You're here: My Business Blogging » Bursa Efek & Pasar Uang » Article: Dolar Amerika Serikat (AS) kembali terdepresiasi
Setelah berada pada kisaran Rp. 9.075,-/ Rp. 9.093,- per dolar Amerika Serikat (AS) senin kemarin (23/07/07), pada penutupan pasar spot antar bank Jakarta Selasa sore ini (24/07/07) rupiah akhirnya mengalami sedikit apresiasi terhadap dolar AS hingga berada pada kisaran Rp. 9.043,-/ Rp. 9.045,-.
Menurut Direktur Retail Banking PT Bank Mega Tbk, Kostaman Thayib, penguatan rupiah merefleksikan bahwa pelaku pasar makin aktif membeli rupiah ketimbang dolar AS. Selain itu hal ini juga terjadi karena melemahnya dolar AS terhadap Yen Jepang sehingga pada akhirnya ikut juga mendorong pelaku lokal memburu rupiah (www.antara.co.id).
Melemahnya sektor properti serta merosotnya nilai obligasi di AS menumbuhkan rasa kekhawatiran para pelaku pasar terhadap menurunnya pertumbuhan ekonomi di AS, sehingga menjadikan dolar AS terdepresiasi terhadap beberapa mata uang negara Asia
Menghadapi kondisi tersebut, para pelaku pasar memperkirakan bahwa bank sentral AS (The Fed) akan menurunkan tingkat suku bunganya guna mendorong pertumbuhan ekonomi di AS ke arah yang lebih baik lagi.
Selain kondisi eksternal di AS, menguatnya rupiah juga disebabkan oleh kondisi internal pasar modal di Indonesia, dimana Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Jakarta (BEJ) pada perdagangan sore tadi (24/07/07) terus mengalami rebound hingga ditutup menembus level 2,401.144 (www.jsx.co.id).
Post to: delicious, Digg, ma.gnolia, Stumbleupon
Search only in this blog
Search across Asia Blogging Network
More? Go to Asia Blogging Network Column section.
Ikuti diskusi, tuliskan komentar Anda.