You're here: My Business Blogging » Entrepreneur! » Article: Isti dan Kerajinan Tangan
Inilah perempuan yang tak pernah putus asa menghadapi kegagalan berwirausaha. Sejak muda, Isti Mamah sudah begitu sering jatuh bangun mencoba berbagai macam usaha. Mulai dari bisnis membuat pakaian jadi, pemasok jeruk, sampai pengepul makanan ternak pernah dilakoninya meski tak memberi hasil memuaskan. Toh, perempuan asal Banyuwangi, Jawa Timur ini tak pernah kapok untuk mencoba hal baru.
Hingga ketika usianya 20 tahun, Isti tertantang melihat keberhasilan tetangganya di bisnis pembuatan kerajinan tangan dari mote dan manik-manik.
Menjual Kreativitas ke Mancanegara
Inilah perempuan yang tak pernah putus asa menghadapi kegagalan berwirausaha. Sejak muda, Isti Mamah sudah begitu sering jatuh bangun mencoba berbagai macam usaha. Mulai dari bisnis membuat pakaian jadi, pemasok jeruk, sampai pengepul makanan ternak pernah dilakoninya meski tak memberi hasil memuaskan. Toh, perempuan asal Banyuwangi, Jawa Timur ini tak pernah kapok untuk mencoba hal baru.
Hingga ketika usianya 20 tahun, Isti tertantang melihat keberhasilan tetangganya di bisnis pembuatan kerajinan tangan dari mote dan manik-manik.
Maka, pada 1989 wanita ini mencoba memulai usaha serupa di desanya. Tak disangka, ternyata bisnis mengolah kreativitas seni inilah yang kemudian membawanya ke pintu sukses.
Kini, usaha aksesoris buatannya telah merambah pasar di Bali, Surabaya, Jakarta bahkan diekspor ke mancanegara.
Aksesoris buatannya pun tak lagi terbatas pada mote dan manik-manik. Sejalan berkembangnya usaha dan kreativitas dirinya, Isti kini memproduksi pula kerajinan tangan dari bahan perak, bambu, batok kelapa, serta kayu pinus. “Pengusaha lain di daerah saya biasanya terbatas pada satu macam kerajinan tangan. Hanya saya yang menjual bermacam-macam jenis,” ujar Isti.
Tapi, sukses bisnis terakhir Isti ini tak diraih dengan gampang.
Upaya Isti begitu keras sebelum bisa mengecap keberhasilan.
Betapa tidak. Ia harus bolak-balik bersepeda dari Banyuwangi menyeberang ke Bali untuk menawarkan aksesoris buatannya ke beberapa art shop di pulau Dewata itu. Lumayan sering ia ditolak di sana.
Atau, sekadar dijanjikan akan dibeli sehingga ia diminta datang lagi minggu berikutnya dengan membawa produk buatannya. Padahal, ketika ia datang lagi tetap saja kerajinan tangan yang dibawanya ditolak pihak art shop.
Tapi berkat kegigihannya, upaya pemasaran Isti ke Bali akhirnya membawa hasil. Pesanan mulai berdatangan.
Awalnya, order biasanya ia dapatkan melalui pemandu wisata di Bali yang memperkenalkannya ke pembeli dengan sistem komisi. Dari situlah bisnis Isti mulai bergulir.
Usaha Isti yang diberi nama UD Danissa mulai berkembang setelah ia menerima pemesan dengan meminta berbagai macam model aksesoris. Sejak itu ia pun mulai memperkaya kreativitas kerajinan tangannya.
Selain gelang, kalung, cincin dan bros dari mote serta manik-manik, ia pun memperbanyak variasi produknya menjadi tas, dompet dan sandal. Lalu, kreasi baru ditambahkan dengan karya unik lain dari bahan batok kelapa, kerang, dan perak.
Selain gigih berupaya menembus pasar, Isti memang mampu menciptakan ide desain yang kreatif untuk dituangkan ke produk buatannya.
Ide yang ia dapatkan bisa bersumber dari pengamatannya sehari-hari, dari majalah atau berdasarkan permintaan pemesan. Semua itu dapat ia kembangkan dalam berbagai variasi desain. “Ketika melihat satu bentuk produk, saya bisa kembangkan menjadi sepuluh desain yang berbeda,” ujar Isti.
Maka, tak heran jika kemudian workshop Isti makin sering menerima pesanan dalam jumlah besar. Bahkan, selanjutnya Isti sudah memiliki pembeli tetap dari empat negara yang berbeda, yakni dari Amerika Serikat, Italia, Spanyol dan Taiwan. UD Danissa pun mempekerjakan makin banyak tenaga kerja. Setidaknya ada 30 karyawan tetap dan 50 karyawan tidak tetap yang bekerja di bawah payung usaha Isti. Lebih dari itu, Isti juga melibatkan 100 sampai 200 orang pengrajin sebagai mitra usahanya. Omset usahanya pun bisa mencapai Rp 3 miliar per tahun.
Setelah bergulir selama 20 tahun, Isti masih akan mengembangkan lagi bisnisnya.
Caranya, dengan semakin membuka diri mempromosikan usaha kerajinannya. Salah satunya adalah dengan membuat website sendiri. Dengan media internet ia berharap akan lebih banyak calon pembeli dari manca negara yang bisa mengetahui bisnisnya. Selain itu, Ia juga akan membuka sebuah art shop di Bali dan mulai rajin mengikuti pameran berskala nasional.
Itulah seorang Isti Mamah.
Meski sudah sukses, ia masih gigih berusaha memajukan bisnisnya tanpa pernah berputus asa. TIM INFO TEMPO
Sumber: Koran Tempo
Post to: delicious, Digg, ma.gnolia, Stumbleupon
Search only in this blog
Search across Asia Blogging Network
More? Go to Asia Blogging Network Column section.
A feed could not be found at http://3gweek.net/feed/
A feed could not be found at http://feeds.feedburner.com/transjogja
Ikuti diskusi, tuliskan komentar Anda.