You're here: My Business Blogging » Bursa Efek & Pasar Uang » Article: Saham bermasalah ikut mendongkrak pergerakan IHSG
Meskipun sempat melemah pada sesi perdagangan senin, 16 Juli 2007, namun prestasi Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Jakarta selama separuh tahun 2007 ini layak mendapatkan acungan jempol. Hal ini dikarenakan sejak awal tahun 2007 hingga akhir pekan lalu, IHSG sudah mengalami kenaikan hingga mencapai 27,48% dan juga berhasil menembus level psikologis diatas 2.300.
Ditengah gairah menggeliatnya pasar modal, ternyata ada fakta yang cukup mengejutkan dan kurang menggembirakan, dimana dari daftar 10 saham yang berhasil membukukan kenaikan harga tertinggi (top gainers) di tahun ini ternyata dimiliki oleh saham-saham emiten dilapis kedua dan ketiga. Ironisnya lagi adalah sebagian besar saham-saham tersebut pernah bermasalah, dimana BEJ pernah menghentikan perdagangan (suspend) sebagian saham-saham tersebut.
Saham-saham tersebut diantaranya adalah saham PT Integrasi Teknologi Tbk, PT ATPK Resources Tbk, PT Sona Topas Tourism Industry Tbk, PT AGIS Tbk, PT FKS Multi Agro Tbk, PT Hortus Danafest Tbk, PT Dayaindo Resources Tbk, PT Dyviacom Intrabumi Tbk, PT Kridaperdana Indahgraha Tbk, dan terakhir adalah saham PT Delta Dunia Petroindo Tbk.
Hingga saat ini i, saham empat emiten yang terdiri atas saham PT AGIS Tbk, PT FKS Multi Agro Tbk, PT Dayaindo Resources Tbk dan PT Kridaperdana Indahgraha Tbk masih di suspend oleh BEJ, sedangkan kasus yang paling heboh adalah skandal saham PT AGIS Tbk yang sempat membuat PT Kuo Capital gagal bayar sekitar Rp 90 miliar (www.kontan-harian.co.id).
Meningkatnya keuntungan dari saham-saham tersebut biasanya lebih dikarenakan mengumbar janji semata tanpa ada realisasi yang nyata, akibatnya akan terjadi kebohongan publik yang pada akhirnya akan mencoreng muka BEJ karena mengambil kesempatan dalam kondisi pasar modal yang sedang bergairah saat ini.
Post to: delicious, Digg, ma.gnolia, Stumbleupon
Search only in this blog
Search across Asia Blogging Network
More? Go to Asia Blogging Network Column section.
A feed could not be found at http://3gweek.net/feed/
A feed could not be found at http://feeds.feedburner.com/transjogja
Ikuti diskusi Ada 2 komentar untuk artikel ini.
FARHAN
DALAM HAL INI SAYA BERHARAP PIHAK BURSA EFEK JANGAN PERNAH MAU DI PERMAINKAN OLEH PIHAK PERUSAHAAN YANG SANGAT NAKAL DALAM URUSAN GORENG MENGGORENG HARGA SAHAM INI SANGAT RISKAN SEKALI KARENA KOK BISA BEJ KOK BISA KECOLONGAN
June 17th, 2008 at 12:48 pm
Dara Nuri Andriani
Agis Akuisisi Comstar dan Erafone
JAKARTA – PT Agis Tbk segera merealisasikan akuisisi Comstar Mobile Pte Ltd dan PT Erafone Arta Retailindo. Aksi perusahaan PT Agis Tbk yang bergerak dalam bidang distribusi elektronika ini dijadwalkan bisa selesai pada bulan Januari 2009 ini.
Demikian dikemukakan oleh Samuel A. Lorenzo, President PT Agis Tbk di Jakarta, setelah melakukan kegiatan public expose.
Adapun total saham yang akan dibeli adalah 30% saham Comstar senilai Rp 530 miliar dan 30% saham Erafone senilai Rp 10 miliar. Sedangkan daya yang akan digunakan untuk membeli saham perusahaan tersebut dihimpun dari dana hasil Penawaran Umum Terbatas (PUT) III senilai Rp 700 miliar yang telah diperoleh tahun 2008.
Menurut Samuel, dengan aksi perusahaan akuisisi tersebut maka kinerja PT Agis Tbk akan langsung meningat karena menambah lebih dari 100 outlet handphone. Selain itu, PT Agis Tbk juga memiliki hak distribusi untuk handphone bermerek Nokia, Sony Erickson, dan Samsung untuk kawasan Asia Pacifik (termasuk Indonesia).
Dia menjelaskan, Comstar adalah perusahaan yang bergerak di bidang distribusi handphone, sedangkan Erafone bergerak di bidang perdagangan ritel handphone. “Dengan adanya akusisi ini tentunya kinerja perusahaan di masa mendatang akan menjadi lebih baik,” katanya.
Samuel mengakui terjadi perubahan strategi investasi yang dilakukan perusahaanya. Sebelumnya PT Agis Tbk berencana untuk mengembangkan investasi untuk memperbesar bisnis mereka di multimedia dan elektronik seperti menambah jumlah gerai atau membangun gerai baru. “Tapi setelah kita lakukan berbagai studi, lebih baik kami investasi dengan bisnis yang sudah ada, sehingga resiko bisa kita minimalisasi bahkan bisa meningkatkan produktifitas menjadi lebih baik lagi,” jelasnya. (***)
January 8th, 2009 at 8:48 pm