You're here: My Business Blogging » Entrepreneur! » Article: Yusral dan Keripik Balado
Selalu selangkah lebih maju. Itulah tekad Yusral Damiri dalam menjalankan usaha. Maka, saat begitu banyak pengusaha di Padang hanya menjual keripik singkong balado di toko oleh-oleh kecil milik sendiri, Yusral justru memfokuskan diri untuk memperluas distribusi produk keripik pedasnya ke sebanyak mungkin toko oleh-oleh dan toko swalayan modern.
Keberaniannya untuk lebih maju itu ternyata membawa hasil yang luar biasa. Kini Yusral sudah mampu memasarkan produknya tidak hanya di kota Padang–tempatnya berusaha. Melainkan, juga ke Riau, Jambi, Lampung, Bengkulu bahkan sampai Jakarta. Jenis produknya sekarang sudah bervariasi, mulai dari keripik singkong balado, sanjai, keripik cincang, ting-ting sampai tripang kacang.
Mendulang Sukses dari Keripik Balado
Selalu selangkah lebih maju. Itulah tekad Yusral Damiri dalam menjalankan usaha. Maka, saat begitu banyak pengusaha di Padang hanya menjual keripik singkong balado di toko oleh-oleh kecil milik sendiri, Yusral justru memfokuskan diri untuk memperluas distribusi produk keripik pedasnya ke sebanyak mungkin toko oleh-oleh dan toko swalayan modern.
Keberaniannya untuk lebih maju itu ternyata membawa hasil yang luar biasa. Kini Yusral sudah mampu memasarkan produknya tidak hanya di kota Padang–tempatnya berusaha.
Melainkan, juga ke Riau, Jambi, Lampung, Bengkulu bahkan sampai Jakarta. Jenis produknya sekarang sudah bervariasi, mulai dari keripik singkong balado, sanjai, keripik cincang, ting-ting sampai tripang kacang.
Meski begitu, jalan menuju sukses pria 52 tahun ini tidak mudah.
Ia memulai usaha di usia 38 tahun hanya dengan modal Rp 5 juta. Uang itu ia gunakan untuk membeli peralatan memasak, bahan baku dan menyewa tempat usaha. Awalnya, ia memilih usaha keripik pisang Lampung. Namun, karena bahan bakunya seringkali sulit didapat, pada 1993 Yusral banting setir pindah ke usaha keripik singkong balado. “Pasarnya lebih bagus untuk sektor wisata, sebagai oleh-oleh makanan asli Minang,” kata Yusral.
Sejak mulai berdiri, penjualan keripiknya sudah ia fokuskan untuk dipasok ke pihak lain. Namun, waktu itu baru terbatas pada toko oleh-oleh sekitar tempat usahanya dan di terminal-terminal bus, di samping di toko kecilnya sendiri.
Produksi keripik balado-nya pun baru sekitar 5 kilogram per hari. Tapi, di musim liburan permintaan begitu tinggi sehingga produksinya bisa meningkat hingga 50 kilogram per hari.
Nah, setelah usahanya makin maju, mulailah Yusral merperkuat jalur distribusi. Ia mulai memiliki satu mobil boks sendiri untuk mendistribusikan produknya. Yusral juga menggunakan tenaga-tenaga penjual untuk memasarkan singkong pedasnya ke lebih banyak toko oleh-oleh, dan gerai makanan ringan lain. Malah, ia berani memperluas pemasarannya ke ke jaringan toko swalayan mini di wilayahnya.
Tapi, usaha Yusral tak selalu berjalan mulus. Pada 1997 dapur produksinya sempat terbakar.
Namun, berkat kegigihan pria itu, hanya berselang 15 hari usaha kripik CV Mahkota sudah berjalan kembali.
Pernah pula ia kehabisan bahan baku akibat tingginya permintaan.
Waktu itu Yusral terpaksa bersusah payah mencari bahan baku singkong sampai ke perbatasan Bengkulu. Pengalaman ini memberinya pelajaran berharga. Sejak itu, ia mulai membina dan memodali para petani untuk menanam singkong untuk memenuhi kebutuhan bahan bakunya. “Kira-kira semacam sistem petani plasma,” ujar Yusral.
Kini, usaha Yusral sudah semakin maju. Dalam sehari, ia bisa memproduksi satu ton keripik.
Selain itu, distribusinya pun kini diperkuat lima mobil boks dengan jumlah karyawan sekitar 70 orang. Pria ini sudah memiliki empat toko sendiri.
Salah satunya bahkan sudah memiliki ruang VIP untuk pasar wisata kelas menengah atas. Tokonya malah menjadi salah satu sentra oleh-oleh khas Minang.
Ke depan, Yusral masih ingin mengembangkan lagi usahanya.
Rencananya ia akan membeli mesin modern untuk meningkatkan kapasitas produksi.
Peluang meningkatkan penjualan memang masih terbuka lebar. Pasalnya, sering permintaan pasar begitu tinggi sehingga tak bisa Yusral penuhi.
Dalam setahun, setidaknya ada tiga kali musim liburan yang menyebabkan permintaan keripik pedasnya menjulang tinggi, meninggalkan kemampuan produksinya.
Dengan bantuan mesin modern, skala produksi akan makin besar dan distribusi bisa lebih meluas. Namun ada tantangannya.
Ia harus bisa mempertahankan rasa singkong tradisional yang selama ini jadi kelebihan keripik Mahkota. Jika itu bisa disiasatinya, perpaduan mesin modern dengan rasa khas tradisional lagi-lagi akan menjadikan Yusral Damiri selangkah lebih maju diban ding pesaingnya. TIM INFO TEMPO
Sumber: Koran Tempo
Post to: delicious, Digg, ma.gnolia, Stumbleupon
Search only in this blog
Search across Asia Blogging Network
More? Go to Asia Blogging Network Column section.
A feed could not be found at http://3gweek.net/feed/
A feed could not be found at http://feeds.feedburner.com/transjogja
Ikuti diskusi, tuliskan komentar Anda.