How To Create LUCK?

Comments Roni Yuzirman — March 30, 2008 / 7:59 pm

David Beckham adalah orang yang beruntung (lucky). Bayangkan, kerjaannya hanya nendang-nendang bola, tapi dibayar $ 80.000 per minggu. Bersama istrinya, Victoria, kekayaan mereka berdua mencapai $ 100 juta.

Beckham adalah orang yang LUCKY.

Apa sih penentu keberuntungan seorang striker sepak bola? Tentu, dia bisa menendang bola tepat pada sasarannya adalah karena ia sering berada di tempat yang tepat pada saat yang tepat (the right place at the right time).

Roger Hamilton di buku terakhirnya Your Life Your Legacy , menuliskan bahwa untuk mendapatkan LUCK itu perlu 4 pondasi, yaitu Location, Understanding, Connection, Knowledge.

LOCATION - Kita harus selalu berada di tempat yang tepat di saat yang tepat. Banyak orang yang setiap harinya sibuk ke sana kemari tapi tanpa di sadarinya ia berada di tempat yang salah dan waktu yang salah. LUCK berawal dari kemampuan kita memilih untuk selalu berada di tempat yang tepat di saat yang tepat. Contohnya Beckham itu. Makanya ia sering mencetak gol.

UNDERSTANDING - Setelah kita berada di tempat yang tepat dan waktu yang tepat, tugas kita selanjutnya adalah seperti Beckham: menendang bola itu supaya goal, atau TAKE ACTION. Banyak di antara kita hanya duduk menyaksikan pertandingan sebagai penonton. Kita harus jadi pemain yang menendang bola. LUCK datang bagi mereka para pemain, bukan penonton.

CONNECTIONS - Kita mengerti bahwa tugas kita sebagai pemain sepak bola adalah menendang bola ke dalam gawang. Kita memulai bisnis bertahun-tahun, tapi kok bolanya nggak datang-datang? Kita terus menunggu, menunggu dan menunggu bertahun-tahun. Beckham berhasil menendang bola yang berasal dari umpan pemain lain. Artinya, ia mendapatkan koneksi dari teman-teman satu timnya.

Para multi miliarder itu berhasil menendang bola ke dalam gawang mereka adalah berawal dari koneksi yang dibangun selama bertahun-tahun. Koneksi, menurut Roger Hamilton berbeda dengan jaringan (network). Banyak di antara kita memiliki network yang begitu luas, tapi penuh dengan penonton (spectators), bukan pemain. Makanya, peluang itu tidak kunjung datang.

KNOWLEDGE - Bola yang datang ke kaki kita tidak ada artinya kalau kita tidak tahu cara menendangnya. Semua peluang yang datang ke arah kita tidak ada artinya jika kita tidak tahu bagaimana memanfaatkannya.

Untuk mengetahui bagaimana cara menendang bola adalah dengan menjadi pemain. Semakin banyak bermain, semakin tahu. Semakin dini kita bermain di lapangan, semakin cepat juga kita mendapatkan keberuntungan (luck) itu.

Semoga bermanfaat.

Salam FUUUNtastic!
Wassalam,

Roni, Owner Manet Busana Muslim

Post to: delicious, Digg, ma.gnolia, Stumbleupon

Sepuluh Rahasia Menjadi Orang yang Selalu Beruntung

Comments Roni Yuzirman — March 27, 2008 / 7:11 pm

“Everything in life is luck”, kata Donald Trump.

Jika kita baca riwayat para miliarder, banyak yang mengatakan bahwa kesuksesannya adalah karena keberuntungan, luck.

Carl Jung mendefinisikan fenomena keberuntungan itu sebagai rentetan sinkronisitas. Orang yang beruntung adalah orang yang mengikuti aliran (flow) dalam hidupnya. “As you flow grows, your luck grows”, katanya.

Orang-orang yang sukses itu mengetahui dan mengikuti aliran tertentu di mana mereka bertumbuh dan menciptakan keberuntungan.

Pertanyaannya, apa saja aliran-aliran yang harus diikuti?

Saat ini di tangan saya sudah ada buku yang menjawabnya.

Saya beruntung sekali mendapatkan kesempatan pertama untuk menikmati buku yang dikirim oleh penulisnya, Sucipto Ajisaka, salah satu member TDA yang tinggal di Surabaya.

Wallace D. Wattles dalam buku The Science of Getting Rich merumuskan bahwa untuk menjadi orang sukses harus think, feel and act in a certain way.

Nah, buku ini juga mencoba menjawab pertanyaan itu dengan menyampaikan pesan bahwa jika kita ingin menjadi orang yang menjadi magnet keberuntungan, kita harus think, feel and act in a certain way juga.

Ada 10 “rahasia” yang diungkap dengan jelas dan gamblang di dalam buku berjudul Becoming A Magnet of Luck (BeaMaL) ini:

1. Bangun dan perbesarlah jejaring anda. Bangunlah network. Jalinlah silaturahmi dengan siapa saja. Di TDA saya selalu mengatakan bahwa silaturahmi membawa rezeki. Kurang lebih seperti itulah maknanya. Orang-orang yang sukses adalah mereka yang banyak teman dan gemar bersilaturahmi.

Di buku ini dijelaskan secara detil apa manfaat dari jejaring itu. Bagaimana membangun jejaring. Plus bagaimana memanfaatkan teknologi guna membangun jejaring.

2. Berpetualanglah mencari hal-hal baru. Mereka yang gemar berpetualang selalu punya rasa ingin tahu yang tinggi dan terbuka dengan hal-hal baru. Berpetualang akan membuka kemungkinan-kemungkinan, termasuk keberuntungan ke dalam hidup kita.

Saya jadi teringat dengan tokoh di novel The Alhemist karya Paulo Cuelho. Ia berpetualang mengikuti kata hatinya dan akhirnya menemukan keberuntungannya.

3. Banyak memberi dan melayani. Pertanyaan menarik yang dijawab di buku ini adalah mengapa dengan memberi kita bisa mengundang keberuntungan? Bagaimana membangun semangat memberi? Bagaimana membangun mentalitas kelimpahan (abundance)?

4. Memiliki tujuan. Bagaimana kekuatan tujuan dapat memudahkan kita mengundang keberuntungan?

5. Fleksibel dan rileks.

6. Mengikuti dan mengasah intuisi.

7. Memiliki sikap positif.

8. Bertumbuh dan belajar.

9. Berani mengambil tindakan.

10. Tuhan jualah yang menentukan.

Setelah saya buka-buka, buku ini mengungkap rahasia menjadi magnet keberuntungan ini dengan sistimatis, lengkap, dan penuh dengan rujukan dan contoh kisah orang-orang yang secara sadar atau tidak telah menerapkan kesepuluh rahasia itu.

Buku ini berhasil mengungkap bahwa keberuntungan yang sering disebut sebagai hoki, luck atau fortune itu bukanlah terjadi secara kebetulan, untung-untungan atau terkait dengan ramal-meramal. Keberuntungan juga tidak terkait dengan tahayul, feng shui.

Keberuntungan adalah tentang sikap, perilaku dan tindakan yang tepat.

Dengan demikian keberuntungan akan menjadi hak semua orang yang mengetahui dan mempraktekkan ke sepuluh rahasia itu.

Penasaran dengan isi bukunya? Silakan temukan buku penting terbitan Lutfansah Mediatama dan CEO Publishing ini di toko-toko buku terdekat. Mudah-mudahan sudah tersedia.

Penulisnya sendiri, Sucipto Ajisaka adalah alumnus Teknik Nuklir UGM Jogja dengan predikat cum laude dan MBA dari Prasetiya Mulya Business School. Berpengalaman lebih dari 15 tahun sebagai praktisi bisnis dan manajemen.

Saat ini berprofesi sebagai konsultan, trainer dan public speaker dalma bidang manajemen dan pengembangan diri. Ia juga tercatat sebagai NLP Practitioner dari NF-NLP, Florida, USA.

Saya sendiri merasa senang sekali telah diberi kesempatan untuk menuliskan endorsement buku ini bersama endorser lainnya seperti Tung Desem Waringin, James Gwee, Wuryanano dan Faif Yusuf.

Salam FUUUNtastic!
Wassalam,

Roni, Owner Manet Busana Muslim, Founder Komunitas TDA

Post to: delicious, Digg, ma.gnolia, Stumbleupon

Berlibur Setiap Hari? Kenapa Tidak!

Comments Roni Yuzirman — March 25, 2008 / 6:56 pm

Bayangkan sebuah perusahaan yang:

- karyawannya menentukan sendiri jam kerjanya dan atasannya;

- karyawannya punya akses tak terbatas ke semua laporan korporat dan mengatur sendiri pendapatan dan kuota produksinya;

- tak ada anggaran kerja jangka panjang, bagan organisasi atau pun fasilitas kerja pribadi;

- CEO-nya membiarkan karyawan mengambil keputusan.

Walaupun sekilas tampak kacau, perusahaan ini betul-betul berhasil! Semco, berbasis di Brazil, kini telah mempekerjakan 3.000 orang yang tersebar di tiga negara. Dengan rata-rata pertumbuhan tahunan di atas 40%, pendapatan per tahun Semco mencapai $ 212 juta pada tahun 2003.

Ricardo Semler, sang CEO, mendobrak semua aturan tradisional umum dalam bisnis. Semler menghilangkan semua hal yang ia sebut “penindasan korporat” di perusahaannya. Hasilnya, tingkat keluar masuk karyawan hampir tidak ada dan tak ada tanda-tanda bahwa pertumbuhan perusahaannya akan berhenti.

Revolusi Binsis Abad Ke-21: Dengan Jiwa Merdeka Meningkatkan Profit dan Produktivitas, demikian judul buku provokatif yang memancing perhatian saya saat sedang mencari peta kota Bandung di toko buku Daarut Tauhid minggu lalu.

Berulang kali saya timbang buku tebal bersegel plastik yang begitu menggelitik rasa penasaran saya. Buku itu begitu tebal. Akankah saya bisa menamatkannya di tengah antrian puluhan buku yang belum dibaca di ruang perpustakaan saya?

Saya putuskan untuk tidak membelinya. Nanti saja di Jakarta, batin saya.

Ternyata saya salah beli peta. Yang terbeli adalah peta Kabupaten Bandung, bukannya Kota Bandung. Alhamdulillah, penjaga tokonya mengijinkan saya untuk menukarkannya. Namun, ternyata tidak ada peta Kota Bandung.

Akhirnya buku itu pindah juga ke tangan saya dengan cara tukar tambah.

Bab pertama dibuka dengan beberapa pertanyaan menantang dan mengusik saya.

Salah satunya adalah: Mengapa kita tidak boleh membawa anak ke tempat kerja apabila kita bisa membawa pekerjaan ke rumah?

Aha! Ternyata ada yang se-ide dengan saya. Selama ini saya memang membawa anak ke kantor.

Judul asli buku ini sebenarnya adalah The Seven Day Weekend: A Better Way to Work in the 21st Century. Ya, bekerja baginya seperti menikmati liburan. Kenapa liburan hanya dibatasi hari-hari tertentu saja, tantangnya. Kenapa kita tidak bisa berlibur setiap hari di tempat kerja? Kenapa tempat kerja kita tidak diubah saja seperti tempat berlibur?

Semler menutup kata pengantar bukunya dengan menulis kalimat ini di bawah namanya, “tengah berbaring di hammock dengan sebuah laptop dan putra cilikku, seusai memberi makan bebek-bebek di kolam terdekat, pada Senin, Mei 2002″.

Gila ni orang! Tapi ia berhasil mewujudkan impiannya

Semco telah menjadi studi kasus di 76 universitas dan menjadi bacaan wajib di 271 sekolah lain. Enam belas kandidat doktor dan master telah mengangkat Semco sebagai subjek disertasi dan tesis mereka.

Ratusan artikel koran dan majalah mengulas perusahaan itu. BBC, CNN dan lusinan program televisi lain mengangkat profil Semco ini.

Lebih dari 300 pidato telah disampaikannnya di hadapan kelompok bisnis, sosial, pemuda, dan universitas ternama seperti Stanford, Harvard, MIT dan sebagainya.

Menarik ya!

Beberapa ide dari buku ini menggelitik saya untuk menerapkannya di bisnis saya.

Imajinasi saya melayang ke teras terbuka di lantai 4 kantor saya, Manet. Kenapa tidak saya ubah jadi taman saja ya? Di sana nanti saya bisa duduk-duduk santai sambil baca buku atau menerima tamu. Karyawan saya juga tentunya senang bila ada tempat istirahat dan melepas kepenatan kerja.

Menarik. Menarik.

Salam FUUUNtastic!
Wassalam,

Roni, Owner Manet Busana Muslim

NB: Wah, saya jadi ge-er deh. Profil blog saya ditulis Pak Nukman lagi di sini.

NB 2: Aktivitas TDA Bandung dimuat di Detik Bandung. Silakan baca di sini.

NB 3: Hari ini saya diundang menghadiri syukuran pindah kantornya Pak Nukman.Virtual kini punya alamat baru di Gedung Kindo. Selamat ya Pak. Semoga makin sukses dan tentu saja, semakin berkah.


Post to: delicious, Digg, ma.gnolia, Stumbleupon

Mindset Seorang TDA (Entrepreneur)

1 comment Roni Yuzirman — January 31, 2008 / 7:07 pm

Dalam sesi refleksi 2 tahun TDA di milad kemarin saya sempat menyampaikan mindset atau sikap yang harus dimiliki oleh seorang TDA, yaitu suka bersilaturahmi dan terbuka terhadap hal-hal atau ide baru (open minded).

Sebenarnya masih kurang. Masih ada beberapa sikap atau mindset lagi yang harus dimiliki oleh seorang TDA dalam menjalankan bisnisnya, di antaranya:


- Action oriented. Ini yang selalu didengung-dengungkan di TDA. TDA = Take Double Action, take action miracle happen. Jadilah orang yang action oriented, early starter dan jangan jadi reaction oriented.


- Bertanggungjawablah sepenuhnya terhadap diri dan bisnis anda. Jadilah nakhoda dari kapal anda. Jangan suka menyalahkan orang lain, mencari alasan dan pembenaran atau istilahnya BEJ (Blame, Excuse dan Justification). Itu adalah sikap seorang yang tidak bertanggung jawab. “Take ownership”, kata Brad Sugars. Ownership berasal dari kata own a ship, nakhoda.


- Milikilah dreams yang tinggi dan jelas. All begin and end in mind, kata Stephen Covey. Dan memang benar, para entrepreneur sukses selalu punya impian yang jelas. “Saya ingin membangun pusat outdoor equipment terbesar di Asia Pacific”, kata paman saya Alfi beberapa hari lalu.


- Selalu berorientasi kepada solusi, solusi dan solusi. Bukan berorientasi kepada masalah dan memperdalam masalah itu jadi lebih ruwet. Entrepreneur sukses tidak suka berlama-lama larut dalam masalah yang akan menariknya ke dalam jurang yang lebih dalam. It is better to light a candle than to curse to the darkness.


- Selalu berpikiran win - win dengan semua pihak. Kecurangan dan keuntungan jangka pendek dihindarinya. Ia lebih suka membangun reputasi dan nama baik dalam jangka panjang. Dari pola berpikir win - win inilah para entrepreneur atau TDA sukses itu seolah-olah menjadi money magnet. Ya, karena reputasi baiknya selama ini, ia pun dipercaya oleh banyak pihak. Usahanya selalu dimudahkan dan seolah-olah seperti effortless.


- Lebih suka bekerja sama ketimbang bekerja sendirian. Ia suka beramal jama’i ketimbang menjadi lone ranger. Ia percaya kepada orang lain. Paul Getty bilang, “I’d rather have 1% from effort of 100 people than having 100% from my own effort”.


Apakah kita semua sudah punya kualitas seperti di atas?


Salam FUUUNtastic TDA!


Bersama Menebar Rahmat


Wassalam,


Roni, Owner Manet Busana Muslim, Founder Komunitas TDA

Post to: delicious, Digg, ma.gnolia, Stumbleupon

Negotiate Everything!

Comments Roni Yuzirman — January 16, 2008 / 5:47 pm

Secara alami, saya bukanlah seorang negosiator atau penawar yang gigih.

Saya tidak suka melakukan tawar menawar yang lama dan berbelit-belit. Saya lebih suka transaksi yang cepat selesai.

Tapi, karena saya menyadari bahwa negosiasi itu salah satu aspek penting dalam bisnis, maka saya pun mulai sering mempraktekkannya dengan serius.

Apalagi, Donald Trump dalam pesan awal tahunnya menyebutkan bahwa salah satu kunci sukses di tahun 2008 ini adalah negosiasi. “Learn to negotiate, because everything you want demands it”, katanya.

Sam Walton (founder Wal Mart) adalah seorang negosiator yang gigih. Dalam biografinya berjudul “Sam Walton, Made In America, My Story”, ia mengatakan bahwa satu sen pemborosan akan membebani pelanggan sekian dollar. Maka tak heran Wal Mart punya tag line “Everyday Low Prices”.Terus terang, saya belajar banyak soal tawar menawar ini dari para perempuan. Ibu saya, adik perempuan saya dan istri saya.

Mereka adalah para negosiator ulung. Lihat aja di pasar-pasar. Ibu-ibu adalah para penawar yang gigih. Saya sering heran melihat adik saya pulang dari pasar dan mendapatkan belanjaan dengan harga yang bikin geleng kepala.

Istri saya pun begitu. Ia adalah seorang penawar ulung juga.

Maklum, sejak kuliah di Jakarta ia membantu toko keluarganya di Palembang sebagai purchaser di Tanah Abang. Apalagi persaingan harga di Palembang itu sangat ketat. Maka ia pun harus mencari produk dengan harga semurah mungkin.

Alhamdulillah “warisan” ilmu itu dibawanya saat bersama saya mendirikan Manet. Jadi, soal tawar menawar saya serahkan ke istri saya. Dijamin sukses lah.

Hampir semua hal bisa dinegosiasikan. Bisa ditawar. Hasilnya sering membuat kita heran. Kok, bisa ya?

Kemarin, saya baru saja melakukan negosiasi dengan bankir saya. Iseng aja. Sebenarnya nggak dikasih juga nggak apa-apa. Eh, kok malah dikasih.

Saya pernah ada kejadian lucu dengan salah satu supplier saya yang kekurangan uang. Ia pun mengajukan pinjaman ke saya Rp. 50 juta. “Sebulan akan saya kembalikan dengan bunga 2,5%”, katanya. Itu senilai kira-kira Rp. 1, 25 juta.

“Saya nggak biasa membungakan uang”, kata saya.

“Sebaiknya order saya yang sedang diproses itu saya bayar lunas aja. Sebagai kompensasinya, saya minta diskon 3% aja”, jawab saya.

Karena kepepet, permintaan saya itu diluluskanya. Setelah dihitung-hitung penghematan yang saya dapatkan mencapai Rp. 4 jutaan. Satu unit PC saya dapatkan dari hasil negosiasi ini.

Terakhir, kemarin saya juga melakukan negosiasi harga dengan sahabat saya, Pak Iim yang baru saja memasang beberapa unit PC di kantor saya. Thanks ya bro…. hehe….

Salam FUUNtastic!

Wassalam,

Roni, Owner Manet Busana Muslim, Founder Komunitas TDA

NB: Wow, tinggal 40 seat lagi di Milad II TDA, kata Pak Faif, ketua Panitianya. So, bagi yang berminat, buruan ya. Sebelum kehabisan….

NB 2: Profil Pak Iim dan Pak Wuryanano ada di majalah DUIT! edisi terbaru. Jangan ketinggalan informasi. Segera dapatkan majalahnya.

Post to: delicious, Digg, ma.gnolia, Stumbleupon

Mengambil Risiko

Comments Roni Yuzirman — January 6, 2008 / 7:24 pm

Sewaktu masih kecil, kita melompat ke kolam tidak peduli kita dapat berenang atau tidak.

Kita tidak kenal takut.

Jika tidak berenang kita akan tenggelam.

Sebelum usia tiga puluh, kita mengalami berbagai hal penting yang membentuk sisa hidup kita.

Yang pertama adalah:

Kita sadar akan diri kita sendiri dan pada pemikiran kita sendiri. Kita mencapai usia yang penuh pertimbangan.

Yang kedua adalah:

Dalam kematangan kita yang baru, kita mulai berpikir secara lebih dewasa.

Kita menjadi orang dewasa.

Kecerobohan dan risiko tidak sejalan dengan usia.

Risiko menjadi sesuatu yang harus dipertimbangkan masak-masak.

Tulisan di atas saya kutip dari buku Whatever You Think, Think The Opposite karya Paul Arden di halaman 36.

Tulisan itu “nendang” saya banget.

Saat ini saya cenderung hati-hati mengambil langkah dalam berbisnis. Pengalaman nyaris bangkrut di tahun 2003 itu masih menjadi momok buat saya. Bayangkan, hasil jerih payah selama 3 tahun itu habis dan saya harus memulainya lagi dari awal.

Meskipun akhirnya bisa bangkit dari keterpurukan itu, tapi sisa pengalaman pahit itu terus terang masih tertinggal dan menyisakan trauma yang sulit dihilangkan.

Saya menjadi lebih hati-hati dalam mengambil keputusan bisnis.

Jeleknya, pengambilan keputusan jadi lambat dan bahkan tidak diambil. Lewatlah peluang itu…

Saya selalu mengecek berulang-ulang kepada istri dalam setiap pengambilan keputusan. Padahal secara rasional, risiko itu tidaklah berbahaya. Tapi, ya itu tadi, sisa trauma itu sulit dihilangkan.

Nah, mumpung masih di awal tahun dan diingatkan lagi oleh buku itu, insya Allah tahun ini saya bertekad akan lebih banyak lagi mengambil risiko.

Satu lagi kutipan menarik dari Palu Arden: It’s not how good you are. It’s how good you want to be.

Salam FUUUNtastic!

Wassalam,

Roni, Owner Manet Busana Muslim, Founder Komunitas TDA

NB: Tulisan ini terkait dengan sebuah objek properti yang sedang saya timbang-timbang. Beli nggak, beli enggak, beli enggak. Tahun 2005 lalu saya pernah melewatkan sebuah peluang properti dahsyat yang saya sesali sampai sekarang.

NB 2: Selamat ya Pak Faif. Satu lagi prestasi telah ditorehkan oleh member TDA. Saya merasa bahagia dan bangga. Kalau dulu anda banyak mendapat inspirasi dari TDA, sekarang anda telah menjadi salah satu inspirator bagi kita semua. Silakan baca ceritanya Pak Faif di sini.

NB 3: Selamat juga kepada Bu Yulia dan Bu Widya, dua orang member TDA yang baru berkenalan saat halal bihalal kemarin dan sepakat mengikat janji dalam sebuah kerja sama bisnis. Selamat. Saya bangga. Ini adalah buah dari kebersamaan di TDA. Jargon TDA seperti “Silaturahmi Membawa Rezeki”, “Take Action Miracle Happen”, “Bersama Menebar Rahmat” telah terbukti. Begitu juga dengan cerita Pak Bambang di sini. I’m truly happy dengan semua perkembangan ini. Spirit TDA sudah menyebar ke mana-mana. Alhamdulillah.

Post to: delicious, Digg, ma.gnolia, Stumbleupon

Komunitas TDA, Sebuah Analisis dengan Teori Carl Rogers

Comments Roni Yuzirman — January 3, 2008 / 8:10 pm

“Mas Roni, Mas Eko terima kasih atas bantuannya dalam pembuatan tugas ini. Maaf sekali saya baru memberitahu hasilnya sekarang maklum tugas kuliah sangat banyak di UI. Btw tugas analisis komunitas dengan teori kepribadian ini baru saja keluar nilainya lho dan saya mendapat nilai 80 :) Untuk keseluruhannya, saya mendapat nilai A- dalam mata kuliah psikologi kepribadian II. Tanpa bantuan Mas Roni dan Mas Eko serta komunitas TDA, saya belum tentu mendapat nilai sebaik ini. Terima kasih sekali lagi atas bantuannya, Mudah2an komunitas TDA dapat terus maju dan meningkatkan kesejahteraan seluruh anggotanya :)”

Demikian kutipan email yang saya terima dari sdr Ricci Saadi Wijaya, mahasiswa Fakultas Psikologi UI yang menjadikan TDA sebagai objek analisisnya dalam sebuah tugas kuliah.

Berikut ini adalah kesimpulan dari karya tulis tersebut:

Komunitas Bisnis Tangan Di Atas merupakan sebuah komunitas yang bercirikan kebersamaan dan action oriented.

Di dalam komunitas ini terdapat beberapa karakteristik komunitas yang sesuai dengan teori Carl Rogers yaitu actualizing tendency, organismic valuing, unconditional positive regard, positive self regard, ideal self, real self, self actualization, fully-functioning person.

Secara keseluruhan komunitas ini merupakan komunitas yang memberikan community centered therapy bagi anggotanya khususnya dalam bidang bisnis.

Mereka secara bersama-sama memberikan dukungan dan perhatian antara sesama anggotanya sehingga diharapkan seluruh anggota komunitas tersebut dapat mengakualisasikan dirinya menjadi seorang “enlightened millionaire”.

Salam FUUUNtastic!

Bersama TDA Menebar Rahmat

Wassalam,

Roni, Owner Manet Busana Muslim, Founder Komunitas TDA


Post to: delicious, Digg, ma.gnolia, Stumbleupon

Kunci Sukses di Tahun 2008 Menurut Donald Trump

1 comment Roni Yuzirman — January 2, 2008 / 7:07 pm

Ini postingan terdahsyat yang saya temukan kemarin dari Donald Trump.

Makanya, sayang juga kalau hanya saya nikmati sendiri saja.

Meskipun istilah “think big” ini sering lewat di kuping kita, tapi memang harus diingatkan terus.

Apalagi kalau orang yang mengingatkannya adalah dari pelakunya sendiri. Sudah proven.

Think big.

Think big.

Think big.

But, act small first…

Oya, ada buku menarik yang lagi saya baca terkait topik ini. Judulnya Think Big Act Small dari Jason Jennings terbitan BIP.

Silakan dibaca tulisan asli dari sang maestro property di bawah ini:

To make 2008 your most successful year ever . . . Think big!

When you were a child, would you have liked to keep crawling, when everyone else was walking? I don’t think so.

We all have to start with small steps, but the point is:

Get to the biggest steps you’re capable of taking.

Thinking small will limit your potential. Thinking big will take you places. Thinking big can get you to the top, and I can tell you, it’s not lonely up here.

Successful people like challenges. It’s our nature. Keep in sync with this basic premise, and you’ll begin moving forward with the momentum necessary for great achievement.

Striving from an early age is one secret to success. I learned to work hard from an early age, trying to catch up with my father who was a very successful developer. But you can keep striving no matter what your age or accomplishments.

These three concepts will guide you:

1. Ask yourself why your plans are so small. Then begin to expand your horizons.

2. Concentrate on managing your future, not your past. Learn from the past, but don’t stay there.

3. Look at the solution. Don’t focus on the problem.

The faculty and staff of Trump University join Donald J. Trump in wishing you the most successful year ever.

Semoga bermanfaat…

Salam FUUUNtastic!

Think Big, But Act Small….

Wassalam,

Roni, Owner Manet Busana Muslim, Founder Komunitas TDA

NB - Baru aja saya posting, ada lagi tambahan 20 Tips Sukses Pilihan dari Donald Trump. Seru banget. Ini dia:

1. Think big

2. Be positive

3. Follow your passion

4. Learn something new every day

5. Listen to your gut

6. Be patient

7. Put a great team behind you

8. Put beauty in everything you do

9. Learn to negotiate, because everything you want demands it

10. Always go for the biggest win possible

11. Invest in real estate because it is the best investment there is

12. Take risks

13. Be audacious and get into the public eye

14. Be your own brand

15. Enjoy doing some work seven days a week and on vacations*

16. Say no

17. Get out of your comfort zone

18. Be stubborn when necessary

19. Always have a Plan B

20. Never settle for second best

* tips nomor 15 itu yang masih berat untuk saya praktekkan….

Post to: delicious, Digg, ma.gnolia, Stumbleupon

Jangan Remehkan Bisnis Recehan

1 comment Roni Yuzirman — December 30, 2007 / 11:25 am

Demikian kata-kata yang saya ingat dari kawan saya, Pak Valentino Dinsi saat mengisi ceramah motivasi entrepreneurhip di Masjid Sunda Kelapa tahun lalu.

Sampai sekarang kata-kata itu masih saya ingat.

Ia memberi contoh tentang bisnis yang sedang dibangunnya saat itu. Jaringan gerobak mie ayam.

Jualan mie ayam adalah bisnis informal, bisnis yang dapat duitnya recehan. Satu gerobak, paling-paling omzetnya 100-300 ribu per hari.

Tapi, bayangkan kalau ia punya jaringan 1.000 outlet. Kalikan saja. Sekitar 100-300 juta per hari omzetnya.

Jangan remehkan bisnis recehan, katanya. Lihat potensi “faktor kalinya”.

Kenapa saya tertarik menulis bisnis recehan seperti ini?

Ya, karena sekarang ini saya juga lagi mulai bisnis skala “recehan”. Ya, itu jualan tas laptop Deuter. Hasilnya menurut saya masih termasuk recehan.

Sehari bisa laku 1-2 pcs. Dapat untung 50-100 ribuan. Lumayan. Buat nambah-nambah uang dapur. Hehe…

Tapi saya seneng aja. Excited. Saya suka mencoba hal-hal baru seperti ini.

Saya suka bertanya, bisa nggak sih? Kalau bisa, seneeng rasanya…

Kita harus bisa menghargai yang kecil-kecil dulu, sebelum menghargai yang besar.

Dari recehan 50 ribuan inilah perjalanan itu akan bergulir. Akan ke mana bergulirnya bisnis recehan ini? Nah, itulah pertanyaan yang menarik dan menantang.

Kalau mulai bisnis langsung untung jutaan sehari itu kurang seru ceritanya. Tapi kalau dimulai dari yang kecil kemudian membesar dan membesar, baru seru.

Seorang klien saya di Purbalingga memulai bisnis toko agrobisnisnya dengan keuntungan 36 ribu rupiah seharinya.

Itu sekitar 10 tahun lalu. Sekarang omzet per bulannya bisa mencapai 2-4 miliar.

Jadi, cobalah nikmati lembaran-lembaran ribuan yang kecil itu dulu. Nikmati prosesnya. Hargai uang yang “sedikit” itu. Dengan menghargai yang kecil, kita akan bisa menghargai yang besar.

Saya teringat kata-kata bijak mengenai leadership. “Orang besar dilihat dari bagaimana ia memperlakukan orang kecil”. Saya kira kata-kata ini juga berlalu di dalam berbisnis.

Salam FUUUNtastic!

Wassalam,

Roni, Owner Manet Busana Muslim

NB - Pak Jonru menulis kesaksian di blognya. Tahun 2007 ini adalah titik balik dalam perjalanan hidupnya. Dan ia berani mengatakan bahwa “hampir semua orang yang berpengaruh besar terhadap hidup saya di sepanjang tahun 2007 adalah sahabat-sahabat saya dari komunitas TDA“. Silakan baca cerita selengkapnya di sini.

NB 2 : Ryad Kusuma: “Memang di TDA itu enaknya bisa dapat banyak ide”.

Post to: delicious, Digg, ma.gnolia, Stumbleupon

Investasi Terbaik 2008

Comments Roni Yuzirman — December 9, 2007 / 6:41 pm

Bukan di bisnis.

Bukan di saham.

Bukan di properti.

Bukan di reksadana.

Bukan di option.

Jadi, apa investasi terbaik di 2008?

YOU.

Invest in YOU.

Berinvestasilah untuk diri sendiri.

Investasikanlah uang, pikiran dan waktu anda untuk wilayah “leher ke atas”.

Bentuk daya ungkit (leverage) paling hebat yang kita miliki terdapat dalam kekuatan pikiran anda, kata Robert Kiyosaki dalam buku Retire Young Retire Rich.

Aset terbesar anda adalah pikiran anda kata Robert Allen dalam buku One Minute Millionaire. Thoughts become things.

Ini adalah aset yang tidak akan bisa dicuri oleh orang lain.

Berinvestasi untuk diri sendiri bisa jadi dengan memperpanjang pendidikan, mengikuti kursus atau workshop, seminar, mengambil sertifikasi lebih tinggi.

Berinvestasi untuk diri sendiri bisa jadi dengan membaca buku, majalah, jurnal, mendengarkan kaset pengembangan diri atau browsing situs-situs bermanfaat.

Berinvestasi untuk diri sendiri bisa juga dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan berkualitas, mengamati segala sesuatu, bergaul dengan para pemenang atau lingkungan yang positif.

Tentunya jangan lupa juga berinvestasi untuk jiwa kita. Berinvestasi juga untuk kesehatan kita.

Pokoknya, berinvestasilah untuk terus menerus memperbaiki diri. Pakai prinsip CANI dari Anthony Robbins itu, yaitu Constant And Never-ending Improvement.

Isn’t that interesting?

Yuk, kita berinvestasi untuk diri kita sendiri dulu….

Salam FUUUNtastic!

Wassalam,

Roni, Owner Manet Busana Muslim

NB - Besok insya Allah ibu dan adik saya akan berangkat menunaikan rukun Islam kelima, yaitu berhaji ke tanah suci. Mohon doanya dari pembaca sekalian agar diberi segala kemudahan dan menjadi haji yang mabrur.Terima kasih.

NB 2 - Alhamdulillah, web TDA versi baru sudah online beberapa hari ini. Sudah 300 lebih member yang mendaftar ulang di sana. Mohon saran dan kritikan dari anda. Ini baru soft launching, grand launchingnya sendiri nanti di acara Milad 2 TDA. Silakan baca berita lebih lengkap di sini.

NB 3 - Ini ada cerita dari teman TDA yang berhasil meraih 4 dari 5 resolusi yang ditulisnya untuk tahun 2007 ini. Bagaimana ceritanya? Silakan baca di sini.

Post to: delicious, Digg, ma.gnolia, Stumbleupon

LOCAL SEARCH

Search only in this blog

GLOBAL SEARCH

Search across Asia Blogging Network

GLOBAL UPDATES

FEATURED POSTS

CHANNEL

COLUMN

More? Go to Asia Blogging Network Column section.

COMMENT

  • endrian — selamat siang saya endrian saya lagi membuka usaha ondedil baru dan bekas otomotif. tolong minta kontak person di Pt kopinkra ...
  • afriyan_Batam Island — salam kenal. wah, saya sangat tertarik dengan ceritanya. jujur, bagus banget untuk membuka usaha bertani cebe. dari pada kita harus bekerja di ...
  • ari — apakah kita bisa sling tukar pengalaman dan menjadi rekan bisnis?kunjungi blog saya ari-craft.blogspot.com
  • Yanti — Saya sdh menjadi agen di daerah sy (Indonesia Timur). Dan menjadi berkah bagi keluarga kami. Trimakasih Bu Indah dan ...
  • dede arif — minta tips buat bikin sepatu lukis please...?? cat ap yg bagus buat sepatu lukis...??
  • teti — dimana saya bisa mendapatkan warung rumah dengan cara mencicil?
  • christian adi — salah satu alasan kenapa bangsa Indonesia tidak maju adalah karena masih terjebak dalam mental inlander sebagai bangsa yang terjajah, masih ...
  • sandrar — Hi! I was surfing and found your blog post... nice! I love your blog. :) Cheers! Sandra. R.
  • sutanto — kalo pengen menghubungi ibu dwi lestari gimn caranya ya?
  • Habib — saya kemarin sudah pernah k t4 pak ratijo dan sudah bertanya". sekarangpun saya sudah mulai mencoba untuk budidaya jamur yg ...