You're here: My Business Blogging » Entrepreneur! » Article: Hambatan Investasi di Daerah
Ketua Asosiasi Pemerintah Kabupaten Seluruh Indonesia (Apkasi) Hadi Sujono, yang juga Bupati Pacitan, mengatakan Rendahnya informasi, promosi, dan berbelit-belitnya perizinan, membuat iklim investasi di sejumlah daerah rendah.
Sementara Direktur Jenderal Bina Pembangunan Daerah Departemen Dalam Negeri Syamsul Arief Rifai menilai salah satu penghambat kemajuan ekonomi daerah adalah egoisme antardaerah. Hal ini membuat tidak ada keserasian dalam memanfaatkan sumber daya alam dan pengembangan wilayah.
Egoisme Daerah Hambat Investasi
Jakarta, Kompas - Rendahnya informasi, promosi, dan berbelit-belitnya perizinan, membuat iklim investasi di sejumlah daerah rendah.
Pendapat tersebut disampaikan Ketua Asosiasi Pemerintah Kabupaten Seluruh Indonesia (Apkasi) Hadi Sujono, yang juga Bupati Pacitan, dalam pembukaan Kabupaten Expo 2009 di Jakarta, Kamis (18/6).
Pameran produk-produk khas daerah tersebut diikuti 102 kabupaten, dari 399 kabupaten di Indonesia.
Menurut Direktur Jenderal Bina Pembangunan Daerah Departemen Dalam Negeri Syamsul Arief Rifai, salah satu penghambat kemajuan ekonomi daerah adalah egoisme antardaerah. Hal ini membuat tidak ada keserasian dalam memanfaatkan sumber daya alam dan pengembangan wilayah.
”Sudah saatnya egoisme kedaerahan dihindari, dengan tidak menganggap daerah lain sebagai pesaing,” ujarnya.
Syamsul juga meminta pemerintah daerah agar meninjau kembali peraturan daerah yang menghambat investasi. Selain itu, untuk mendorong aktivitas penanaman modal dibutuhkan kerja sama antarpemerintah daerah dan investor.
Adapun Menteri Perdagangan Mari Elka Pangestu menyarankan pemerintah daerah agar mengidentifikasi produk-produk unggulan di daerahnya guna meningkatkan perdagangan dan investasi di daerah. Pengembangan produk unggulan akan mengangkat citra daerah dan menciptakan lapangan kerja di daerah.
”Setiap daerah perlu mengidentifikasi produk unggulan dan mengupayakan bagaimana produk unggulan itu bisa dikenal dan dipasarkan,” ujar Mari.
Penentuan produk unggulan, baik barang maupun jasa, kata Mari, harus berpegang pada syarat kualitas barang, desain, kemasan, dan harga yang bersaing.
”Di tengah krisis global, target perdagangan produk unggulan perlu diarahkan tak hanya ke pasar global dan ekspor, tetapi juga pasar dalam negeri,” ujar Mari.
Pengembangan produk unggulan diharapkan akan mendorong pemberdayaan masyarakat dan kebangkitan usaha mikro, kecil, dan menengah.
Sesuaikan dengan selera
Menteri Negara Urusan Koperasi dan Usaha Kecil Menengah Suryadharma Ali menyarankan agar pengembangan produk unggulan daerah disesuaikan dengan selera nasional, sehingga akan lebih mudah diterima pasar.
Dicontohkan, restoran masakan padang, misalnya. Restoran ini tersebar hampir di seluruh Indonesia dan mampu menyesuaikan bumbu masakannya dengan selera masyarakat lokal. (LKT)
Post to: delicious, Digg, ma.gnolia, Stumbleupon
Search only in this blog
Search across Asia Blogging Network
More? Go to Asia Blogging Network Column section.
A feed could not be found at http://3gweek.net/feed/
Ikuti diskusi, tuliskan komentar Anda.