
More? Go to Asia Blogging Network Column section.
cURL error 52: Empty reply from server
Ikuti diskusi Satu komentar untuk artikel ini.
rudi
kalau bapak butuh bahan tepung tapioka jemuran matahari, saya menyediakan. trims
July 23rd, 2009 at 9:54 am