You're here: My Business Blogging » Entrepreneur! » Article: Kredit Perlu Pemberdayaan
Pelaksanaan program Kredit Usaha Pembibitan Sapi akan terkendala bila tidak diimbangi langkah pemberdayaan peternak. Menurut Ketua Gabungan Pengusaha Pembibitan Sapi Potong Indonesia (GPPSPI) Dicky A Adiwoso, Minggu (13/9) di Jakarta, kesiapan peternak menjadi penting agar mereka benar-benar memahami program Kredit Usaha Pembibitan Sapi (KUPS).
Selain pemahaman tentang skema kredit, peternak juga perlu pendampingan dalam teknis pembibitan. Ini terkait sapi yang impor yang didatangkan adalah sapi liar sehingga karakteristik pemeliharaan berbeda dengan sapi yang dikandangkan.
KREDIT PEMBIBITAN SAPI
Imbangi dengan Upaya Pemberdayaan Peternak
Jakarta, Kompas - Pelaksanaan program Kredit Usaha Pembibitan Sapi akan terkendala bila tidak diimbangi langkah pemberdayaan peternak.
Menurut Ketua Gabungan Pengusaha Pembibitan Sapi Potong Indonesia (GPPSPI) Dicky A Adiwoso, Minggu (13/9) di Jakarta, kesiapan peternak menjadi penting agar mereka benar-benar memahami program Kredit Usaha Pembibitan Sapi (KUPS).
”Selama ini yang dikenal peternak sapi adalah program pemerintah berupa pemberian sapi. Tetapi, sekarang bentuknya subsidi bunga kredit,” katanya.
Dengan demikian, lanjut Dicky, peternak harus benar-benar memahami bahwa bantuan pemerintah kali ini berupa subsidi bunga. ”Pada saatnya, mereka harus mengembalikan pinjaman dari bank itu,” ujarnya.
Selain pemahaman tentang skema kredit, peternak juga perlu pendampingan dalam teknis pembibitan. Ini terkait sapi yang impor yang didatangkan adalah sapi liar sehingga karakteristik pemeliharaan berbeda dengan sapi yang dikandangkan.
”Ada baiknya perbankan, pengusaha, dan peternak bertemu dan membicarakan langkah terbaik menjalankan program KUPS agar optimal. Selama ini belum pernah ada kerja sama perbankan, pengusaha, dan peternak,” kata Dicky.
Pengusaha sapi potong yang juga Sekretaris GPPSPI Dayan Antoni menyambut baik program KUPS. ”Perusahaan yang bermitra dengan peternak dan koperasi bisa mendapatkan kredit bersubsidi, ini merupakan terobosan,” ujarnya.
Namun, Dayan mengingatkan agar dilakukan pengawasan yang ketat, termasuk pemberian rekomendasi oleh Direktorat Jenderal Departemen Pertanian terhadap mereka yang mengajukan KUPS.
Hal itu untuk memperkecil risiko kegagalan karena pengembangan bibit sapi berisiko besar. ”Dan, bagaimanapun subsidi bunga sangat menggiurkan bagi siapa saja,” kata Dayan.
Dijelaskan, kemampuan Australia memasok sapi betina produktif terbatas. Setiap tahun sapi betina produktif dari impor sapi bakalan sebanyak 650.000 ekor hanya 68.250 ekor yang dapat dimanfaatkan. Untuk memenuhi target swasembada daging tahun 2014 dibutuhkan tambahan bibit sapi 200.000 ekor per tahun.
”Kapasitas produksi sapi hidup Australia setiap tahun hanya 900.000 ekor. Dari jumlah itu, sekitar 650.000 diekspor ke Indonesia dalam bentuk bakalan,” tutur Dayan.
Sapi yang masuk ke Indonesia 30 persen di antaranya sapi betina. Dari 30 persen tersebut, hanya 50 persen yang betina produktif. Dari betina produktif itu hanya 70 persen yang berhasil bunting.
”Kalau dihitung rata-rata tambahan bibit sapi baru hanya 68.250 ekor. Jumlah ini jauh dari bibit sapi yang diperlukan, yaitu 200.000 ekor per tahun selama lima tahun. Karena itu, diperkirakan KUPS tidak akan terserap semua,” ujar Dayan.
Mulai tahun 2009 pemerintah berencana menggulirkan subsidi bunga KUPS Rp 145 miliar. Adapun plafon kredit maksimum yang bisa diakses dari perbankan mencapai Rp 1,5 triliun. Subsidi bunga KUPS diberikan kepada pengusaha pembibitan sapi yang bermitra dengan koperasi peternak ataupun gabungan atau kelompok peternak. (MAS)
Post to: delicious, Digg, ma.gnolia, Stumbleupon
Search only in this blog
Search across Asia Blogging Network
More? Go to Asia Blogging Network Column section.
cURL error 28: connect() timed out!
Ikuti diskusi, tuliskan komentar Anda.